Ziarah Koptik Mesir ke Yerusalem: Normalisasi atau Ritual Keagamaan?

Di bawah bayang-bayang situasi yang terjadi di Palestina, beberapa bahaya besar beterbangan di sekitarnya, yang paling besar adalah Deklarasi Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem terjajah sebagai ibukota Israel, yang ini telah menyalakan api kemarahan rakyat Palestina dan Arab, dan kali ini gereja Koptik di Mesir meluncurkan ziarah haji ke Yerusalem, menjadi preseden yang berbahaya yang disaksikan Yerusalem sejak tahun 1967.

Baru-baru ini, ribuan pemeluk Kristen Mesir diizinkan untuk melaksanakan haji dan berziarah tanpa batas atau syarat, melalui Bandar Udara Ben Gurion, dalam perjalanan wisata yang disupervisi oleh perusahaan-perusahaan pariwisata swasta Mesir, setelah mendapat banyak fasilitas yang diberikan kepada mereka.

Sejak tahun 1967, gereja Kristen di Mesir, melakukan banyak pembatasan kepada pemeluk Kristen untuk berziarah ke tempat-tempat suci di bumi Palestina yang terjajah, sampai Sinode Kudus yang dipimpin oleh Paus Shenouda pada tahun 1980 menerbitkan keputusan yang melarang perjalanan ke Israel.

Keputusan yang mencegah ziarah pemeluk Kristen ke tempat-tempat suci itu, merupakan bentuk penolakan kebijakan Israel terkait tempat-tempat suci bagi umat Kristen dan Muslim, terutama setelah Israel mengambil alih biara Al-Sulthan  yang dimiliki oleh Gereja Koptik.

Dan telah terjadi peningkatan jumlah wisatawan dari Mesir ke Israel sejak awal tahun ini, di mana jumlah penumpang, di sejumlah penerbangan pada awal April tahun ini, mencapai 1.000 orang.

Peningkatan ini diikuti kunjungan oleh Paus Twadros II, Patriark Koptik ke Yerusalem, pada November 2015, untuk berpartisipasi dalam pemakaman Uskup Abraham, Uskup Agung Yerusalem dan Timur Dekat.

 

Apakah ini normalisasi?

“Pusat Informasi Palestina,” mewawancari Pop Manuel Muslim,  seorang pemuka agama Kristen, dan anggota Dewan Islam-Kristem bagi dukungan Tempat-tempat Suci, menegaskan penolakan normalisasi dengan Penjajah Israel dalam semua segala bentuknya.

Muslim mengatakan: “Sekarang saya adalah orang Kristen Palestina, saya menolak untuk menjadi bagian dari 100% bahkan walau hanya seperempat dari 1 persen, normalisasi dengan Israel.”

Dia menjelaskan bahwa kota Yerusalem dan tempat-tempat sucinya adalah milik seluruh dunia, ujarnya: “Ada garis tipis antara makna spiritual dan politik, dan garis ini kami sebagai pemeluk Kristen Palestina, berkewajiban kepada orang-orang yang sampai kepada kami untuk berziarah atau kepada siapa saja yang kami bisa mencapainya dengan kaki-kaki kami atau lisan-lisan kami atau tulisan-tulisan kami, kami sampaikan kepada mereka tentang penderitaan rakyat kami dan ketidakadilan yang ditimbulkan kepada kami dan semua bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh Penjajah. “

Dia menyatakan keterkejutannya pada kontradiksi dalam kebijakan resmi Otoritas (Palestina) yang di satu sisi mencegah normalisasi sementara Otoritas Palestina Presiden Mahmoud Abbas dan Gerakan Fatah menyerukan kepada komunitas Kristen dan asing untuk mengunjungi tempat-tempat suci (di Yerusalem).

Muslim menyebutkan bahwa semua warga Kristen Arab berada bersama saudara mereka bangsa Arab Palestina; sebagai satu tubuh, satu tangan, satu senjata, satu perlawanan, dan satu bangsa, karena kita semua berada di bawah satu penjajahan, katanya.

Dia menambahkan: “Kami rakyat Palestina, dengan semua kekuatan kami berkumpul dan bersatu dengan bangsa kami dan denganberbaur bersama mereka, dan nasib kami adalah nasib mereka, dan kematian kami juga kematian mereka, dan negeri kami jua negeri mereka,” sambil menunjukkan bahwa gereja berdiri tegak pada kondisi pemeluk Kristen ditanah air Palestina, dan bekerja untuk mengorganisir delegasi yang mengunjunginya, dan menunjukkan mereka kepada dampak-dapak Penjajahan Israel.

Muslim memperingatkan pentingnya untuk tidak memisahkan antara Kristen Arab dan Muslim Arab di Mesir dalam ucapannya: “Negara adalah satu hal dan rakyat adalah hal lain, dan negara memiliki kepentingan, akan tetapi manusia selalu siap untuk mencapai perizinan agar bisa sampai ke tempat-tempat suci dan beribadah di dalamnya.”

Dia menekankan bahwa perlu disampaikan pesan kepada pemeluk Kristen yang berziarah bahwa negeri Palestina dihina dan bahwa dunia Kristen seharusnya tidak boleh meninggalkan Yerusalem. “Ini memalukan.”

 

Manfaat Bagi “Israel”!

Osama Salama, seorang penulis dan wartawan Mesir memandang bahwa ada orang-orang Koptik yang berkeyakinan tidak perlunya ada hubungan gereja dengan politik, dan bahwa ziarah ke tempat-tempat suci Kristen tidak berarti normalisasi dengan Israel, seperti yang dituntut rakyat Palestina, untuk mendukung mereka dalam menghadapi Israel.

Sementara sang penulis Osama menjelaskan dalam sebuah artikel berjudul “Apakah Gereja masih menolak bagi orang-orang Koptik untuk melakukan ziarah ke Yerusalem?” Ada orang yang percaya ada perbedaan besar antara sikap politik dan nasional, dan bahwa dibolehkannya ziarah dalam jumlah besar melemahkan kesempatan Gereja dalam mengambil kembali biara Al-Sultan.

Dia memperingatkan bahwa ini dapat menghanguskan kertas negosiasi dengan pihak Otoritas Israel dalam pemulangan kembali Biara Al-Sultan.

Dia mengatakan: “ziarah-ziarah pemeluk Kristen Barat ke Yerusalem tidak mencegah Israel dari menyerang situs-situs suci Kristen, terakhir beberapa minggu lalu ketika Israel memungut pajak yang sangat besar kepada  gereja-gereja, yang membuat kelompok-kelompok Kristen menutup pintu-pintu Gereja Al-Qiyamah, sebagai protes atas sikap keras Otoritas Israel, yang kemudian terpaksa harus menunda penerapan hukum pajak itu.

Dia menekankan bahwa ini berarti bahwa ziarah-ziarah tidaklah menghentikan perencanaan Israel, dan karena itu ziarah-ziarah orang Kristen Mesir ke Yerusalem akan menguntungkan Israel, dan tidak akan menguntungkan rakyat Palestina (i7)

Sumber: www.palinfo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *