Yusuf Sang Penakluk

Yusuf bin Ayyub, Abu al-Muzhaffar Shalahuddin al-Ayyubi.

Namanya bertahan lebih dari 830 tahun. Dia yang taklukkan sang penakluk (al-Qâhirah), kota baru bernama Cairo yang dibangun Panglima Jauhar ats-Tsaqiliy untuk dijadikan sebagai ibukota Dinasti Fatimiyah. Tadinya, ibukota Mesir adalah Fustat, sejak Amr bin Ash memasuki Mesir.

Saat Fatimiyah berkuasa, di sebelah Timur Laut Fustat dibangun kota baru yang menjadi jantung kekuasaan. Khalifah al-Muiz li Dinillah lah yang menamakan kota itu dengan al-Qahirah, pada 11 Juni 972 M. Tahun 1168 M Fustat dibumihanguskan sebagai strategi menahan Pasukan Salib. Al-Maqrizy menggambarkan suasana kota yang mencekam setelah dibakar selama 45 hari. Sepi, lengang, tak bertuan, padahal tadinya menjadi pusat kekuasaan.

Tiga tahun berikutnya (1171 M) Shalahuddin menaklukkan Cairo dan mengakhiri kepemimpinan Dinasti Fatimiyah, sekaligus menjadi tanda berdirinya Dinasti Ayyubiyah. Shalahuddin segera membangun benteng-benteng yang melindungi Mesir dan Cairo dari serangan pasukan salib. Benteng megah dengan perencanaan supercerdas itu bukan hanya menjadi tembok kokoh, namun difungsikan sebagai supplier air bersih untuk para penduduk. Paduan benteng dan saluran air itu memanjang, mengelilingi kota Cairo. Sebagian benteng  dan sumur tua tersebutbisa dilihat di Qal’ah Shalahuddin (Saladin Citadel) yang terletak di kawasan al-Abaqea, Cairo.

Shalahuddin tak hanya berbekal tentara untuk menaklukkan Cairo dan Dinasti Fathimiyah. Mesir ditundukkan dengan kekuatan pribadinya, sebelum tentaranya. Rakyat menjadi padu bersamanya melawan gempuran dahsyat Pasukan Salib ke Mesir. Dan tak mampu –bahkan- injakkan kaki lama-lama di bumi para nabi tersebut. Shalahuddin bersama rakyat Mesir gagalkan ekspansi salibis.

Yusuf muda, taklukkan kota penakluk dengan akhlak dan karakternya yang kuat dan berpengaruh. Hal yang sama ia lakukan saat menaklukkan Damaskus. Cairo dan Damaskus adalah dua kota penting yang menjadi gerbang penaklukan Masjid al-Aqsha. Kemudian, perang puputan di Hithin, 4 Juli 1187 M menjadi mimpi buruk bagi pasukan Salib yang menguasai Masjid al-Aqsha dan Jerusalem. (baca: https://www.aspacpalestine.com/id/item/736-para-inspirator)

Pasca kemenangan di Hithin memberikan suntikan mental bagi umat Islam sekaligus tekanan psikis yang buruk bagi aliansi pasukan salib. Terlebih dengan terbunuhnya tak sedikit dari pasukan elit mereka (Ksatria Templar). Selanjutnya Shalahuddin lebih intensif melakukan strategi penguasaan daerah yang mengelilingi Jerussalem (Al-Quds). Dalam waktu singkat, berturut-turut kota-kota yang ditaklukkan Shalahuddin: Asqalan, Akka, An-Nashirah, Haifa, Nablus, Denin, Bisan, Yafa, Beirut, Ramallah, Betlehem, al-Khalil.

Kabar kemenangan Shalahuddin semakin membuat Jerusalem gempar. Al-Quds yang selama 88 tahun di bawah kekuasaan dan kendali Kristen semakin menyadari detik-detik akhir kekuasaannya. Akhirnya, pada tanggal 2 Oktober 1187 M, Masjid al-Aqsha kembali ke pangkuan umat Islam.

Sejak tahun 1948 sampai saat ini Masjid al-Aqsha, Jerusalem dan Palestina diduduki dan dijajah oleh Zionis Israel. Sudah 69 tahun lamanya, umat Islam merindukan kembalinya masjid suci tersebut ke tangan umat Islam.

Siapa yang bersedia menjadi Yusuf-Yusuf sang penakluk itu? Atau setidaknya melahirkan dan membesarkannya, menyiapkannya memasuki kota Jerusalem dengan penuh izzah seperti 830 tahun yang lalu.

Mulailah proyek penaklukan itu dari diri dan keluarga. Jangan katakan itu menjadi garapan anak cucu kita, karena jika itu yang kita lakukan maka takkan berujung menjadi kenyataan. Namun, jika kita bertekad kitalah yang menjadi Yusuf Shalahuddin, bisa jadi kalau tak terwujud anak cucu kitalah yang meneruskannya. AlLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 71

Jakarta, 02.10.2017

SAIFUL BAHRI

*) Dedicated to Shalahuddin al-Ayyubi. Mengenang al-Fathu ash-Shalâhy (02.10.1187 M/27.07.853 H)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *