Warga Yerusalem Tolak dan Tidak Ikut Dalam Pilkada Yerusalem

Oleh: Mustafa Sabri

Persiapan pilkada kota Yerusalem yang terjajah, yang sedianya akan diselenggarakan pada bulan Oktober akan dimajukan lebih awal. Otoritas Penjajah telah memasang di seluruh penjuru kota spanduk-spanduk besar pilkada yang digantung di berbagai lokasi di seluruh penjuru kota Yerusalem yang terjajah dan juga di Kota Tua.

Warga Yerusalem menolak untuk berpartisipasi dalam pilkada kotamadya ini karena menganggapnya sebagai pemilu yang akan memberikan legitimasi kepada Penjajah terhadap kota mereka yang dijajah.

Dr. Jamal Amr mengatakan dalam sebuah wawancara: Kami menyaksikan spanduk-spanduk pilkada yang besar milik para kandidat dalam pilkada  Yerusalem yang dijajah. Persoalan ini bagi warga Yerusalem merupakan hal yang telah disepakati bersama atau konsensus untuk tidak memberikan hak suara meski dengan imbalan dan godaan yang diberikan kepada warga sebagai imbalan agar mereka berpartisipasi dalam proses pilkada untuk pemilihan wakil-wakil dari partai-partai Zionis dan keagamaan yang ekstrim. Tujuan dari penjajah melakukan propaganda pemilu di berbagai kelurahan atau desa di Yerusalem, yang masih terus dikepung oleh pos-pos pemukiman Zionis. Tidak ada satupun desa atau kelurahan Yerusalem yang menerima hal ini, karena ini merupakan pesan yang amat jelas kepada dunia pasca keputusan Trump, disampaikan pesan yang jelas kepada dunia setelah keputusan Trump bahwa Yerusalem adalah milik orang Yahudi

Dia menambahkan: jika ada diantara warga Yerusalem yang turut serta maka dia dipandang di masyarakat Yerusalem sebagai orang yang patut dicurigai dan dibuang dan tidak lagi memiliki keterkaitan dengan masyarakat. Oleh karenanya, kami melihat pemboikotan terjadi hampir keseluruhan meski partai-partai Zionis dan keagamaan menggunakan berbagai cara untuk mengintimidasi dan membujuk. Oleh karenanya saat ini warga Yerusalem sedang menghadapi serangkaian tekanan dari seluruh sayap institusi politik dan keamanan negara Yahudi itu.

Haj Khaled Siouri “Abu Hussein” (61 tahun) termasuk penjaga tertua Masjid Al Aqsa mengatakan dalam saluran telepon: Kami di Yerusalem, menolak segala bentuk urusan dengan Penjajah yang lalim terhadap kota kami. Dan pilkada kotamadya ini merupakan bagian dari kebijakan berbahaya yang dimaksudkan untuk memikat warga Yerusalem kepada pemilu. Ini dimaksudkan untuk memasang kaki tangan mereka di kota ini dan memasarkannya ke seluruh dunia bahwa di ibukota mereka ini telah turut serta dalam pilkadanya semua kelompok keagamaan di kota ini. Dan ini tidak akan pernah terjadi. Karena, keputusan warga Yerusalem muncul dari dari kesadaran penuh atas bahaya yang ditimbulkan dari keikutsertaan ini terhadap masa depan keagamaan dan yang pertama adalah Masjid Al-Aqsha yang merupakan sasaran langsung dari otoritas kota yang rasis dimana kepemimpinannya biasanya terdiri dari lebih dari dua faksi di dalam pembentukannya.

Dr. Najih Bugerat, Kepala Akademi Al-Quran di Masjid Al Aqsa, mengatakan dalam sebuah wawancara tentang adanya fatwa keagaamaan yang mengharamkan ikut serta dalam pilkada ini dan orang yang melanggar fatwa ini dianggap sebagai pembantu penjajah. Sehingga penolakan dari warga Yerusalem masih terus berlangsung, terutama setelah paparan rencana menakutkan oleh walikota Penjajah melalui berbagai proyek yang dilakukan di sekitar Masjid Al-Aqsha dari mobil kabel udara, kereta wisata dari atas Masjid Al-Aqsha dan pemakaman Al-Rahmah dan penyitaan beberapa bagian dari pemakaman Al-Rahmah untuk dirubah menjadi taman-taman Talmud. Termasuk yahudisasi lautan dengan skema yang mengerikan. Ditambah lagi  praktek ritual walikota saat ini dengan peribadatan Talmud di atas gedung Madrasah Ashrafieh di bagian utara masjid Al-Aqsa yang terletak antara gerbang Al-Asbath dan gerbang Alghawanmeh melalui kamar yang dialokasikan khusus untuk tujuan ini dan dimana ini berdekatan dengan kubah Al-Sakhrah atau Dome of the Rock.

Seorang warga Yerusalem, Aziz Kiswani mengatakan: Setiap kali ada pilkada walikota selalu ada boikot, dan ini yang biasa dilakukan oleh warga Yerusalem yang dijajah, dan kami menerjemahkan perkara ini di tanah realitas, dan walikota menyembunyikan non-partisipasi ini dengan publikasi yang bertentangan dengan realitas yaitu bahwa pilkada diikuti oleh semua kalangan tanpa memberikan cerminan realitas pandangan masyarakat yang sebenarnya.

Dr. Jamal Amr, seorang pakar urusan Yerusalem berbicara tentang bobot pilkada warga Yerusalem,: Kita bicara tentang proporsi dengan angka mencapai 37%, dan ini amatlah signifikan bagi institusi “Israel”. Terus-menerus dilakukan upaya untuk mendorong angka ini masuk ke dalam pilkada dengan asumsi kemungkinan untuk diberikan bantuan kepada merkea. Dan hal ini amat menjadi perhatian bagi warga Yerusalem karena walikota Yerusalem diatur oleh pemerintah pusat di Negara Yahudi.

Patut diperhatikan bahwa Dr. Saeb Erekat, Sekretaris Komite Eksekutif PLO, mendesak seluruh warga Yerusalem untuk memboikot “pilkada kota Penjajah Israel” yang dijadwalkan Oktober mendatang. Memandang pengakuan AS secara unilateral dan ilegal terhadap Yerusalem sebagai ibukota “Israel”, maka partisipasi dalam pemilu akan memberikan kontribusi untuk membantu institusi “Israel” dalam mempromosikan proyek Yerusalem Akbar, dan kotamadya ” Israel “di Yerusalem  sebagai bagian dari pemerintah, dan memainkan peran terpadu secara bersama-sama bagi terwujudnya proyek pemukiman kolonial dan operasi pembersihan etnis dan membuat kehidupan warga asli Yerusalem jadi hal yang mustahil di kotanya sendiri. (i7)

———-

Sumber: www.mugtama.com, terbit: 26/06/2018, – 16:45.

,

About Kholid Abdullah

Kholid Abdullah bekerja sebagai tutor Bahasa Inggris dan Bahasa Arab di beberapa lembaga swasta. Selain mengajar, aktifitas harian yang rutin dilakukannya adalah melakukan alih bahasa dari media berbahasa Inggris dan Bahasa Arab untuk mengisi konten situs ASPAC (Asia Pacific Community for Palestine). Saat ini Kholid sedang menyusun sebuah ebook “Antologi Puisi & Nyanyian Perlawanan Palestina”. Untuk mengirim pesan kepadanya, bisa melalui email: interiorasap@gmail.com.
View all posts by Kholid Abdullah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *