Utusan AS: Rencata Selanjutnya Mengizinkan ‘Israel’ Aneksasi Tepi Barat

Duta Besar AS untuk negara Penjajah Zionis David Friedman mengatakan kemarin (08/01) bahwa langkah Amerika berikutnya, setelah mengakui Yerusalem sebagai ibu kota negara Penjajah Zionis dan kedaulatan negara Penjajah Zionis atas Dataran Tinggi Golan, adalah melakukan aneksasi terhadap Tepi Barat, demikian seperti dilansir oleh Ma’an.

Dalam konferensi pers gabungan Menteri Pertahanan negara Penjajah Zionis Naftali Bennett, Friedman mengatakan bahwa dia telah melakukan yang terbaik sejak dia menjadi duta besar untuk “memperbaiki” masalah yang masih terus mencuat pasca perang 1967.

“Sejak berada di sini, aku telah bekerja untuk menambahkan satu hal lagi ke dalam agenda yang padat: membantu menemukan perbaikan bagi masalah yang masih tersisa sejak Perang Enam Hari.”

Ada tiga masalah penting, katanya, Yerusalem, yang telah diakui AS sebagai ibu kota negara Penjajah Zionis dan telah memindahkan kedutaannya ke sana;  Dataran Tinggi Golan, daerah yang Amerika telah akui negara Penjajah Zionis berdaulat di sana; dan Tepi Barat.

“Tapi dia  tidak berdamai dengan semua orang dan ketika kami mulai menjabat, isu-isu yang tersisa termasuk tiga yang sangat penting: status 1) Yerusalem, 2) Dataran Tinggi Golan dan 3) Yudea dan Samaria. Kami telah melakukan pendekatan terhadap hal tersebut dalam urutan kompleksitas,” katanya mengacu pada Tepi Barat yang dijajah dengan nama dalam bahasa Yahudi.

Dia menyebut Tepi Barat sebagai masalah yang paling rumit karena banyaknya warga Palestina yang tinggal di sana, sambil memberi catatan bahwa AS akan mengusulkan visinya sebagai jalan keluar, merujuk kepada Kesepakatan Abad Ini.

“Itu tidak mengaburkan masalah yang sangat nyata bahwa 2 juta atau lebih warga Palestina tinggal di Yudea dan Samaria [Tepi Barat yang dijajah], dan kita semua berharap bahwa mereka hidup dengan bermartabat, dalam damai, dan dengan kemandirian, bangga, dan kesempatan. Kami berkomitmen untuk menjadikan hal-hal tersebut dapat terwujud.”

Friedman menambahkan bahwa negara Penjajah Zionis “memulihkan” itu dari Yordania pada tahun 1967 setelah dia “menjajah” negara itu selama 19 tahun.

“Yordania telah menduduki Yudea dan Samaria hanya dalam tempo 19 tahun dan hampir tidak ada yang mengakui haknya atas wilayah itu,” lanjutnya (i7).

——————-

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit: 9 Januari, 2020 jam: 09:42 pagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *