UNFORGIVEN

Pada tahun 1874 M Sultan Abdul Hamid menaiki tahta dan memerintah Kesultanan Usmaniyyah. Bersamaan dengan naiknya kemapanan eksistensi Yahudi di Perancis dan mulai menyebar ke beberapa negara Eropa lainnya. Empat tahun kemudian, 1878 M gerakan Yahudi di Rusia yang sebelumnya telah menyusup ke jantung kekuasaan membentuk sebuah organisasi yang dinamakan “Ahibba Shuhyûn” (Hibbat Zion). Dengan bekerja sama Yahudi-Yahudi Eropa mereka melobi Sultan Abdul Hamid II untuk memberikan izin bagi mereka untuk melakukan migrasi ke wilayah-wilayah Turki Usmani. Lobi ini cukup berhasil, mengingat bahwa Bangsa Rusia adalah tetangga “baik” bagi Kesultanan Usmaniyyah. Sultan Abdul Hamid II mengizinkan bangsa Yahudi untuk memasuki wilayah Turki Usmani, tetapi beliau mengecualikan wilayah Palestina. Orang-orang Yahudi dilarang keras untuk bepergian apalagi migrasi ke wilayah Palestina.

Bangsa Amerika yang belum memiliki pengaruh seluas saat ini kemudian ikut melobi Sang Sultan. Tapi Sultan Abdul Hamid II kukuh dengan pendapatnya, “Saya tak pernah mengizinkan Bangsa Yahudi untuk tinggal dan menetap di Palestina selama Kesultanan Usmaniyah berdiri

Maka bangsa Yahudi berbondong-bondong menyerbu Kesultanan Usmaniyah. Hanya saja mereka tetap tidak diperbolehkan memasuki wilayah Palestina. Dalam kurun 1881 – 1914 M diperkirakan jumlah migrasi bangsa Yahudi ke wilayah Kesultanan Usmaniyyah mencapai lebih angka dua juta jiwa. Kebanyakan mereka datang dari daratan Rusia. Kemudian Eropa, Amerika Utara dan Selatan. Dan sebagian besar mereka mendatangi Turki, dan jantung kekuasaan Kesultanan Usmaniyah.

Meski dilarang memasuki wilayah Palestina, orang-orang Yahudi secara diam-diam tetap memasuki wilayah Palestina. Mereka berhasil memasuki wilayah utara Palestina dengan tanpa sepengetahuan Kesultanan Usmaniyah.

Bentrokan fisik terjadi antara penduduk pribumi Palestina dengan pendatang ilegal yang pelan-pelan mendesak mereka dan memaksa untuk membuat pemukiman bagi mereka. Bentrokan pertama terjadi antara para petani Palestina dengan para pendatang gelap pada tahun 1886 M. Tanpa mereka sadari orang-orang Yahudi tersebut sudah mendirikan beberapa unit pemukiman untuk mereka. Tentunya di tanah miliki bangsa Palestina. Maka, pada tahun tersebut Sultan Abdul Hamid II pun membuat kebijakan mengawasi Palestina di bawah tanggungjawab Sultan secara langsung. Pada tahun tersebut beliau juga membuat keputusan mengusir orang-orang Yahudi untuk keluar dari Palestina. Keputusan ini ditentang oleh negara-negara Eropa dan mereka kembali melakukan lobi kepada Sultan untuk membiarkan Yahudi tetap berada di Palestina dengan tanpa harus membuatkan penampungan atau pemukiman.

Merespon arogansi negara-negara Eropa, Sultan Abdul Hamid II mengeluarkan surat keputusan dan undang-undang menghentikan izin migrasi Bangsa Yahudi ke wilayah-wilayah Kesultanan Usmaniyah. Hal ini diberlakukan sejak tahun 1888 M. Merespon keputusan sang sultan, Yahudi-Yahudi Eropa menggalang dana untuk membebaskan tanah di Palestina yang akan diproyeksikan dan digunakan sebagai pemukiman bagi mereka di masa yang akan datang. Pada tahun 1892 M, Kesultanan Usmaniyah lebih keras dalam merespon hal tersebut. Sultan mengeluarkan undang-undang dan peraturan untuk melakukan pengusiran –kembali- kepada orang-orang Yahudi dari Palestina. Kali ini diikuti dengan larangan keras menjual tanah palestina, seluas atau sekecil apa pun untuk orang-orang Yahudi.

Pada tahun 1897 M Kesultanan Usmaniyah menghadapi peperangan dengan Kerajaan Yunani. Meski tidak kalah, peperangan ini menguras energi dan keuangan Kesultanan Usmaniyah. Di tengah krisis keuangan tersebut, Hertzel menyeru kepada para milyader Yahudi di Eropa untuk mengumpulkan uang yang berjumlah sangat fantastis. Melalui Duta Usmaniyyah di Viena, Austria dana dari Yahudi Eropa tersebut ditujukan kepada Sultan Abdul Hamid II untuk mendapatkan izin membeli beberapa meter tanah di Palestina. Sang Sultan sangat marah dengan tawaran yang melecehkan kewibawaannya, merendahkan maruahnya, menghina kebesaran agamanya. Beliau pun menolak tegas seraya mengatakan, “Sesungguhnya saya takkan pernah bisa membiarkan sejengkal tanah pun dari Palestina, karena itu bukan milikku. Itu milik rakyatku, bangsaku. Mereka berjuang terus menerus demi tanah tersebut serta menjaganya dengan darah mereka”.

Penolakan tersebut membuat orang-orang Yahudi terpukul. Segera pada tahun 1898 M mereka mengadakan kongres internasional kedua di Basel, Swiss untuk mengatur ulang strategi pasca penolakan Sultan Abdul Hamid II.

Setelah usaha dan desakan dari luar untuk melobi dan menaklukkan Sultan Abdul Hamid II gagal total, gerakan zionisme yang diprakarsai Hertzel tetap diteruskan setelah penggagasnya meninggal. Hertzel meninggal pada tahun 1904. Kali ini mereka memanfaatkan orang-orang Yahudi yang “sudah terlanjur” berada di dalam jantung-jantung kekuasaan Usmaniyyah. Mereka melakukan aksi-aksinya dengan merusak moral muda-mudi umat Islam, Dimulai dari yang berada di jantung kekuasaan Kesultanan Usmaniyah. Yaitu melalui sebuah yayasan bernama “Turki al-Fatâh” yang dilindungi dan diamankan eksistensinya oleh yayasan yang kemudian berubah menjadi partai; “al-Etihad wa at-Taraqqi” yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Ataturk. Gerakan demoralisasi tersebut terstruktur rapi menyerang generasi muda umat Islam.

Pada tahun 1909 M tepatnya pada bulan Juli di tahun tersebut, melalui Parlemen Turki, Sultan Abdul Hamid II digulingkan. Beliau dipaksa meletakkan jabatannya sebagai sultan dan menyerahkannya kepada Sultan Muhammad Rasyad dan kemudian dilanjutkan oleh anaknya Abdul Majid Wahiduddin. Praktis, Kesultanan Usmaniyah seperti boneka. Bagaikan seorang lelaki tua yang terbaring di rumah sakit. Tak mampu melakukan apa-apa meski wujudnya ada.

Susunan pemerintahan stregis yang terdiri dari tiga belas kementrian, tiga pos penting di antaranya diduduki oleh orang-orang Yahudi, hanya satu saja menteri berasal dari Arab padahal sebagian besar rakyat Kesultanan Usmaniyah adalah Bangsa Arab. Sedang sembilan sisanya dimonopoli secara internal orang-orang dekat istana di Turki.

Selesailah kisah Sultan Abdul Hamid II. Ia menjadi pesakitan dan kemudian dipengasingan. Dijauhkan dari hingar bingar politik dan hiruk pikuk kekuasaan. Beliau pun meninggal tanpa iring-iringan kemewahan dan penghormatan jenazah sebagaimana laiknya seorang sultan. Tapi setidaknya beliau tak melakukan sebuah kesalahan yang kelak tak termaafkan oleh sejarah.

Beliau tidak menuliskan sejarah dirinya sebagai orang yang menggadaikan Palestina.

Beliau akhirnya menjadi simbol kekukuhan benteng terakhir ketika diserbu berkali-kali oleh Yahudi. Sejak cara halus dan melenakan dengan harta dan perempuan, hingga cara kasar dengan ancaman fisik dan kemudian konspirasi penggulingan.

Tapi namanya akan tetap dan selalu bersih. Beliau tak pernah mau menyerahkan Palestina. Tidak juga menggadaikannya. Tidak pula menjualnya. Tidak, walau untuk sejengkal tanah pun di Palestina.

Benar adanya tak berapa lama sepeninggalnya Kesultanan Usmaniyah pun runtuh secara tragis. Jatuh dari jantung kekuasaan. Dikhianati oleh “the fallen angel” orang-orang yang terbius kekuasaan dan materi dunia. Terprovokasi oleh manuver licik Yahudi terhadap negara Usmaniyah. Tapi umat Islam akan mengenangnya sebagai benteng yang kokoh yang tak pernah menyerah.

Benar adanya, pada akhirnya Yahudi berhasil menduduki Palestina. Pelan namun pasti jengkal demi jengkal tanah Palestina berhasil dirampas dan diambil paksa. Dengan berbagai cara dan upaya. Dari mulai bagian kecil, hingga kini mendominasi dan menguasai hampir seluruh wilayah asli Palestina. Tapi umat Islam takkan pernah menyalahkannya.

Umat Islam tak pernah menyalahkannya sebagai pihak yang bertanggungjawab atas pemaksaan Israel untuk membuat negara di wilayah Palestina.

Kesalahan tak termaafkan tersebut dilakukan oleh orang-orang yang mengkhianatinya. Seperti laiknya sejarah yang enggan mencatat para pengkhianat, tapi akan selalu mengenang kegigihan perjuangannya. Terlepas apakah ia akhirnya kalah atau memenangi pertarungan.

Maka jika saat ini kita tak meneruskan kegigihan Sultan Abdul Hamid untuk mengembalikan kedaulatan Palestina, khawatirnya sejarah takkan pernah memaafkan kita. Adalah kesalahan yang mungkin sulit dimaafkan, jika kita tak melakukan apa-apa untuk mengembalikan Palestina. Mengembalikan kedaulatan pada pemiliknya yang sah. Melindungi tanah suci dan Masjid Utama Al-Aqsha. Merumahkan kembali para pengungsi, yang jutaan jumlahnya tersebar di berbagai negara dengan ketidakpastian masa depan. Menyatukan kembali perpecahan yang didesain oleh para musuh-musuh yang terkoordinasi oleh kekuatan yang sebenarnya rapuh.

Lakukan sesuatu. Tak sepantasnya meremehkan usaha yang kecil. Karena kumpulan kerikil bisa terlihat seperti gunung yang kokoh. Jika ditata rapi dan diatur manajemennya. Lakukan sesuatu.

And Never Give up

Catatan Keberkahan 25

Jakarta, 21.11.2013

 

Dr. Saiful Bahri, MA.

Ketua ASPAC for Palestine

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *