Tetap Berjuang dalam Posisi Apapun

Dalam dua bulan terakhir ini, penulis perhatikan telah terjadi perubahan strategi dalam memperjuangkan Palestina. Sebut saja misalnya, gerakan Fatah yang akan kebanjiran jabatan administratif, karena Hamas telah menanggalkan seluruh jabatannya di Jalur Gaza. Sebagaimana penulis ketahui, Fatah merupakan bagian terbesar dari PLO (Palestine Libaration Organization). PLO ini sebagai wadah resmi pemerintahan rakyat Palestina yang diakui dunia internasional pimpinan Mahmod Abbas. Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah beberapa waktu lalu berangkat ke Jalur Gaza dan Kairo, guna memastikan hal tersebut. Fatah sedang berjuang dengan jalur diplomasinya.

Penulis juga mendengar kabar tentang pergantian kepemimpinan biro politik di dalam gerakan Hamas, dari Khaled Mesyal ke Ismail Haneyya. Juga diumumkan masuknya Yahya Sinwar dalam kepemimpinan gerakan yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Yasin tersebut. Dengan adanya kepemimpinan baru ini, bagaimanakah upaya rekonsiliasi yang kini sedang digencarkan antara dua gerakan, Hamas dan Fatah? Hamas saat ini sedang berjuang dengan pemimpin baru.

Pekan ketiga bulan ini juga diselenggarakan pertemuan Aliansi Internasional untuk Pembebasan al-Quds dan Palestina, tepatnya pada 19-20 Oktober 2017 lalu di Istanbul. Informasi yang penulis terima, juga terjadi perubahan kepemimpinan Aliansi, dari Dr. Abdurrahman Al-Barr dan Syeikh Munir Said kepada Syeikh Hamam Said dan Dr. Akram al-‘Adluny. Selain itu, juga ada pergantian kepemimpinan pada Aliansi Perempuan, dari Dr. Amal Khalifah kepada Fatimah Sulaiman. Kedua Aliansi ini juga sedang berjuang dengan kepemimpinan baru.

Di Indonesia, sejak Juli lalu penulis mendengar terjadinya perubahan struktur dalam salah satu lembaga kepalestinaan yaitu Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP). Saat ini yang menjadi sekretaris jenderalnya adalah Suhartono, menggantikan Heri Efendi. Begitu pula struktur KNRP di berbagai wilayah di Indonesia juga mengalami perubahan dan pergantian dengan wajah-wajah baru. KNRP pun sedang berjuang dengan personalia baru.

Tidak hanya KNRP yang berganti kepengurusan, ASPAC for Palestine pun mengalami hal serupa. Karena telah berusia lebih dari lima tahun, maka struktur kepengurusan juga akan berganti. Penulis sendiri yang sejak berdiri Aspac telah membersamai, juga termasuk yang akan berpindah posisi. Dimana pun posisinya, tetap berjuang untuk Palestina.

Perjuangan merupakan puncak amal terbaik, yang berlandaskan pada pemahaman yang benar akan hakikat perjuangan tersebut dan keikhlasan pelakunya. Perjuangan suci tidak akan berarti tanpa adanya pengorbanan atas segala hal. Pengorbanan waktu, tenaga, pikiran bahkan harta, hingga nyawa. Perjuangan demi meraih cita-cita harus sesuai dengan relnya.

Semua orang dapat berjuang dimana pun dan kapan pun, tapi harus dalam satu komando. Perjuangan tanpa komando hanya menghasilkan kematian sia-sia. Komando yang jelas, yang datang dari pemimpin, sehingga arah perjuangan akan lebih bermakna.

Kelima contoh cerita diatas menggambarkan arah perjuangan masing-masing lembaga. Tidak akan berpengaruh walau terjadi pergantian strategi atau kepemimpinan. Karena sudah jelas apa yang harus diperjuangkan. Untuk Palestina, kemerdekaan ibarat barang yang hilang. Tapi tanggung jawab pencariannya, dibebankan kepada seluruh warga dunia yang masih peduli terhadap hak-hak kemanusiaan. Terlebih umat muslim yang memiliki proyek rahmatan lil ‘alamin. (Salman Alfarisy)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *