Terbongkar Kesepakatan Persenjataan “yang kotor” Penjajah Zionis dengan Myanmar

 

Surat kabar Haaretz “Israel” membongkar sebuah perjanjian persenjataan “yang kotor” antara negara Zionis  dengan Pemerintah Myanmar, meskipun berbagai tuduhan oleh PBB kepada negara itu telah memberlakukan ” genosida “terhadap minoritas Muslim Rohingya.”

Hal ini disampaikan dalam sebuah artikel analitis yang berjudul “Kesepakatan Senjata Israel yang kotor dengan Myanmar” yang diterbitkan pada Rabu (29/08) oleh surat kabar Haaretz dengan tujuan untuk mengungkap partisipasi “Israel” dalam operasi pembersihan etnis dan agama di “Arakan” bagian barat Myanmar.

Artikel tersebut mengacu pada laporan Misi PBB untuk Pencarian Fakta Independen di Myanmar baru-baru ini, yang mendokumentasikan “pemerkosaan massal dan pembunuhan,” menjadikan sasarannya hingga bayi dan anak-anak, serta cara-cara pemukulan yang brutal dan pemusnahan oleh tangan-tangan Pasukan Myanmar.

Para investigator PBB melaporkan bahwa pelanggaran-pelanggaran tersebut “kemungkinan masuk kategori kejahatan terhadap kemanusiaan.”

Surat kabar itu menjelaskan bahwa “laporan PBB yang baru-baru ini dikeluarkan terkait peristiwa berdarah di Myanmar tidak mencegah pemerintah “Israel” dari melakukan kerjasama dan menjual senjata kepada tersangka pelaku kejahatan perang.”

Pada September 2015 komandan militer Myanmar Min Aung Hlaing mengunjungi “Israel”, dan bertemu dengan para pejabat senior, dimana sebelum keberangkatannya telah mengumumkan rencananya untuk membeli “senjata Israel”, dalam kesepakatan bernilai puluhan juta dolar, menurut sumber yang sama.

Pemerintah “Israel” tidak secara resmi mengungkapkan senjata yang dijualnya kepada rezim militer di Myanmar, tetapi dokumentasi yang diterbitkan oleh rezim, dan pernyataan resminya membuka perkara itu, yang tidak dibantah kemudian oleh Pemerintah Israel.

Permasalahan ini bermula saat aktivis HAM dan pengacara “Itay Mak” menyelidiki perkembangan hubungan militer “Israel” dengan Rezim Myanmar sejak tahun 2015. Dia mengaitkannya dengan kejahatan yang dilakukan oleh rezim Myanmar terhadap Muslim Rohingya, yang membawanya pada awal tahun 2017 mengajukan petisi ke pengadilan Agung “Israel”, menuntut penghentian penjualan senjata kepada rezim di sana.

Dalam hal ini, kata Mac dalam sebuah wawancara mengatakan kepada Anadol Agency: “Saya menyandarkan informasi yang dipublikasikan, secara khusus oleh Panglima Militer Myanmar melalui akun Facebooknya, dan yang telah diterbitkan tentang kunjungan pejabat Unit Kerjasama Luar Negeri di Departemen Militer “Israel” ke Myanmar, dan informasi yang terbit tentang penjualan kapal perang dan pelatihan militer, dan juga informasi yang terbit di Myanmar tentang  kesimpulan perjanjian pembelian senjata dan pelatihan bersama Pemerintah “Israel” untuk mendapatkan pengesahan di parlemen di sini.”

Dia menambahkan: “Jadi saya mengandalkan informasi yang dipublikasikan, tapi yang penting adalah respon pemerintah Israel terhadap petisi, mereka tidak menyangkal bahwa mereka mengekspor senjata ke Myanmar, dan melakukan pelatihan. Pemerintah Israel tidak menyetujui untuk mempublikasikan rincian dari apa yang dilakukannya.”

Mac melanjutkan pernyataannya bahwa, “jika tidak ada ekspor senjata ke Myanmar, maka pengadilan tidak sampai mempertimbangkan masalah ini, karena pengadilan tidak membahas perkara-perkara yang masih asumsi. Jika memang tidak ada penjualan senjata maka pengadilan tidak akan melakukan pertimbangan terhadap petisi.”

Laporan sebelumnya dari surat kabar yang sama menegaskan bahwa Korps Marinir di Myanmar telah membeli sebuah kapal perang “Israel”, rudal Jo Jo dan cannon. Sebagaimana perusahaan “Israel melakukan pengembangan pesawat-pesawat tempur untuk negara itu, dan  perusahaan Tar Ideal Concept salah satu penyedia bagi Departmen Perang “Israel” dengan pelatihan Pasukan Myanmar. *i7)

——————————————–

Sumber: www.arab48.com, terbit: 30/08/2018, pukul: 05:15:34 sore.

, , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *