Tautan Cinta dan Muara Kemuliaan

Surah al-Hujurât: 6 mengisyaratkan bahwa jebakan persepsi bisa menyebabkan seseorang jatuh dalam kefasikan. Sehingga, informasi yang dibawanya berpotensi merusak rajutan persaudaraan. Allah memberikan antisipasi untuk menghindari jebakan persepsi tersebut.

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikan (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah kepada Allah…” (QS.Al-Hujurât:10)

Penguat persaudaraan adalah iman dan pencegah renggangnya persaudaraan adalah upaya selalu mendamaikan saudara serta takut kepada Allah. Itulah fondasi utama persaudaraan (kokohnya ukhuwah).

Lebih lanjut Allah memberikan perangkat meraih ketakwaan, kemuliaan hakiki. Yaitu, melalui ayat 11 dan 12.

Pertama, Allah melarang kaum beriman untuk saling membanggakan diri. Karena hal tersebut akan memancing tindakan untuk merendahkan orang lain.

Hal tersebut bisa jadi karena kebanyakan laki-laki terutama para pemuka kaum kadang membanggakan status sosial, jabatan dan popularitas. Hal ini bisa memicu permusuhan karena adanya sikap meremehkan dan merendahkan orang lain. Hal-hal ini kadang dilakukan kaum perempuan yang membanggakan nasab, keturunan, suami dan anak-anaknya atau juga status sosial mereka.

Kedua, Allah juga melarang orang mukmin mencela sesama mereka. Dalam ayat ini Allah membahasakannya dengan ”jangan mencela dirimu sendiri”. Karena mencela orang lain ibarat memukul air dalam tempayan di depan kita. Percikannya akan kembali pada diri kita sendiri.

Bila seseorang memaki ayah atau ibu orang lain, maka berarti ia memaki ayah atau ibunya sendiri, karena orang yang dimaki akan membalas dengan makian yang lebih pedas.

Ketiga, Allah melarang kaum beriman untuk mempermainkan saudaranya dengan julukan atau gelar yang buruk.

Kempat, Allah melarang kaum beriman memperturutkan praduga/prasangka buruk. Karena prasangka tersebut tidak pasti atau tidak jelas. Apalagi biasanya prasangka tersebut seputar aib seseorang yang seharusnya ditutupi.

Kelima, Allah melarang memata-matai (tajassus). Bila prasangka diperturutkan, maka tanpa terasa sering ditindaklanjuti dengan memata-matai dan menelusuri kebenaran isu yang tadinya berupa  desas-desus. Inilah yang bisa merusak ukhuwah dan  terjerumus pada perbuatan mencari kesalahan orang.

Keenam, Allah melarang (ghibah). Allah memberikan perumpamaan yang buruk bagi ghibah. Yaitu, bagaikan memakan daging saudara sendiri, bahkan lebih dari itu; bangkai sesama manusia. Keburukan tersebut terjadi dengan mempergunjingkan isu yang kadang belum jelas arahnya. Kalau pun itu benar, maka sudah semestinya aib tersebut tidak diumbar ke mana-mana.

Rasul saw suatu ketika bertanya kepada para sahabatnya: ”Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab: ”Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. Beliau bersabda: ”Menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Ada yang bertanya: ”Bagaimana bila yang dikatakan ada pada saudaraku?” Beliau menjawab: ”Jika seperti apa yang kau sebut (yang dibencinya) engkau telah mengghibahnya. Dan jika tidak ada padanya, maka engkau telah memfitnahnya.” (HR.Muslim, Abu Dawud, Tirmizi dan Nasa’i).

Keenam hal di atas merupakan perangkat ketakwaan untuk meraih kemuliaan hakiki yang dijelaskan Allah di ayat berikutnya. Dilengkapi dengan resep ketujuh yaitu: saling mengenal dan mempererat persudaraan, sebagaimana ditegaskan di ayat ke 13.

Allah menyebut keberagaman dalam masyarakat. Semua bermula dari dua makhluk yang serba berbeda, laki-laki dan perempuan.

Dari keduanya, manusia menyebar ke berbagai penjuru dunia. Bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Berbeda bahasa dan budaya. Tujuan dari perbedaan ini adalah untuk memperkaya wawasan dan persaudaraan dengan saling mengenal. Bukan untuk saling membanggakan atau mengolok-olok. Budaya saling mengenal ini akan mendewasakan dan memperkaya ilmu. Bila silaturahim ini ditinggalkan, akan membuat dunia kehilangan cinta dan dipenuhi oleh kedengkian serta permusuhan.

 

Catatan Keberkahan 56

Sydney, 27.05.2017

 

SAIFUL BAHRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *