Takbir yang Tak Lagi Menggentarkan

Saat takbir menggema di berbagai penjuru dunia, umat Islam berbahagia. Merayakan Idul Adha, dengan mengagungkan asma Allah. Bukan hanya satu malam atau satu hari, namun selama empat hari. Allah hadiahkan sebuah syi’ar melalui ibadah qurban. Pengorbanan yang merupakan ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Menapaki sunnah Nabi Ibrahim, dan keluarganya (putranya Ismail dan ibunya Hajar) yang kemudian dikukuhkan oleh Rasulullah SAW untuk dijalankan dan ditetapkan sebagai syariat bagi umatnya. Bahkan beliau tak pernah meninggalkan ibadah qurban setiap tahunnya, dalam kondisi apapun. Jelas-jelas beliau bersabda, “Barang siapa yang mampu berqurban dan ia tak melakukannya, maka jangan sekali-kali mendekati mushalla kami”.

Keagungan Allah semakin terasa, karena dua sampai tiga juta umat Islam serempak berkumpul di suatu tempat yang sama, memutihi padang Arafah, berwukuf, bermunajat, menengadah dan menyebut Tuhan yang sama. Tuhan yang menganugerahkan hari bahagia, Idul Adha.

Demikianlah seharusnya, syiar-syiar ajaran agama ini, adalah untuk menambah kebahagiaan bagi umat Islam dalam menjalankan syariat dan ajaran agama. Ajaran yang membebaskan dari berbagai jenis perbudakan, dari apapun dan siapapun.

Gema takbir yang membahana tersebut seharusnya membuat umat ini bukan hanya bahagia, namun mereka juga bangga dan berperan dalam kehidupan, serta dihargai perannya bagi kemanusiaan. Hal yang seharusnya membuat “orang lain” setidaknya mengepreasi dan tak berani mengganggu.

Sayangnya, kebahagiaan dan mimpi bangga tersebut berbalik dengan realitas yang terjadi. Nestapa pilu dan kisah kezhaliman yang belum terhentikan di Bumi Syam, di tanah suci Baitul Maqdis, Palestina, kini terangkat kembali kisah kezhaliman lainnya. Adalah kisah dari etnis muslim Rohingnya dari Rakhine State, di Myanmar. Padahal mereka tadinya adalah merupakan bagian dari kisah perjuangan rakyat Burma (sekarang Myanmar) dalam melawan penjajahan Inggris. Sayangnya, kisah perjuangan mereka berakhir dengan pengkhianatan dari sesama bangsa yang dulu pernah bersama melakukan perlawanan terhadap penjajahan. Mereka hanya dianggap sebagai pendatang dan kemudian bahkan tak diterima oleh pemerintah Myanmar. Mereka diusir, diminta kembali ke tempat asal mereka, Bangladesh. Tapi pemerintah Bangladesh pun setengah-setengah menerima. Negara-negara tetangga pun memang membantu mereka, tapi bantuan-bantuan tersebut terkesan tak serius, sehingga ribuan nyawa tetap tak terselamatkan, dan puluhan ribu lainnya terkatung-katung nasibnya. Mereka, menjadi bangsa tanpa negara, stateless.

Sebenarnya, di setiap negara akan selalu ada multi etnis. Dan faktanya mereka bisa hidup berdampingan, meski kadang terjadi konflik karena berbagai dinamika yang terjadi. Namun, yang terjadi di Myanmar, adalah sebuah kezhaliman yang bukan hanya harus dihentikan, tapi para pelakunya harus segera diseret dan dihukum secara adil.

Mengapa tatanan dunia baru yang sering diklaim serba modern ini tak mampu menghentikan kezhaliman ini? Mengapa darah dan nyawa umat Islam menjadi sangat tidak berharga untuk dilindungi?

Dan mengapa gema takbir yang terdengar secara nyata melalui pembesar-pembesar suara tak lagi menggentarkan dan mencegah tindak kezhaliman terhadap umat Islam?

Rasanya, selain usaha memobilisasi bantuan kemanusiaan dan advokasi secara internasional dan massif, kita perlu lakukan pendekatan introspektif dalam bertakbir. Apakah takbir yang terucap dan keluar dari bibir ini benar dan mampu menghadirkan keagungan dan kebesaran Allah. Jika faktanya, Allah menjadi kecil dan hilang dalam kehidupan, karena kita tak lagi menjiwai takbir tersebut, maka mungkin inilah salah satu sebab hidup kita menjadi kecil dan tak berharga. Padahal, sebelum takbir Idul Adha, kita telah bertakbir lima kali setiap rekaat dalam shalat kita.

Selamatkan Muslim Rohingya, Bangsa Palestina. Mulailah dengan bertakbir yang benar. Agungkan Allah dalam diri.
 

Catatan Keberkahan 67

Jakarta, 02.09.2017

 

SAIFUL BAHRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *