Sudan dan Negara Zionis Mengarah Kepada Normalisasi Hubungan

Sudan dan negara Zionis telah sepakat untuk menuju ke arah terjalinnya normalisasi hubungan untuk pertama kalinya, demikian seperti diungkapkan oleh beberapa pejabat negara Zionis pada hari Senin (03/02) setelah kedua belah pimpinan dari negara yang dulunya bermusuhan itu bertemu di Uganda.

Perdana Menteri negara Zionis Benjamin Netanyahu mengadakan pembicaraan dengan Abdel Fattah al-Burhan, Kepala Dewan Berdaulat Sudan, di kota Entebbe di Uganda tengah.

“Telah disepakati untuk memulai kerja sama yang mengarah ke normalisasi hubungan antara kedua negara,” sebuah pernyataan negara Zionis diumumkan setelah pemimpin kedua negara itu bertemu selama dua jam.

Normalisasi hubungan dengan Sudan, negara yang menjadi tempat negara-negara Arab berkumpul pada tahun 1967 untuk menerbitkan apa yang dikenal sebagai “Tiga Tidak” – tidak untuk pengakuan terhadap negara Zionis, tidak ada perdamaian dengan negara Zionis dan tidak ada negosiasi dengan negara Zionis – akan membuka jalan bagi Netanyahu untuk menghidupkan kredensial diplomatiknya sebulan sebelum pemilihan 2 Maret di negara itu.

Ini bisa membuka jalan bagi pemimpin sayap kanan negara Zionis untuk berjanji mendeportasi warga Sudan yang angkanya mencapai seperlima dari pekerja ilegal di negara Zionis, sebuah langkah yang didukung oleh banyak pendukungnya.

Para migran ini sebelumnya berpendapat bahwa mereka tidak dapat dipulangkan karena mereka menghadapi hukuman setimpal untuk terbang menuju negara Zionis,  negara yang dianggap sebagai musuh Sudan.

“Netanyahu percaya bahwa Sudan sedang bergerak ke sebuah arah yang baru dan positif, demikian seperti dinyatakan oleh negara Zionis.

Pemimpin Sudan, tambahnya, “tertarik untuk membantu negaranya melewati proses modernisasi dengan melenyapkan dirinya dari isolasi dan memposisikan dirinya di peta dunia”.

Negara Zionis sebelumnya menganggap Sudan sebagai ancaman keamanan, karena Iran diduga menggunakan negara itu sebagai saluran untuk penyelundupan amunisi ke Jalur Gaza. Pada 2009, sumber-sumber regional mengatakan, pesawat negara Zionis membom sebuah konvoi persenjataan di Sudan.

Tetapi sejak orang kuat Sudan Omar al-Bashir digulingkan tahun lalu, Khartoum mengasingkan dirinya dari Iran dan tidak lagi menjadi sebuah ancaman, demikian seperti diungkapkan oleh  pejabat negara Zionis.

Pada hari Ahad lalu, Amerika Serikat mengundang Burhan untuk mengunjungi Washington, kata Dewan Berdaulat Sudan, menyoroti hubungan bilateral kedua negara itu yang lebih hangat.

Sebelumnya pada hari Senin, Netanyahu mengadakan pembicaraan dengan Presiden Uganda Yoweri Museveni, yang mengatakan negaranya sedang mempelajari kemungkinan membuka kedutaan di kota Baitul Maqdis (i7).

———–

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit: 03 Februari 2020, pukul 18:57.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *