Serukan Pemimpin Akui Kegagalan, Anggota Dewan dari Fatah: “Menerapkan Sanksi Baru Kepada Gaza adalah Kejahatan Tak Bermoral”

Gaza – Anggota Dewan Legislatif dari Fatah, Majid Abu Shamala menganggap apa yang diberitakan oleh media massa terkait niat Otoritas (Palestina) memberlakukan langkah-langkah hukuman baru di Jalur Gaza, merupakan kejahatan lain yang akan ditambahkan ke dalam daftar sanksi tak bermoral yang diterapkan terhadap warga di Jalur Gaza.

Abu Shamala, dalam keterangan pers, yang diterima oleh PIP (Pusat Informasi Palestina) pada hari Rabu (28/08) mengatakan bahwa sanksi yang diterapkan oleh Otoritas (Palestina) terhadap Jalur Gaza tidak menimbulkan akibat kecuali rasa sakit dan penderitaan bagi warga yang telah membayar pajak kepada Otoritas secara penuh, dan juga menimbulkan ketegangan dan perpecahan yang semakin bertambah.

Dia mengatakan bahwa berlanjutnya penerapan sanksi kepada sebagian putera-puteri bangsa Palestina tidak memiliki penjelasan selain bahwa itu merupakan dorongan ke arah penerapan apa yang disebut “Kesepakatan Abad Ini”, dan memaksa Jalur Gaza untuk menerima solusi apa pun yang ditawarkan kepadanya agar keluar dari blokade yang tidak adil ini.

Dia menjelaskan bahwa berlanjutnya situasi nasional dalam bentuk seperti yang sekarang ini merupakan sebuah pelanggaran lainnya  yang menuntut kita untuk mengambil sikap dan berfikir secara mendalam agar tidak menjadi seperti kuda Inggris yang dipasangkan kacamata supaya bisa digiring menuju kematiannya tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan. “Siapa yang meragukan bahwa mereka tidak dipasangkan kacamata semacam itu dari pimpinan maka hendaknya memberanikan diri melihat ke sekelilingnya niscaya akan terungkap dengan mudah bahwa masa depan permasalahan kita membutuhkan perubahan yang serius dan mendesak agar kapal bisa terkendali.”

Dia melanjutkan, “Tidak ada pilihan lain yang ada di hadapan kita kecuali mengembalikan amanah kepada pemiliknya yaitu rakyat Palestina dan melangsungkan pemilu legislatif dan presiden dan Dewan Nasional agar rakyat memutuskan dan memilih kepemimpinan yang dianggapnya cocok untuk mengeluarkannya dari realitas yang ada saat ini menuju masa depan yang membawa secercah harapan sebagai senjata bagi generasi mendatang.”

Dia menambahkan, “Di sini, kita haruslah tidak merasa malu mengakui kegagalan tanpa berkeraskepala dan bahwa semua orang memiliki tanggung jawab atas realitas yang ada sesuai beban yang dipikulnya.”

Abu Shamala meminta pemimpin rakyat Palestina saat ini “untuk mengakui kegagalan ini”, katanya: “Cukuplah bagi kita meninjau bersama kondisi menyebarnya keprihatinan nasional dan membagi-bagi prioritas kepada putera-puteri bangsa yang satu ini.”

Dijelaskannya bahwa “Rakyat Palestina sudah tidak lagi memiliki tembok bagi para pemimpin, rakyat dan berbagai organisasinya membentengi diri kala perselisihan yang diwakili oleh institusi-institusi nasional yang paling utamanya institusi pergerakan Fatah dan Otoritas dan PLO yang kekuatan perwakilannya telah dilucuti  melalui sikap kerasnya atas penculikannya dan memaksakan agenda dan visi pribadi terhadapnya dan membatasi perwakilannya bagi orang yang ikut serta dalam dewan  boikot belakangan ini meskipun mereka tidak memiliki perpanjanan tangan rakyat dan eksistensi yang berbasis di daerah dan bersikeras memegang institusi-institusinya di luar konsensus nasional (i7).

———————-
Sumber: www.palinfo.com, terbit 29/08/2018, jam: 04:37:37 sore.

, , , ,

About Kholid Abdullah

Kholid Abdullah bekerja sebagai tutor Bahasa Inggris dan Bahasa Arab di beberapa lembaga swasta. Selain mengajar, aktifitas harian yang rutin dilakukannya adalah melakukan alih bahasa dari media berbahasa Inggris dan Bahasa Arab untuk mengisi konten situs ASPAC (Asia Pacific Community for Palestine). Saat ini Kholid sedang menyusun sebuah ebook “Antologi Puisi & Nyanyian Perlawanan Palestina”. Untuk mengirim pesan kepadanya, bisa melalui email: interiorasap@gmail.com.
View all posts by Kholid Abdullah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *