Reaksi Heroik Terhadap Penistaan Al-Aqsha

Pada Jum’at pagi, 13/7/2017, tiga pemuda Palestina dan dua polisi Israel tewas sebab bentrokan senjata di komplek masjid Al-Aqsha, tepatnya di wilayah Asbat Gate. Bentrokan terjadi diawali dengan penyerangan yang dilakukan ketiga pemuda Palestina tersebut. Usai aksi, tentara Israel segera menutup pintu-pintu Masjid, melakukan pengamanan ketat dan pelarangan memasuki Masjid.

Aksi penyerangan ketiga pemuda tersebut dilakukan saat semakin meningkatnya eskalasi penistaan Israel terhadap Al-Aqsha. Israel memanfaatkan momentum di tengah sibuknya Negara-negara Arab dan Islam dalam menghadapi krisis internal masing-masing, tak terkecuali konstelasi politik Qatar sebagai Negara support utama bagi Palestina yang belakangan sempat goncang karena embargo dari beberapa Negara Teluk dan Mesir.

Ancaman dan penistaan Israel terhadap Masjid Al-Aqsha telah dijalankan sejak tanggal 6 Juni 1967, tepat sehari setelah penjajahan Israel terhadap Al-Quds Timur. Penistaan dalam beragam bentuknya masih berlanjut hingga saat ini, baik yang menargetkan bangunan fisik Masjid maupun para jama’ah yang memakmurkannya.  

Berlangsung selama 50 tahun, Israel melakukan penyerbuan terhadap Masjid Al-Aqsha, penggalian terowongan di bawah dan sekitar lokasi Masjid, pembakaran sebagian lokasi Masjid, proyek pembagian otoritas kekuasaan atas Masjid (dari sisi waktu maupun lokasi teritori), penganiayaan terhadap Muslimin yang memakurkan Masjid, dan berbagai bentuk penistaan lainnya.

Latar sejarah terkait Al-Aqsha dan Palestina bisa membentuk persepsi dasar dalam melihat aksi yang dilakukan tiga pemuda Palestina di atas, sebagai bentuk reaksi terhadap akumulasi beragam bentuk penjajahan dan penistaan yang dilakukan Israel. Di tengah ketidakberdayaan sebagian besar masyarakat Dunia untuk menumpas penjajahan, warga Palestina melakukan beragam aksi heroik dalam memperjuangkan kemerdekaan tanah air mereka.

Memahami latar sejarah dan duduk permasalahan di Palestina merupakan hal penting untuk membentuk framing dan persepsi dalam masalah dan dinamika konflik selanjutnya. Tanpa dasar tersebut, seseorang mudah terpengaruh framing tertentu dari wawasan dan informasi yang disuguhkan sebagian media, termasuk dalam melihat beragam aksi perlawanan Palestina terhadap Israel.

Kemudian, terkait aksi heroik pada Jum’at pagi, 15/7/2017, bila dilihat dari sisi pengaruhnya, maka aksi itu semakin pantas disebut aksi heroik. Ilyas Karim, koresponden Al-Jazeera di Al-Quds menyampaikan, bagi Israel, cara penyerangan yang dilakukan ketiga pemuda Palestina itu lebih membahayakan dari cari lain yang selama ini dijalankan. Metode perlawanan kali ini menggunakan senjata api, berbeda dengan aksi-aksi sebelumnya yang menggunakan cara dan alat yang lebih sederhana, seperti penikaman dan lainnya.

Setidaknya ada beberapa temuan yang bisa diungkap sebagai pengaruh dari aksi heroik tersebut, diantaranya: pertama, dengan adanya aksi tersebut, bisa diukur kualitas pertahanan dan keamanan Israel di Masjid Al-Aqsha. Sekaligus mengisyaratkan inovasi metode dan cara para pemuda Palestina dalam menjalankan aksi heroic mereka.  Di tengah ketatnya penjagaan tentara dan polisi Israel, ketiga pemuda tersebut mampu ‘lolos’ dan berhasil melakukan rencana aksinya. Kedua, aksi  tersebut menjadi ancaman yang menakutkan bagi warga Israel, tak terkecuali kalangan tokoh dan pejabat yang notabene melakukan kunjungan atau penyerbuan ke Masjid Al-Aqsha. Ancaman itu bisa menjadi momok bagi Yahudi dan Israel, dan selanjutnya dapat meminimalisir aksi penistaan terhadap Al-Aqsha. Ketiga, menghadirkan inspirasi dan semangat perjuangan bagi para pemuda Palestina yang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *