Rakyat Palestina Sedang Dimiskinkan oleh Manipulasi Bantuan Kemanusiaan

Orang-orang Palestina mengangkat bantuan bahan makanan oleh UNRWA di kota Gaza pada 15 januari 2018

 

 Oleh: Ramona Wadi

Pada bulan Maret, Bank Dunia mengeluarkan siaran pers yang menyatakan bahwa memburuknya situasi kemanusiaan di Gaza menghalangi pertumbuhan ekonomi. Di antara faktor-faktor destabilisasi yang disebutkan adalah kurangnya akses terhadap layanan dasar, pengangguran dan pemotongan pendanaan UNRWA.

Kekerasan kolonial Israel dikecualikan sepenuhnya dari analisis yang disajikan dalam siaran pers tersebut. Selain itu, pernyataan itu juga menyebutkan bahwa “Sistem pemerintahan yang efektif dan penguatan kelembagaan di bawah kepemimpinan Otoritas Palestina juga merupakan kunci bagi pemulihan yang berkelanjutan.” Ini meskipun sudah sama-sama diketahui di kalangan umum bahwa Otoritas Palestina adalah institusi yang korup dari atas sampai ke bawah, dan dia hadir untuk melayani kepentingan “Israel”, bukan rakyat Palestina.

Pada hari Rabu, Bank Dunia mengumumkan telah merekomendasikan alokasi $ 90 juta “untuk mempercepat kesejahteraan ekonomi yang sangat dibutuhkan bagi rakyat Palestina. “Dalam pernyataannya, Wakil Presiden Grup Bank Dunia untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Ferid Belhaj, mengklarifikasi keterlibatan lembaga itu di dalam bantuan kemanusiaan dan pembangunan, dan nampaknya dia hadir untuk mengecualikan politik dari kerangka yang lebih luas.

Namun, rumusan yang sama masih berlaku: “Israel” dibebaskan dari kejahatannya yang telah melambungkan Palestina menjadi krisis kemanusiaan yang mengerikan pada peringkat pertama, sedangkan Otoritas Palestina yang merupakan kolaborator Israel dalam merampas Gaza dari kebutuhan dasarnya – mengambil posisi di tengah panggung sebagai alat pemulihannya.

Dalam kata-kata Marina Wes, Country Director untuk Tepi Barat dan Gaza, “Dengan membangun kemitraan bersama Otoritas Palestina, Bank Dunia akan melanjutkan dukungannya dalam memperkuat lembaga-lembaga untuk secara efektif mengelola keuangan publik dan memberikan layanan kepada warga.”

Sebagian besar rakyat Palestina akan menghiba untuk  jadi berbeda. Lembaga-lembaga Otoritas Palestina semakin menguatkan diri untuk menjamin kelangsungan hidup mereka, dengan mengorbankan rakyat Palestina yang dieksploitasi di bawah model neoliberal yang diadopsi. Di saat rakyat Palestina menjadi lebih periferal dan pengecualian bagi mereka telah menjadi hal lumrah. Ini menghasilkan pendekatan politik yang nyaman yang mengadopsi konteks kemanusiaan dan menyajikannya sebagai depolitisasi.

Ketika kesenjangan antara kepemimpinan dan rakyat meningkat, dimana rakyat terus samakin dipinggirkan , para pelaku yang masih ada, dalam hal ini Bank Dunia dan Otoritas Palestina, mereka bebas untuk membentuk narasi pembangunan yang memainkan rumusan biasa dari donor-donor dan kebingungan pembangunan ekonomi di sepanjang situasi kemanusiaan yang berlaku.

Karena para pemimpin dan institusi menahan diri dari kontekstualisasi pemiskinan Palestina di dalam konteks kolonial dan kolaboratif, tindakan Bank Dunia terlindung dari pengawasan tambahan. Harus dicatat bahwa meminggirkan rakyat Palestina memiliki dampak berbahaya lain yang diabaikan; Kejahatan “Israel” terhadap mereka juga dikesampingkan karena para pelaku diperbolehkan bertindak dengan terbebas dari hukuman.

Tidak ada pemberdayaan rakyat Palestina di dalam konteks kolonial-penjajahan Israel. Gagal untuk mengenali ini, serta peran Otoritas Palestina dalam menjaga “pemberdayaan” sebagai retorika, memberikan kontribusi bagi skenario dimana bantuan keuangan mendanai kelanjutan dari kejahatan terhadap warga Palestina, sementara orang dipaksa untuk memikul tanggung jawab atas keputusan kompromi para pimpinan dan insititusinya.

Melihat pernyataan Koordinator Khusus PBB Nickolay Mladenov mengenai pernyataan Bank Dunia, kita menemukan pengakuan yang dipisahkan dimana, meski selalu berulang-ulang, juga merupakan contoh bagaimana PBB mendorong model neoliberal ini: “peningkatan yang signifikan ini dalam pendanaan datang pada waktu kritis di saat intervensi mendesak diperlukan untuk mencegah konflik baru dan untuk meningkatkan peluang ekonomi dan mata pencaharian rakyat Palestina. “Dia juga menggambarkan bekerja sama dengan Otoritas Palestina sebagai” persis jenis respon yang dibutuhkan saat ini. ”

Jika, seperti saran Mladenov, lembaga-lembaga itu menyajikan solusi yang diperlukan atas pemiskinan kemanusiaan yang dialami rakyat Palestina (ini, mengingat bahwa ada siklus abadi berbagai solusi yang terduga yang telah memberikan solusi kosong), ini bukanlah waktunya untuk membantah penyebaran narasi lembaga-lembaga internasional dan, yang lebih penting, untuk mengungkapkan bagaimana pemiskinan Palestina adalah sumber keuntungan bagi Israel, Otoritas Palestina, dan komunitas internasional? Bantuan kemanusiaan dan ekonomi tidak boleh dimanipulasi untuk kepentingan penjajah kolonial dan merugikan para korban mereka. (i7)

Pandangan-pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak selalu mencerminkan kebijakan editorial Middle East Monitor.

—————
Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit: 26/07/2018 – pukul: 14:57.

, ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *