Rahasia Tasbih Ketundukan dan Takbir Kemenangan

Ada yang menggelitik penulis ketika mendengar sambutan singkat Syeikh Abdul Jalil al-Karuriy pada pembukaan seremonial Multaqa Ruwwad ke-9 yang diadakan di Istanbul pada 20-21 Oktober 2017. Beliau mengomentari pembacaan ayat surah al-Isra’ yang diawali dengan tasbih dan diakhiri dengan takbir. “Jika suatu usaha pembelaan terhadap Masjid al-Aqsha dibuka dengan tasbih kepada Allah, maka insyaallah akan berakhir dengan sebuah takbir kemenangan.” ungkapnya dengan penuh semangat yang mengundang tepuk tangan para peserta.

Surah al-Isra’ yang dalam beberapa mushaf juga disebut dengan Surah Bani Israil, dibuka dengan sebuah kejadian fenomenal yaitu Isra’ Nabi Muhammad SAW. Perjalanan dahsyat dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha tersebut terekam secara tekstual dalam surah ini. Rasulullah SAW dipanggil menghadap Allah untuk menerima sebuah titah tentang shalat. Allah tak langsung memberangkatkan beliau ke Sidratul Muntaha dan kemudian ke suatu tempat yang hanya diketahui-Nya. Namun, beliau ditransitkan di Masjid al-Aqsha. Tentu hal ini mengandung hikmah tersendiri berupa amanah yang diberikan kepada beliau dan umatnya untuk menjaga Masjid al-Aqsha.

Kajian tematik surah ini menunjukkan perilaku buruk Bani Israil di masa lalu dan prediksi al-Quran tentang masa depan mereka yang juga tak kalah buruknya. Kerusakan-kerusakan yang dilakukan atau disebabkan oleh mereka ini kelak akan menjadi sebab punahnya mereka. Hal ini menjadi stimulus tersendiri bahwa kekuatan mereka yang mungkin terkesan hebat, pada hakikatnya menjadi salah satu penyebab utama kehancuran mereka. Hal tersebut karena kelebihan tersebut justru dijadikan alat dan sarana terjadinya kerusakan di bumi ini. Saat itulah Allah mengganti mereka dengan generasi yang mentauhidkan-Nya, Allah mengganti mereka dengan generasi yang sungguh-sungguh dan benar-benar mengagungkan asma-Nya.

Maka, dalam perjuangan melawan berbagai kezhaliman, termasuk yang dilakukan oleh penjajah di Palestina sudah semestina diawali dengan tasbih yang menjadikannya sebagai sarana totalitas ketundukan. Ketika bertasbih, seorang pejuang sedang menyucikan Allah. Ini maknanya, ia juga menyucikan niat perjuangannya, menyucikan motivasi perjuangannya, menyucikan diri dari godaan-godaan yang mungkin dijumpai di antara perjuangannya; godaan popularitas, materi dan lain sebagainya.

Jika seorang mampu melakukan tasbih secara total, maka akan menjadi nyata kata “SUBHANA” yang berbentuk mashdar yang menjadi akar kata dalam ungkapan kata Bahasa Arab. Artinya, dengan atau tanpa adanya orang-orang yang bertasbih kepada-Nya, Allah tetap saja Mahasuci. Sebelum adanya manusia pun alam seisinya sudah bertasbih kepada-Nya (sabbaha lillâh), dan hingga saat ini pun alam tetap saja menyucikan dan bertasbih kepada-Nya (yusabbihu lillâh). Maka tak heran, Allah juga memerintahkan manusia untuk bertasbih kepada-Nya (sabbihisma rabbika).

Totalitas tasbih ketundukan ini benar-benar akan menundukkan ego dan pamrih para pembela kebenaran dan pejuang yang melawan kezhaliman. Jika, mereka melakukannya dengan benar, maka mereka akan dengan mudah bertakbir mengagungkan Allah. Dalam shalat pun Allah menjadikan takbir sebagai pembuka dan pertanda perpindahan gerakan-gerakan shalat. Tasbih dan takbir sangat berkaitan erat. Karenanya kata-kata ini menjadi dzikir yang paling banyak yang dibaca seorang mukmin dalam shalatnya.

Jika takbir seperti ini sudah bisa dilakukan dengan ringan dan kontinyu, maka akan datang saatnya sebuah pekikan takbir kemenangan. Takbir yang menandai sebuah kuasa Sang Pemaksa yang mengirim para penakluk dan pengusir kezhaliman. Takbir yang menandai keagungan kuasa Sang Agung yang tiada berbatas. Takbir yang menandai kemenangan dan keberpihakan kebenaran meskipun sedikit pembelanya dan dilecehkan oleh banyak orang. Takbir pertanda raihan keberuntungan dan kebahagiaan. AlLâhu Akbar walLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 74

Istanbul, 21.10.2017

SAIFUL BAHRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *