PFGD Palestina Paska Kudeta Militer di Mesir

Asia Pacific Community (ASPAC) for Palestine kembali mengadakan Palestine Focus Group Discussin (PFGD) pada bulan Ramadhan ini dengan tema “Palestina Paska Kudeta Militer di Mesir”. Focus Group Discussin (FGD) yang diselenggarakan pada kamis (18/07/2013) di MUC building Pasar Rebo berkesempatan mengundang syeikh As’ad  Yakub At-Tamimi, seorang medical analisist sekaligus kepala penjamin mutu Rumah Sakit Islam Amman dan Istri beliau Ebtihal Kamil Abou Hanound yang berprofesi sebagai Kepala Sekolah TK islam dan Pembina Markaz  Tahfizh Al-Qur’an. Keduanya adalah warga Palestina yang tinggal di Amman Jordania. Turut juga mengundang ustadz Bachtiar Nasir, Lc sebagai pembicara lokal.

 

Kudeta militer terhadap Pemerintahan yang sah di Mesir berdampak kepada 1,5 Juta penduduk Jalur Gaza. Paska kudeta militer, Mesir menutup perbatasan Rafah yang menghubungkan antara Mesir dan jalur Gaza sejak 5/7/2013, dua hari setelah Presiden Mursi yang terpilih secara sah dikudeta oleh militer.

 

“Gaza kembali menjadi penjara dengan udara terbuka (open air prison) terbesar di dunia. Dukungan dan bantuan dari Pemerintahan ‘islamiyun’ Mesir sebelum dikudeta memberikan kami keleluasaan dalam menjalani kehidupan. Kondisi Mesir paska kudeta militer membuat warga gaza kembali seperti di era pemerintahan Mubarak, dimana akses yang bisa dilalui amat terbatas, sehingga kami hanya bisa mengandalkan terowongan-terowongan bawah tanah. Akan selalu ada perang hak melawan kebathilan hingga akhir zaman, ini sudah merupakan suatu ketetapan”, ujar Syeikh As’ad Yakub At-Tamimi dalam pemaparannya.

 

Ustadz Bachtiar Nasir pada pertemuan ASPAC hari ini sempat mengatakan bahwa Umat Islam di Indonesia harus bersatu padu dalam menghadapi tantangan dan konflik yang terjadi di Dunia Islam”. Pada Palestina Focus Group Discussion (PFGD) kamis ini, ASPAC for Palestine turut mengundang beberapa perwakilan Ormas islam antara lain PUI, Wahdah Islamiyah Islamiyah dan Perhimpunan Al Irsyad. “Sosialisasi kondisi terbaru permasalahan ummat seperti ini harus sering dilakukan.” ujar salah satu perwakilan Wahdah Islamiyah Jakarta. Tak ketinggalan beberapa utusan Lembaga Dakwah Kampus menyempatkan hadir seperti SALAM Universitas Indonesia, STIE SEBI, dan UKM Islam Hudzaifah Trisakti untuk mengetahui kabar terakhir penutupan perbatasan Rafah ini. (AKM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *