Persepsi Kemenangan

Sebagian orang mempersepsikan kemenangan dengan kekuasaan yang absolut. Sebagian lagi mempersepsikan kemenangan dengan hegemoni berupa keinginan yang bisa dipaksakan kepada pihak lain. Sebagian lagi mempersepsikan kemenangan dengan mengalahkan, menghinakan serta menindas orang lain. Sebagian lain mempersepsikan kemenangan dengan kekayaan tanpa batas, sehingga –menurutnya– ia sanggup melakukan apa saja dengan kekayaannya.

Sedangkan al-Quran mempersepsikan kemenangan yang diterjemahkan secara literal sebagai “al-fauz” dengan beberapa hal. Ada kalanya kata al-fauz diberi keterangan dengan “al-mubîn” yang berarti kemenangan yang jelas dan nyata. Di lain kesempatan disebutkan dengan keterangan “al-kabîr” yang bermakna kemenangan yang besar. Adapun sifat yang paling banyak disebut di dalam al-Quran adalah kata “al-azhim” yang berarti kemenangan yang agung, menandakan sebuah karunia yang luar biasa.

1.       Kata al-fauz al-mubîn disebut di dalam di dua tempat yaitu di QS. al An’âm: 16 dan al-Jâtsiyah: 30. Dalam dua kesempatan tersebut Allah menjelaskan kemenangan yang nyata dan jelas adalah ketika seseorang diselamatkan dari siksa dan adzab Allah, dan kemudian dimasukkan ke dalam golongan hamba yang diberi rahmat oleh-Nya.

2.       Kata al-fauz al-kabîr disebut hanya sekali yaitu di surah al-Burûj: 11 yang menjelaskan rahmat kemenangan Allah yaitu ketika seseorang diberikan surga Allah yang mengalir di bawahnya berbagai jenis sungai yang jernih dan indah.

3.       Penyebutan sifat terbanyak tentang al-fauz terdapat di beberapa tempat, di antaranya: QS. An-Nisâ’: 12, QS. Al-Mâ’idah: 119, QS. At-Taubah: 72, 89 dan 100, QS. Al-Hadid: 12 dan QS. At-Taghabun: 9). Bahwa seseorang akan benar-benar dikaruniai kemenangan yang hakiki dan kekal adalah pada saat ia berada di dalam surga Allah dan tinggal di sana selama-lamanya, meraih keabadian dalam kebahagiaan. Biasanya al-Quran menggambarkannya dengan kata “khâlidîna fîhâ

Demikianlah, sekilas tentang persepsi kemenangan di dalam al-Quran. Sangat sederhana dan lugas serta ringkas. Hanya saja, untuk meraihnya diperlukan upaya yang tak ringan, serta tak bisa dikerjakan sendirian. Karena harus terlebih dulu menyingkirkan kezhaliman terbesar, yaitu syirik serta aliansi kezhaliman lainnya. Pendustaan terhadap ayat-ayat Allah, kesombongan dan keangkuhan. Termasuk di antaranya kezhaliman yang dilakukan di antara sesama manusia. Karena kezhaliman bukan sekedar menjadi musuh kemanusiaan, tetapi sudah diproklamirkan sebagai musuh Allah. Dalam salah satu hadits qudsi-Nya, Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku…” (al-Hadis).

Maka, jika kita menemukan kezhaliman di bumi Allah, selaiknya kita berusaha menyingkirkannya. Jika tak bisa melakukan perlawanan, maka setidaknya tidak memberikan dukungan kepadanya untuk berkembang, hingga kemudian menindas kemanusiaan. Jika pun ini tak bisa dilakukan, maka menjauhlah dari sumber kezhaliman. Itulah yang akan menyelamatkan dari hancurnya peradaban manusia.

Salah satu bentuk kezhaliman yang nyata di zaman modern adalah penjajahan terhadap kedaulatan suatu bangsa, seperti yang dialami oleh Bangsa Palestina. Maka, mengembalikan kemerdekaan mereka, menjadi tugas kemanusiaan. Jika kita adalah bangsa Indonesia, maka itu adalah menjadi amanah konstitusi. Bila, kita adalah umat Islam, maka itu menjadi amanah menjaga Masjid Suci al-Aqsha. Dan menjadi apapun, semua akan bermuara satu: akhiri kezhaliman yang terjadi di Palestina, terutama di al-Quds dan Jalur Gaza. Sebagai apa dan siapapun, maka penjajahan dan kezhaliman di atas dunia ini harus dilenyapkan, karena bertentangan dengan nasionalisme dan jiwa kebangsaan, bertentangan dengan kemanusiaan, serta nilai-nilai ketuhanan. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 82

Jakarta,23.12.2017

SAIFUL BAHRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *