Peringatan Pembebebasan Al-Quds dan Al-Aqsha oleh Shalahuddin Al-Ayyubi

OLeh: Lulu Basmah

2 Oktober 1187 atau tepatnya 831 tahun lalu, pena sejarah telah mencatat kemenangan besar umat Islam dalam membebaskan kota suci Al-Quds dan Al-Aqsha di bawah komando Sang Ksatria IslamShalahuddin Al-Ayyubi.

Shalahuddin Al-Ayyubi yang memiliki nama asli Yusuf bin Ayyub lahir di Tikrit, wilayah di Kurdi utara Irak. Ia telah memulai karier militer sejak usia 14 tahun, ketika dirinya menjadi tentara yang pergi ke Damaskus di bawah pimpinan Sultan Nuruddin. Dan karir militernya semakin melejit ketika ia berhasil menaklukan dinasiti Fathimiyyah yang berhaluan Syiah.

Kemudian ketertarikannya tertuju pada Baitul Maqdis, yang selayaknya menjadi kota ibadah penuh damai, setelah pembebasan yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab untuk pertama kalinya. Dan harus tercoreng oleh peristiwa pembantaian berdarah terhadap penduduk Muslim di sana oleh para penguasa dzalim.

Berawal dari ketertarikannya terhadap Baitul Maqdis, membawa perjalanan panjang bagi Shalahuddin Al-Ayyubi dalam peristiwa pembebasan Al-Quds dan Al-Aqsha. Sosoknya yang penuh wibawa dan karismatik serta keteguhan keimanannya pada Allah SWT, memampukan dirinya mengukir kemenangan besar bagi umat Islam.

Pembebasan Al-Quds dan Al-Aqsha bukanlah sebuah kemenangan yang mudah untuk diraih Shalahuddin Al-Ayyubi, berbagai peperangan harus dilaluinya untuk membebaskan keduanya. Saat itu, Al-Quds dan Al-Aqsa dikuasai kaum Salibis yang dengan biadabnya membantai puluhan ribu kaum Muslim di sana. Salah satu perang besar yang terjadi antara kaum Muslim di bawah pimpinan dan kaum Salibis adalah perang Hittin, yang dimenangkan kaum Muslim.

Di antara kejadian masyhur dalam pembebasan Al-Quds dan Al-Aqsha adalah peristiwa gencata senjata antara Shalahuddin Al-Ayyubi dan Arnat seorang pemimpin kaum Salibis dari wilayah Karak. Salah satu poin penting dalam gencatan senjata tersebut adalah diperbolehkannya kafilah Islam bergerak tanpa hambatan dari negeri Mesir dan Syam. Namun, poin tersebut dikhianati Arnat yang menghadanng kaum Muslim dan menyita barang-barang mereka serta menghina Nabi Muhammad SAW. Kemarahan karena Allah dan Rasul-Nya bergejolak di dalam diri Shalahuddin Al-Ayyubi mendengar pengkhianatan Arnat, hingga ia bersumpah akan membunuh Arnat dengan tangannya sendiri.

Pada akhirnya kemenangan Shalahuddin Al-Ayyubi dan pasukan kaum Muslim terjadi di tanggal 2 Oktober 1187 M. (27 Rajab 582 H.). Saat Al-Quds ditaklukan, dengan penuh kearifan dan kebijaksaan ia memberikan jaminan keselamatan untuk seluruh penduduk kota tersebut.

Dan kepada kaum Salibis yang kalah perang, Shalahuddin Al-Ayyubi tidak menghabiskan seluruh pasukan kaum tersebut, akan tetapi hanya meminta mereka membayar Jizyah (pajak). Bahkan itu hanya dikenakan kepada mereka yang memiliki kemampuan harta saja. Serta toleransi tinggi yang ditunjukkannya kepada kaum non-Muslim, dengan mempertahankan tempat-tempat peribadatan mereka.

Namun, teringat akan sumpahnya, Shalahuddin Al-Ayyubi lalu mencari Arnat yang telah menghina Rasulullah SAW. Setelah bertemu dengan Arnat, Shalahuddin menawarinya untuk masuk Islam. Namun, dengan angkuhnya Arnat menolak, hingga akhirnya Shalahuddin memenuhi sumpahnya. (LB)

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *