Penutupan Tepi Barat Akan Hentikan 67% Konstruksi di Negara Zionis

Para pemuda Palestina dari desa Deir Nizam, barat laut Ramallah di Tepi Barat yang dijajah, berusaha menyingkirkan balok semen dari pintu masuk desa pada 15 Februari 2020, yang telah dipasang oleh tentara segera setelah pengumuman usulan rencana perdamaian Timur Tengah AS yang kontroversial bulan lalu [Issam Rimawi / Anadolu Agency]
 

Penutupan Tepi Barat yang dijajah oleh negara Zionis untuk menanggapi krisis coronavirus akan menjadi bencana bagi bisnis konstruksi di negara itu, demikian seperti dilansir oleh Globes.

Menurut Raul Srugo Presiden Asosiasi Pembangun Negara Zionis: “Penutupan ini berarti bahwa 70.000 pekerja Palestina tidak akan dapat bekerja di negara Zionis, dan itu akan menutup dua pertiga dari semua proyek di negara Zionis hampir keseluruhannya.”

“Ini akan memiliki dampak yang luas, bahkan lebih dari apa yang terjadi dalam industri pariwisata dan penerbangan sipil. Kerusakan di sektor konstruksi akan sangat besar, ”tambahnya.

Apa yang saya coba lakukan sekarang adalah mencegah penutupan wilayah ini,” Srugo menegaskan.

Berbagai komentar menunjukkan ketergantungan bisnis konstruksi negara Zionis kepada tenaga kerja Palestina, dan konsekuensi dari penutupan Betlehem yang semakin diperluas (Menurut Srugo ada 8.000 pekerja Palestina yang berasal dari kota itu).

Srugo juga mengatakan kepada Globes bahwa ada 500 pekerja dari Tiongkok yang pergi berlibur pada Januari lalu dan “tidak kembali, dan kami mulai merasakan efeknya”.

Menurut laporan itu, kepala Asosiasi Pembangun Negara Zionis bertemu MK Nir Barkat pekan lalu “dalam upaya untuk menyampaikan pesan yang jelas – penutupan Judea dan Samaria [Tepi Barat yang dijajah] berarti penghentian segera sebagian besar dari pembangunan ribuan gedung yang ada di seluruh negara Zionis. “

Yigal Govrin, ketua Asosiasi Insinyur Konstruksi dan Infrastruktur Negara Zionis dan pemilik bersama Waxman Govrin Geva Engineering mengatakan: “Pertanyaan utamanya adalah berapa lama hal ini akan berlanjut. Jika krisis berlanjut, masalahnya akan meningkat. “

“Anda harus melihat pada tahap mana masing-masing proyek berada. Proyek-proyek yang masih berada di tahap permulaan kurang rentan pada titik ini, tetapi jika anda berada pada tahapan mendekati final, masalahnya akan berbeda. “

“Kami sudah mengalami berbagai kendala yang disebabkan oleh keterlambatan dalam rantai pasokan untuk bahan bangunan, sementara ada beberapa masalah dengan alternatif ke China. Italia bukan alternatif, dan masalahnya juga ada di Turki. Sudah terjadi permulaan eksploitasi situasi yang tidak adil melalui kenaikan harga bahan bangunan. Ada pemasok yang menangguk keuntungan dari situasi ini. ”

—————
Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit 11 Maret 2020 jam 11:10 pagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *