Penjajah Zionis Akan Buka Misi Diplomatik di Oman



Negara Penjajah Zionis memperbarui hubungan resminya dengan Oman dan berencana untuk membuka misi diplomatik di Kesultanan itu, demikian seperti diklaim oleh Yossi Cohen, kepala Mossad, Badan Intelijen Penjajah Zionis.

Berbicara dalam sebuah konferensi kemarin di Herzliya, utara Tel Aviv, Cohen mengklaim bahwa “pembaruan hubungan resmi dengan Oman baru saja diumumkan dan telah terbentuk kantor perwakilan kementerian luar negeri di negara itu”.

Dia menambahkan bahwa langkah tersebut “hanyalah ujung yang terlihat dari sebuah upaya rahasia yang jauh lebih luas,” mungkin merujuk pada upaya penjajah Zionis untuk menormalkan hubungan dengan negara-negara Arab dan Muslim. Cohen mengklaim bahwa meskipun “kita [penjajah Zionis] belum memiliki perjanjian damai resmi dengan [negara-negara Arab lainnya], […] sudah ada komunalitas kepentingan, kerja sama luas dan saluran komunikasi yang terbuka”.

Kementerian Luar Negeri penjajah Zionis telah menolak untuk mengomentari pernyataan Cohen, seperti dilaporkan oleh ‘Times of Israel’. Demikian juga Perdana Menteri penjajah Zionis Benjamin Netanyahu – yang telah lama berusaha untuk menekankan upaya normalisasi negaranya – belum memberikan komentar terkait pembaruan hubungan ini.

Cohen juga berbicara tentang “kesempatan langka – mungkin yang pertama dalam sejarah Timur Tengah – untuk mencapai kesepahaman regional yang akan mengarah kepada kesepakatan perdamaian regional yang inklusif”. Dia menunjuk kepada kesamaan tujuan dalam mengkonter pengaruh Iran di kawasan itu yang dimiliki oleh negara penjajah Zionis dan banyak negara-negara Teluk. Dia mengklaim dengan ‘kepastian’ bahwa Iran bertanggung jawab atas sejumlah serangan baru-baru ini terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz, di lepas pantai Uni Emirat Arab (UEA).

Meskipun AS dan Arab Saudi menuduh Iran yang mengatur serangan, Iran dengan keras membantah klaim ini. UEA juga telah melunakkan tuduhannya terhadap Iran, dengan mengakui bahwa “kurang cukup memadai informasi” untuk meminta pertanggungjawaban Iran.

Klaim Cohen muncul kurang dari sepekan setelah Oman mengumumkan bahwa mereka akan membuka misi diplomatiknya bagi Palestina di Ramallah, Tepi Barat yang dijajah. Kementerian Luar Negeri Oman menulis dalam sebuah tweet bahwa “sebagai kelanjutan dari dukungan Kesultanan Oman untuk rakyat Palestina, Kesultanan telah memutuskan untuk membuka misi diplomatik baru bagi Negara Palestina di tingkat kedutaan besar”.

Kemenlu Oman juga mengatakan bahwa satu delegasi “akan melakukan perjalanan ke Ramallah untuk memulai pembukaan kedutaan,” tanpa memberikan rincian lebih lanjut atau batas waktu tertentu.

Pengumuman Oman tersebut dilakukan dengan latar belakang konferensi “Perdamaian Menuju Kesejahteraan” pekan lalu di ibukota Bahrain, Manama, di mana aspek-aspek ekonomi dari “Kesepakatan Abad Ini” telah dibahas. Mayoritas negara-negara Teluk menghadiri konferensi tersebut, meskipun faksi-faksi Palestina meminta negara-negara Arab untuk memboikot KTT itu.

Otoritas Palestina (PA) sejak itu telah menangkap – dan kemudian membebaskan – seorang pengusaha Palestina yang menghadiri konferensi tersebut, sementara Jalur Gaza yang terkepung menyaksikan demonstrasi besar-besaran yang mengutuk partisipasi negara-negara Arab dalam KTT itu. Negara-negara Arab lainnya, termasuk Maroko dan Irak, juga menyaksikan aksi demonstrasi yang luas.

Di masa lalu, Oman telah berada dalam pengawasan karena melakukan aksi normalisasi dengan negara penjajah Zionis

Pada tahun 1990-an, penjajah Zionis dan Oman sepakat untuk membuka kantor perwakilan perdagangan di negara masing-masing, tetapi kemudian ditutup pada tahun 2000 setelah pecahnya Intifada Kedua.

Pada bulan Desember 2018, Netanyahu melakukan sebuah kunjungan penting ke Kesultanan dan bertemu dengan Sultan Qaboos Bin Said dari Oman. Netanyahu kemudian membual bahwa, selama pertemuan itu, Bin Said telah memberikan izin kepada maskapai berbendera negara penjajah Zionis ‘El Al’ untuk bisa melintas di atas wilayah udara Oman.

“Karena itu, hanya satu hal kecil saja bagi kami yang harus dilakukan,” kata Netanyahu kepada wartawan ketika dia menunjuk ke Arab Saudi pada peta. Tanpa izin serupa dari Saudi, janji Muscat dianggap tidak berharga, karena Kesultanan Oman berbatasan dengan negara-negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negara penjajah Zionis.

Menteri Luar Negeri Oman sejak itu mencoba meremehkan hubungan negaranya dengan penjajah Zionis, pada bulan Februari menegaskan kembali komitmen Kesultanan terhadap solusi dua negara dan “sebuah proses damai untuk menemukan penyelesaian bagi masalah Palestina yang menjamin hak-hak mereka dan kepentingan bagi semua”. (i7)

——————

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit: 02 Juli 12: 57 siang. D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *