Penistaan Masjid al-Khalil

Jumat 25 Febuari 1994 15 bertepatan dengan Ramadhan 1414 H, Dunia dikejutkan dengan tragedi pembantaian Umat Islam di Masjid al-Khalil di kota Hebron, Palestina. Tindakan tersebut dilakukan oleh seorang Yahudi ekstrim, Baruch Goldstein yang menyamar sebagai seorang prajurit tentara israel yang beratribut lengkap dan membawa senjata mesin otomatis. Pria tersebut tiba-tiba muncul di depan pintu Masjid dan kemudian menembakkan senjatanya secara membabi buta ke arah jamaah shalat yang sedang melakukan sujud di rakaat kedua shalat subuh. Pada peristiwa tersebut lebih dari 60 jama’ah syahid dan 300 lainnya mengalami luka-luka.

Baruch Kappel Goldstien adalah seorang ekstrimis Yahudi warga Amerika dari gerakan radikal Kach. Dia tinggal di desa Kiryat Arba, dekat kota Hebron. Pernah mengikuti pelatihan militer di beberapa kamp pelatihan Zionis. Setelah berakhir masa tugasnya sebagai dokter di angkatan pertahanan israel (IDF), Goldstein bekerja sebagai dokter darurat yang selalu terlibat mengobati korban peperangan Israel dengan Palestina. Yahudi ekstrim yang sangat anti terhadap Islam dan bangsa Arab. Tentang kebenciannya terhadap orang islam diakui bukan saja oleh teman seprofesinya, namun siaran pers Israel pernah melaporkan bahwa Goldstein selalu menolak mengobati orang-orang Arab yang menjadi korban dalam peperangan.

Selain tragedi tersebut di atas masih ada sederet penistaan yang luput dari pemberitaan media, tidak terungkap dan sangat jarang diketahui khalayak. Seorang peneliti Palestina mencatat telah terjadi lebih dari 660 kali penistaan di Masjid al-Khalil sejak tahun 1967 hingga akhir tahun 2000. Muhammad Deyab Abu Saleh, peneliti Palestina, menjelaskan bentuk penistaan yang dilakukan Zionis di Masjid al-Khalil, diantaranya:

  1. Pembantaian.
  2. Penghinaan terhadap Islam.
  3. Mengganggu jama’ah sholat..
  4. Memasukkan bahan-bahan kimia ke dalam tempat air minum di Masjid, di pintu, di jendela dan tempat sujud, serta larangan shalat di sana.
  5. Menjadikannya sebagai tempat hiburan untuk bernyanyi dan berdansa.
  6. Merubah infrastruktur bangunan Masjid.
  7. Merubah sebagian tempat di Masjid menjadi sinagog Yahudi.
  8. Memasang kamera pemantau, dan alat penyadap di sudut-sudut Masjid.

Betapa jelas misi Zionis untuk menghapus identitas Arab dan Islam sekaligus melakukan Yahudisasi di Hebron dan kota-kota di Palestina yang telah mereka kuasai. Hari pertama Zionis Israel menguasai Hebron, mereka segera menuju Masjid al-Khalil untuk misi tersebut. Berikut kaleidoskop penistaan yang dilakukan Zionis Yahudi di Masjid al-Khalil:

8 Juni 1967: Setelah berhasil menguasai kota Hebron, Zionis Yahudi segera menduduki Masjid secara paksa. Mereka masuk ke dalam Masjid diikuti para petinggi Rabi Yahudi sambil mengibarkan bendera Israel di bagian atas Masjid dan melarang Jama’ah Muslimin untuk shalat di sana.

18 Desember 1967: Penjajah Israel memasukkan lemari kayu yang berisi Kitab Taurat ke dalam Masjid.

11 Oktober 1968: Ektrimis Yahudi merobohkan tangga menuju Masjid dan menghancurkan sumur-sumur bersejarah yang bersebelahan dengan pagar Masjid.

31 Oktober 1968: Petinggi militer di Hebron memerintahkan kepala bidang wakaf dan arsif untuk mengambil alih lokasi ya’qubiyah (bagian dari Masjid) dan menjadikannya sebagai tempat ibadah bagi Yahudi.

2 November 1976: 15 pemukim Yahudi masuk ke Masjid, kemudian merobek dan menginjak-injak mushaf Al-Qur’an. Mereka berdiam di Masjid beberapa jam.

13 Januari 1977: Seorang serdadu Israel berdiri di belakang jama’ah shalat Zuhur dan melempari mereka dengan bermacam barang dan zat-zat tertentu sehingga jama’ah merasa sesak bernafas.

13 Mei 1987: Serdadu Israel yang berada di Masjid mencela Rasulullah SAW saat kumandang azan dan mengancam untuk melakukan pembantain jika adzan dilanjutkan.

13 Oktober 1987: Zionis Yahudi memasang alat-alat elektronik di tiga pintu masuk utama masjid, seperti memasang kamera televisi dan pintu otomatis.

18 September 1991: Pemukim Yahudi melemparkan kursi ke arah jama’ah shalat Ashar, mengobrak-abrik portal besi lalu masuk ke Masjid dengan tetap memakai sepatu dan sandal mereka. Tidak cukup itu, mereka memukuli jama’ah yang sudah tua dan lemah.

15 Agustus 1994: Zionis Israel memasang 14 kamera baru, 58 lampu sorot dan alat peringatan baru.

13 Februari 1995: Zionis Israel membangun ruangan permanen untuk polisi dan dua kamar ganti militer di taman masjid.

10 Juni 1996: Militer Zionis Israel memasang alat hitung di pintu-pintu otomatis untuk mengetahui jumlah jama’ah shalat.

31 Januari 1998: Pemukim Yahudi menumpahkan air panas di kepala dua penjaga Masjid.

21 Pebruari 2010: Zionis Israel menetapkan Masjid al-Khalil dalam daftar situs-situs peninggalan Yahudi, dan menyiapkan dana sebesar US$ 1,6 juta untuk merenovasinya.

Februari 2014 : Sampai hari ini Otoritas Israel telah melarang adzan di Masjid al-Khalil sebanyak 49 kali. Seluruhnya terjadi selama bulan Februari ini. Israel berdalih adzan mengganggu para pemukim Yahudi karena membuat terlalu banyak suara, seperti yang dikutip dari Saudigazette, Senin (3/2). Tayseer Abu Snaineh, Direktur Departemen Wakaf di Hebron mengatakan, bahwa pemerintah Israel mencegah kumandang adzan di Masjid karena alasan sepele yakni demi kenyamanan pemukim Yahudi yang mengunjungi Kota Tua Hebron.

Sampai hari ini, 85% pengelolaan serta pengawasan Masjid al-Khalil diatur oleh Yahudi dengan dalih menjaga kenyaman penduduk Yahudi di sekitar Masjid. Pelarangan dan penutupan Masjid seringkali dilakukan, termasuk memagar makam Nabi Yakub dan istrinya yang berada di dalam Masjid serta klaim kepemilikan Yahudi atas makam tersebut. Bagi Umat Islam, makam tersebut hanya boleh dikunjungi dalam sepuluh hari dalam setahun, yaitu awal Muharam, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, tiga hari Tasyrik dan hari jumat pada bulan Ramadhan. Di luar hari-heri tersebut, kantor-kantor urusan agama dikunci oleh pihak militer Zionis termasuk gedung Mahkamah Syariah, kantor pengembangan dan lain-lain. Wallahu a’lam.

 

M.Ilham

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *