Penistaan Al-Aqsha dan Standar Ganda AS

Siapapun memahami bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah Saw. tidak bisa dipisahkan dari keagungan Masjid Al-Aqsha. Sebagai tempat persinggahan dalam peristiwa mulia tersebut, Al-Aqsha tentu memiliki keutamaan tersendiri. Persinggahan Rasulullah Saw. di Masjid Al-Aqsha bukan kebetulan. Jika saja Al-Aqsha tidak menjadi tempat khusus yang dituju, maka perjalanan bersejarah tersebut bisa dilakukan dari Mekkah langsung menuju ke langit. Persinggahan Rasulullah di Masjid Al-Aqsa menyimpan keutamaan dan isyarat tersendiri.

Ada keterkaitan yang sangat erat antara tempat permulaaan Isra’ dengan tempat berakhirnya. Keterkaitan antara Masjidil Haram dan Masjid Al-Aqsa mengisyaratkan tentang  kesucian kedua masjid tersebut sekaligus lokasi dari kedua Masjid tersebut berada. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Siapa yang memuliakan Masjidil haram, ia juga harus memuliakan “saudara kandung”nya yang lebih muda empat puluh tahun sebagaimana penjelasan Rasulullah Saw. ketika ditanya oleh Sahabat Abu Dzar bahwa jarak pendirian antara kedua masjid mulia tersebut adalah selama empat puluh tahun.

Sepanjang sejarah, Al-Aqsha menjadi simbol kemuliaan Umat Islam. Sejarawan Muslim Ibnu Hisyam, menuturkan bahwa Masjid Al-Aqsa dibangun sejak zaman manusia pertama, Adam As. Kemudian diperbaharui oleh bapak para nabi, Ibrahim As. dan selanjutnya oleh Nabi Sulaiman As.

Namun, saat ini Al-Aqsha dalam bahaya. Penodaan dan penistaan yang dilakukan Israel terhadap Masjid Al-Aqsha sudah berlangsung sejak lama. Semua itu untuk tujuan merobohkan dan menghancukan Masjid mulia tersebut sebagai kiblat pertama kaum Muslimin. Pada tahun 1969, terjadi kerusakan parah, disebabkan Yahudi menggencarkan pembakaran terhadap masjid Al-Aqsha. Sedangkan hingga saat ini, penggalian terowongan terus berlanjut di bawah dan sekitar Masjid. Sampai dengan agustus 2012 penggalian terowongan mencapai 47 pos. Mereka juga menodai masjid suci Al-Aqsha dengan cara mendirikan tempat-tempat hiburan seperti cafe, bar dan lainnya tepat di depan masjid tersebut. Dan masih banyak lagi sederetan peristiwa penistaan yang mereka lakukan.

Bagaimana sikap AS terhadap penistaan Al-Aqsha yang dilakukan Israel? Data dan fakta menjelaskan bahwa AS tidak hanya bersikap acuh tak acuh terhadap penistaan tersebut, lebih dari itu, begitu terlihat keberpihakan AS terhadap Yahudi untuk mengokohkan eksistensi mereka di Bumi Palestina.

 

Jika dilakukan perbandingan dengan sikap AS terhadap salah satu simbol sakral keberagaman Yahudi, maka bisa dipahami keberpihakan AS terhadap mereka berdasar kepada standar ganda dalam menyikapi konflik ini.

Bandingkan sikapnya terhadap salah satu peristiwa bersejarah Yahudi, Holocaust misalnya. Holocaust sebagai simbol sakral ideologi Yahudi didefinisikan sebagai peristiwa penganiayaan dan pemusnahan (genosida) orang Eropa keturunan Yahudi secara sistematis yang disponsori negara Jerman Nazi dan sekutunya dibawah pimpinan Adolf Hitler yang meletus pada tahun 1933-1945, yang menyebabkan tewasnya sekitar enam juta orang Yahudi dalam peristiwa tersebut.

Peristiwa holocaust hanya sebagai klaim Israel untuk memuluskan rencana besar mereka mendirikan Negara Israel di Palestina, dan selanjutnya menguasai kawasan Timur Tengah. Banyak pihak yang meragukan dan menyatakan bahwa holocaust hanya mitos belaka.

Ada yang meragukan, benarkah Hitler pernah memerintahkan pembantaian massal terhadap orang-orang Yahudi? Karena untuk membunuh massal sebanyak enam juta orang membutuhkan dana yang sangat besar, sementara ketika itu Nazi Jerman sedang menghadapi perang yang membutuhkan biaya sangat besar. Selanjutnya, mengapa Hitler membantai orang-orang Yahudi secara besar-besaran ketika itu? Apakah Yahudi dianggap menjadi ancaman besar bagi eksistensi Nazi Jerman? Padahal saat itu Yahudi tidak mempunyai Negara dan militer. Dan masih banyak lagi sederetan pertanyaan yang menggantung di balik mitos holocaust Yahudi ini.

Namun demikian, AS mengeluarkan UU Gitto untuk mengokohkan holocaust. Bahwa siapa yang menolak peristiwa tragedi holocaust, maka ia akan dianggap anti-Yahudi (anti-Semit) dan akan diganjar hukuman penjara dan denda.

Mungkin UU Gitto bisa disebut sebagai representasi UU penistaan yang dikeluarkan AS, tetapi UU penistaan itu hanya untuk melindungi simbol sakral Yahudi, tidak dengan Al-Aqsha. Itulah standar ganda Amerika. Selain tentunya mengisyaratkan betapa besar pengaruh lobi Yahudi di sana.

Diantara ilmuan yang menjadi korban diberlakukannya UU Gitto adalah Robert Forison. Robert Forison menyatakan, “Sampai sekarang, mereka tidak bisa menjawab argumentasi penolakan kita atas kebenaran tragedi Holocaust, justru mereka menyerang kita dengan menyeret kita ke pengadilan, menindak dan menyiksa.” Forison dipecat dari mengajar di Universitas Lion pada 1978 akibat mempertanyakan kebenaran holocaust. Ilmuan lain, Profesor Roger Garudy sempat menolak kisah Holocaust, sehingga ia diseret ke pengadilan dan dijatuhi hukuman.

Seorang peneliti asal Australia, Fredick Toban, dihukum enam bulan penjara karena menolak peristiwa holocaust. Menurutnya, “Di Eropa, setiap orang bisa menghujat Yesus dan Maryam yang suci, namun tidak dapat mengkritik Yahudi dan holocaust.”

Penyikapan AS terkait penistaan terhadap simbol kemuliaan Umat Islam merupakan satu sisi dari seluruh penyikapan terhadap konflik Palestina-Israel. Penyikapan yang berdasar standar ganda AS. Namun, Al-Aqsha sebagai simbol kemuliaan bagi seluruh Umat Islam dimanapun mereka berada, menjadi simbol yang bisa menyatukan logika dan gerak mereka. Lintas tempat, waktu dan madzhab. Selama mereka masih sebagai muslim.

Ahmad Yani, Lc. MA.

(Ketua Divisi Kajian ASPAC For Palestine)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *