Pengurus ASPAC Temui Dewan Pendiri

Pengurus ASPAC Temui Dewan Pendiri

 

Desember, Jakarta. Menjelang akhir tahun 2014, pengurus Asia Pacific Community for Palestine road show menemui sejumlah dewan pendiri di berbagai tempat. Silaturahmi ini dilakukan dalam rangka menyampaikan laporan tahunan 2014 dan diskusi berkenaan dengan program tahun 2015. 

 

Prof. Dr. Marwah Daud Ibrahim, MA. menjadi orang yang pertama kali dikunjungi. Ditemui di hotel Golden di bilangan Gunung Sahari (29/11), Bunda, sapaan akrab Ibu Marwah, menerima dengan senang hati. Walaupun kesibukan beliau dalam mengisi berbagai training kehidupan, Bunda tetap antusias dengan masalah Palestina. “Kita prihatin, mengapa pemerintah tidak mau menerima perwakilan Hamas di Indonesia?”, tanya Bunda. Dalam kesempatan ini, ASPAC mengundang Bunda sebagai pembicara dalam acara Focus Group Discussion bertemakan intifadhah, yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 20 Desember 2014 di Perpustakaan Universitas Indonesia. “Insya Allah siap, asal waktunya tidak bentrok dengan agenda lain”, lanjut Marwah.

 

Tokoh kedua yang ditemui adalah Ustadz Bachtiar Nasir. Bertempat di Ar-Rahman Qur’anic Learning (AQL) di daerah Tebet (1/12), ustadz Bachtiar menerima kunjungan ASPAC. Tokoh yang dikenal dengan anti syiah ini banyak memberikan masukan terkait perjalanan ASPAC. “ASPAC harus menjadi lembaga yang bisa menaungi dan mengajak tokoh-tokoh di wilayah Asia Pasifik untuk peduli Palestina”, sambut Bachtiar. Beliau juga memberikan komentar positif dengan kalender ASPAC 2015 yang bertemakan tentang kota-kota di Palestina. “Bagaimana kalau Spirit of Aqsa (SoA) kerja sama dengan ASPAC dalam sosialisasi kalender ini?”, pinta Bachtiar.

 

Lain lagi dengan tokoh pendiri ketiga yang ditemui ASPAC, Bapak Suripto. Alih-alih ingin bertemu di tempat yang disepakati sebelumnya, tapi tokoh ini ingin bertemu di kantor ASPAC (4/12). “Masa pertemuan tentang ASPAC di tempat lain? Ya harus di kantor ASPAC dong”, sanggahnya. Suripto memberikan masukan banyak tentang ASPAC ke depan. “ASPAC semakin lama semakin berkembang dan sekarang sudah mempunyai produk sendiri (buku Ensiklopedia Mini Masjid Al-Aqsha). Maka produk itu harus dikembangkan dan disosialisasikan ke seluruh daerah, bahkan ke wilayah Asia Pasifik”, tambahnya.

 

Tokoh terakhir yang ditemui adalah KH. Ahmad Sadeli Karim. Tokoh dari Mathla’ul Anwar (MA) ini sudah semakin sibuk, terlebih setelah menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mewakili Provinsi Banten. Ditemui di kantor MA (5/11), beliau menuturkan tentang kerja sama ASPAC. “Nanti saya akan bantu pertemuan ASPAC dengan BKSAP (Badan Kerja Sama Antar Parlemen) melalui anggota DPD yang menjadi salah satu pimpinan lembaga tersebut”, sambut Sadeli.

 

Beberapa pendiri ASPAC lainnya belum mendapat konfirmasi waktu bertemu, dikarenakan agenda yang agak padat. Semoga suatu hari seluruh anggota dewan pendiri bisa berkumpul dalam satu waktu dan satu tempat. (Alf)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *