Pengasingan Khatib Al-Aqsha dan Gerakan ‘Fajar Agung’

Syeikh Ikrima Shabri, Khatib Masjid Al-Aqsha diangkat di pundak saat memasuki Masjid Al-Aqsha dari Bab Al-Asbath pada Jumat (24/01/2020), Foto: www.palinfo.com

Oleh: Khalid

Kota Baitul Maqdis, 26/01/2020 hari Ahad jam 10 pagi waktu setempat Syeikh Ikrima Shabri dijadwalkan menjalani interogasi di kantor polisi Al-Qishla atas dugaan ‘melakukan hasutan’. Pemanggilan itu dilakukan pada jam dua malam hari kemarin oleh kepolisian negara Zionis yang menyerbu rumahnya dan menyerahkan surat keputusan pengasingan terhadap dirinya dari Masjid Al-Aqsha selama masa empat bulan.

Keputusan itu diterbitkan oleh negara Zionis pasca Imam Masjid Al-Aqsha itu melanggar keputusan sebelumnya yang mengasingkan beliau untuk tempo waktu satu pekan. Pada hari Jumat (24/01) Syeikh Shabri berhasil masuk melalui Bab Al-Asbath, bagian utara Al-Aqsha, dengan didampingi tokoh-tokoh pengacara kota Baitul Maqdis. Meski pada awalnya polisi Zionis berupaya mencegahnya masuk, Syekh Shabri bersikeras bahwa dia memiliki hak untuk masuk ke dalam masjid.

Situs Aljazeera melaporkan bahwa pada hari Jumat itu hadir sebanyak 25 ribu orang menunaikan shalat Jumat di Masjid Al-Aqsha meski dalam kondisi cuaca berbadai, dan aksi-aksi yang dilakukan kepolisian penjajah Zionis menghalangi kedatangan para jamaah untuk shalat. Ada ratusan kendaraan yang datang dari arah kota-kota di Al-Dakhil dihentikan oleh penjajah. Penjajah juga menggunakan tehnik ancaman, dan serangkaian aksi pengangkapan beberapa malam sebelumnya, pengasingan, pemberhentian kendaraaan, dan perampasan payung-payung yang digunakan untuk menyambut dan menghantarkan jamaah ke dan dari Al-Aqsha.

Polisi yang berpatokan kepada surat keputusan pengasingan beliau akhirnya tidak bisa mencegah Imam yang diangkat di atas pundak banyak warga yang berjalan sambil meneriakkan secara berulang-ulang kalimat “Allahu Akbar!” saat mereka memasuki masjid.

Sebuah keputusan yang menurut pandangan Syeikh Shabri sebagai hukum yang batil dan tidak sah secara hukum. “Karena shalat Jumat adalah kewajiban bagi setiap muslim, dan tidak ada negara di dunia ini yang melarang warganya mendatangi tempat ibadah kecuali negara Zionis”, demikian komentar beliau seperti di kutip oleh Majalah Al-Mujtama.

Keputusan jamaah masjid untuk melawan hukuman pengasingan ini diambil beberapa jam pasca penyerbuan oleh penjajah Zionis terhadap Masjid Al-Aqsha yang menggunakan pelontaran bom gas dan peluru karet pada pagi harinya di halaman Masjid Al-Aqsha, sebagai aksi balasan adanya seruan dan ajakan untuk melaksanakan shalat subuh di masjid Al-Aqsha pada Jum’at ketiga secara berturut-turut.  

Sosok Syekh Ikrimah Shabri

Syeikh Shabri mengaku telah menjadi Imam dan Khatib di Masjid Al-Aqsha sejak tahun 1972. Bagi beliau shalat di Al-Aqsha adalah seluruh hidup itu sendiri. Beliau menegaskan “keputusan tidak adil siapapun tidak akan bisa menghalangi saya dari melaksanakan shalat dan khutbah di Masjid Al-Aqsha hingga saya menghadap Tuhan dalam keadaan ‘ribath’ di dalam Al-Aqsha dan kota Baitul Maqdis.

Saat ini Syeikh Shabri berusia lebih dari 80 tahun yang menurut ukuran usia pada umumnya adalah lebih banyak menghabiskan waktu di rumah menikmati hari tua dengan istirahat bersama anak dan cucu. Akan tetapi besarnya permasalahan yang mengancam kehormatan Masjid Al-Aqsha membuatnya bergelora bangkit dan memandang bahwa tempat istirahat yang pantas bagi dirinya adalah dengan berada di antara mihrab dan mimbar Al-Aqsha, dan berada di antara anak-anak dan orang-orang yang dicintainya di dalam masjid meski derasnya hujan dan hawa dingin yang menusuk dan itu menjadi penghangat hatinya dan jiwanya dan memberikannya nutrisi kekuatan dan kesabaran.

Permusuhan Kepada Syeikh Shabri adalah Permusuhan Terhadap Umat Islam

Seorang analis politik dari Al-Dakhil Palestina mengomentari keputusan pengasingan dan perlakuan negara Zionis terhadap Syekh Shabri bahwa Syekh Shabri merupakan simbol keteguhan dan keyakinan dan pembelaan bagi Masjid Al-Aqsha dan juga kota Baitul Maqdis yang diberkahi dan juga seluruh Umat Islam tidak hanya warga kota Baitul Maqdis saja atau Palestina atau Arab saja.

Karenanya dengan semata-mata menginterogasi beliau terkait masalah shalat, pembelaan beliau yang mulia terhadap Al-Aqsha dimana beliau adalah khatibnya ini merupakan tindak permusuhan bagi setiap warga Palestina, Arab dan Umat Islam. Dan mengasingkan beliau meski hanya sejam saja dari Masjid Al-Aqsha merupakan tindak sewenang-wenang dan tidak sah. Apalagi jika pengasingan itu untuk masa satu pekan. Oleh karenanya rasa simpati yang luas terhadap beliau merupakan bentuk simpati terhadap Al-Aqsha. Keputusan pengasingan ini tidak dibiarkan berlalu begitu saja, dan kesadaran akan bahayanya permasalahan ini sudah menggema tidak hanya di Palestina tapi juga ke berbagai belahan dunia.

Gerakan ‘Fajar Agung’

Gerakan ‘Fajar Agung adalah sebuah upaya yang dimaksudkan untuk terus meningkatkan jumlah masyarakat agar mendatangai dan melakukan ‘ribat’ atau berdiam diri dalam rangka beribadah di Masjid Al-Aqsha, khususnya di waktu fajar atau subuh. Ini untuk menyadarkan masyarakat Palestina bahwa memberikan perlindungan kepada Al-Aqsha adalah tanggung jawab mereka.

Ini Dikarenakan kondisi terkini, negara penjajah Zionis melakukan berbagai manuver demi merebut kembali Musholla Bab Al-Rahmah (terletak di dalam kompleks Al-Aqsha) yang berhasil direbut oleh Umat Islam Ferbruari 2019 lalu. Gerakan yang sama juga berlaku di Masjid Al-Ibrahimi di kota Hebron dengan latar belakang penyerbuan rutin oleh penjajah Zionis ke masjid tersebut.

Gerakan yang bermula sejak tgl 10 Januari 2020  ini terkait dengan semakin dekatnya peringatan setahun kemenangan atas Bab Rahmah. Sudah banyak manuver yang dilakukan oleh penjajah Zionis untuk merebut kembali Bab Al-Rahmah al: menggerakan pemukim untuk melakukan penyerbuan rutin ke bagian timur Al-Aqsha dimana Bab Al-Rahmah berada; melakukan ritual Talmud di sana mengasingkan dan menangkapi jamaah shalat dan orang yang  melakukan ‘ribath’ di masjid.

Itu semua merupakan bagian dari serangkaian aksi negara Zionis untuk merebut kembali Bab Rahmah, dari serangkaian tujuan lainnya yang terkait dengan penguasaan Zionis terhadap Al-Aqsha termasuk mencampuri urusan internal administrasi  masjid.

Gerakan ‘Fajar Agung’ ini juga menjadi bukti bahwa meski terjepit dalam kesusahan, namun Umat Islam di kota Baitul Maqdis masih terus berjuang dalam membela dan mempertahankan Masjid tersuci ke-3 dan pernah menjadi kiblat pertama Umat Islam ini. Warga kota Baitul Maqdis berhasil merintangi negara Zionis meyahudisasi kota itu dan merebut Al-Aqsha. Ini mereka lakukan di tengah kondisi mereka yang lemah,  dukungan yang sedikit dan serangan Zionis yang sangat gencar dan pengorbanan yang dilakukan oleh sosok seperti Khatib Masjid Syeikh Ikrimah Shabri (i7/Aljazeera/palinfo/almugtama/arab48/middleeastmonitor).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *