Penganut Kristen-Zionis Swedia akan Berlayar ke Israel, Memprotes Freedom Flotilla


Seorang pemeluk Kristen-Zionis Swedia terkemuka, Stefan Abrahamsson, mengumumkan kemarin (09/08) bahwa ia akan memberangkatkan kapal layarnya menuju Israel sebagai bentuk protes terhadap Freedom Flotilla yang mencoba memecahkan blokade lautan Gaza awal bulan ini.

Abrahamsson mengumumkan bahwa kapal pesiarnya akan berlayar dari Gothenburg di Swedia menuju Herzliya, tepat di utara Tel Aviv, membawa sekitar 40 pendukung pro-Israel untuk “menunjukkan solidaritas” kepada negara “Israel”. Kapal pesiar, yang bernama Elida, akan berlayar pada 25 Agustus dan diperkirakan akan tiba di “Israel” pada bulan Oktober, demikian seperti dilansir oleh Times of Israel. Pelepasan keberangkatannya akan dihadiri oleh oleh Lars Adaktusson, seorang anggota parlemen Eropa (MEP) untuk Swedia.

Abrahamsson menjelaskan di halaman Facebook-nya bahwa: “Kami ingin memecah kesunyian atas penganiayaan berat dan pembersihan populasi Kristen yang terjadi di wilayah ini. Sebagai satu-satunya demokrasi di Timur Tengah di tengah kediktatoran, Israel menyambut kami dalam acara solidaritas ini dengan hak asasi manusia, kebebasan berekspresi, kebebasan beragama dan nilai-nilai demokrasi yang fundamental. Pada gilirannya, kami mengambil sikap untuk membela nilai-nilai yang diperjuangkan Israel. ”

Langkah itu dilakukan hanya seminggu setelah Freedom Flotilla, yang terdiri atas dua kapal dari Norwegia dan Swedia, dicegat di perairan internasional ketika mencoba untuk memecahkan pengepungan Israel di Gaza. Kapal-kapal – yang diberi nama Al-Awda dan Freedom – membawa lusinan aktivis pro-Palestina serta bantuan kemanusiaan dan peralatan medis penting untuk diberikan kepada penduduk Jalur Gaza yang terkepung. Para aktivis di kapal itu dihadang dengan kekerasan oleh pasukan Angkatan Laut “Israel” dan akhirnya dideportasi dari Israel.

Salah satu aktivis di kapal Al-Awda adalah Dewan Pendiri MAP (Medical Aids fot Palestinians), Dr Swee Ang yang dalam kesaksian pribadinya, menggambarkan bagaimana pasukan “Israel” menyerang Charlie, seorang aktivis di kapal dengan tembakan setrum dan memukulnya, merampas telepon genggam dan menggeledah-telanjang kru kapal itu sebelum melemparkannya ke dalam Penjara Givon, dekat Ramleh. Aktivis lainnya yang ada di kapal, Divina Levrini, dilarang untuk mengkonsumsi obat-obatanya.

Dukungan pemeluk Kristen-Zionis untuk Israel telah berlangsung lama, khususnya di Amerika Serikat. Kelompok ini membentuk basis dukungan yang luas bagi Presiden Donald Trump, dan dianggap sebagai pertimbangan domestik kunci dalam keputusan Presiden memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem pada bulan Desember dan memberikan jaminan jutaan dolar dalam bentuk bantuan militer AS kepada Israel. (i7)

————–

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit: 10/08/2018, jam: 12:16 siang.

, , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *