Pengajian Jumat Masjid Aqsha: Pemisah Dalam Kehidupan Setiap Pengemban Da’wah

 Oleh: Syekh Sa’id Al-Karomiy (Abu Abdur Rahman)

Disampaikan dalam pengajian Jumat, Masjid Aqsha, 08 Syawal 1439 H. – 22 Juni 2018.

 

Segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta. Shalawat dan salam kepada Nabi penunjuk jalan Muhammad, kepada keluarga, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai hari kiamat. Maha suci Engkau ya Allah tidak ada ilmu kami kecuali yang engkau telah ajarkan kepada kami. Engkaulah Zat Yang Maha Mengetahui lagi Bijaksana. Ya Tuhanku, cerahkanlah dadaku, dan mudahkanlah urusanku, dan bukakanlah belenggu di lidahku, agar mereka memahami ucapanku.

Wa ba’d,

Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Firman Allah Tabaraka wa Ta’ala dan sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad sallallah ‘alaihi wasallam. Sesungguhnya sejahat-jahat perkara adalah sungguh perkara yang diada-adakan. Setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di dalam neraka.

Kita berjumpa wahai saudara-saudara yang mulia di Masjid Al-Aqsha yang diberkahi. Kita mulai pengajian kita dengan tema “Pemisah di dalam Kehidupan Setiap Pengemban Da’wah.”

Setiap pengemban da’wah seharusnya memiliki fikrah atau visi pandangan yang dia akan capai dan dia akan wujudkan di muka bumi. Dan tujuan dari pengemban da’wah ini adalah Risalah para Nabi semoga shalawat dan salam kepada mereka.

Lalu apakah dia pemisah dalam kehidupan ini? Yang selayaknya setiap pengemban da’wah ini berjalan mengikutinya.

 

Pengertian Secara Etimologi

Saya akan coba jelaskan kata “al-mifshal” atau pemisah yang saya pergunakan di dalam tema ini. “Al-fashlu” secara bahasa berarti pemisah antara dua hal.

Dan setiap pertemuan dua tulang badan ini disebut “mifshal” atau persendian   (Syekh memberikan isyarat ke pergelangan tangannya sebagai contoh) ini adalah “persendian antara pergelangan tangan dan lengan bawah.” Dan, (Syekh memberikan isyarat ke sikunya sebagai contoh) ini adalah “persendian antara lengah bawah dan bisep. Dan persendian bahu antara bisep dan bahu. Dan setiap persendian manusia antara dua bagian (disebut “mifshal”). “Mifshal” adalah kebenaran dari ucapan: “di dalam tubuh ada tempat persendian. Diantara dua persendian ada “washl” yaitu pemutus antara kebenaran dan kebatilan.”

Dia juga berarti, menyapih anak bayi, sebagaimana dalam firman Allah ta’ala وفصاله في عامين  artinya dan sapihannya adalah dalam dua tahun.

Dan “mufashhal” seperti “muadzam”, adalah surah-surah mufashalaat (pemisah). Di dalam Alquran terdapat perbedaan di kalangan para Imam dari surah “Al-hujurat” sampai akhir Alquran atau dari “Al-jatsiiyat” sampai akhir Alquran, atau ada pendapat dari surah Muhammad yang merupakan surah Al-Qitaal atau peperangan sampai akhir Alquran. Karena didalamnya ada pemisah antara surah-surah yang dinamakan sebagai surah-surah “al-mufashhal”

 

Makna “Mafashil” atau Pemisah

Sekarang saya masuk ke dalam  inti “mafashil” yang selayaknya dimiliki oleh setiap pengemban da’wah, pembawa fikrah atau visi, pembawa risalah (misi)  di dalam kehidupan. Saya mengambilnya dari Surah Muhammad sallallah ‘alaihi wasallam  yang nama lainnya adalah surah “Al-Qitaal” atau peperangan.

Mifshal ke-1, menjelaskan tabiat interaksi antara pemegang keimanan dan pemegang kekufuran dan kesesatan. Dari permulaan surah yang dimulai dengan mengajak dialog secara langsung  dan kebencian tanpa tedeng aling-aling agar setiap pembawa fikrah dan setiap pengemban da’wah faham bahwa inilah dia Islam kita. Dan bagi siapa yang menyelesihinya agar berinteropeksi diri. Ketika firman datang dari Allah subhanahu wa ta’ala secara langsung tanpa pembukaan lagi, yaitu dengan cara ini  membatasi “mifshal” antara dua hal. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menghapus segala amal mereka.

Orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan kabajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad, dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memperebaiki keadaan mereka.

Yang demikian itu karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil, dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia.

(Q.S. Muhammad 1-3)

 

“Mifshal” ini dinamakan “Mifshal Isti’la ahlil haq  alal bathil”, atau pemisah keunggulan pemegang kebenaran terhadap kebatilan, “mifshal tamayuz” atau pemisah pembeda, tidak ada pertemuan antara dua “mifshal” ini kecuali ada bentrokan dan saling menjauh antara mereka. Karena keunggulan ini adalah tujuan bagi setiap pengemban da’wah. Tujuan yang diemban oleh setiap pengemban da’wah Islam. Jika dia tidak merasa lebih unggul terhadap kebatilan dan tidak merasa lebih unggul terhadap kekufuran maka kebatilan dan kekufuranlah yang akan menjadi unggul terhadapnya.

Oleh karenanya tidak mungkin bagi manusia untuk sampai kepada kebenaran yang diemban dan tidak mungkin terbangun kehidupan diatas fondasinya, keinginan bagi tegaknya kebenaran kecuali berada di atas “mifshal” ini. Ini merupakan penjelasan antara balatentara kebenaran dan balatentara” keimanan. Firman-Nya: “Adapun orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi dari jalan Allah, maka Allah sesatkan mereka. Setiap perbuatan mereka dalam kesesatan.”

Dan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh (Di sini diberikan “tafshilat” kepada kita lebih banyak), dan orang-orang yang beriman dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad. Supaya manusia memahami bahwa dia tidak memiliki dari dirinya sendiri jalan hidupnya, tidak memiliki metode perubahan (manhaj at-taghyir), bukan berdasarkan keinginannya sendiri untuk mentransfer “fikrah” kepada masyarakat luas (jamahir). Hanya saja yang ada adalah iltizam atau berpegang teguh kepada jalan Muhammad sallallah ‘alaihi wasallam. Iman bahwa Allah adalah esa, dan iman bahwa Muhammad adalah utusan dari sisi-Nya yang diberikan wahyu kepadanya. Firman-Nya:  “Dan mereka beriman dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad, dan dia adalah kebenaran dari Tuhan mereka, Allah gugurkan kesalahan mereka dan perbaiki keadaan mereka.”

Lalu Dia memberikan kita pengecualian, mengapa ”mufashalah” ini? “Yang demikian karena orang-orang yang kafir mengikuti kebatilan dan orang-orang yang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka.  Demikianlah Allah buat bagi manusia perumpamaan mereka.” Jadi ini sepanjang masa kepada orang-orang yang Allah wariskan bumi kepadanya.

 

MIfshal ke-2, hakekat yang ditetapkan di dalam Alquran, bahwa kemenangan itu hanya dari sisi Allah ‘azza wa jalla” dan syaratnya agar menang agama Allah adalah dia hanya semata-mata sepenuhnya, dan ikhlas yang sempurna kepada Allah dan agamanya, dan fokus kepada pemenangan agama-Nya dan manhaj-Nya) di dalam kehidupan ini. Karena kesesatanlah bagi musuh-musuh agama  ini. Di dalam firman Allah ta’ala:

“Wahai orang-orang yang beriman jika kalian menolong Allah, niscaya Allah akan tolong kalian dan teguhkan kaki-kaki kalian. Dan orang-orang yang kafir maka celakalah mereka dan sesatlah perbuatan mereka.”

(Q.S. Muhammad 7-8).

Mengapa?

“Itu dikarenakan mereka membenci apa yang Allah telah turunkan maka gugurlah amalan-amalan mereka.”

(Q.S. Muhammad: 9)

Kata “ta’san” bermakna mereka orang-orang yang ditarik kepala-kepala mereka hari kiamat, orang-orang fasik dan hina. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti musuh-musuh Allah dan musuh-musuh Islam.

Maka apakah mereka tidak pernah mengadakan perjalanan di bumi, sehingga dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka.  Allah telah membinasakan mereka dan bagi orang-orang yang kafir akan menerima (nasib) yang serupa itu.( Q.S. Muhammad: 10) Hasilnya “mifshalnya” adalah: “Yang demikian itu karena Allah pelindung  bagi orang-orang yang beriman. Sedangkan bagi orang-orang kafir tidak ada pelindung buat mereka.

(Q.S. Muhammad: 11)

Bagaimanakah seorang mu’min minta perlindungan orang kafir. Disinilah permasalahan paling berbahaya Umat Islam saat dia menerima dirinya diposisikan sama dihadapan orang kafir. Itu adalah karena Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman dan orang-orang yang kafir tidak memiliki pelindung buat mereka.

“Mifshal” kemenangan dari sisi Allah diberikan Allah kepada yang Dia kehendaki dari hamba-Nya dengan syarat-syarat yang telah dijelaskan oleh ayat ini. Maka ini adalah syarat dari Allah ta’ala kepada orang-orang yang beriman. Adapun syarat-Nya kepada mereka adalah: pemenangan dan peneguhan yaitu pengokohan kakinya, dan Pertolongan Allah muncul dengan menolong syariat-Nya dan menjadikannya sebagai sistem kehidupannya satu-satunya yang diikuti oleh-orang yang beriman. Jadi tidak ada syariat selain syariat Islam. Tidak ada peluang membuat undang-undang bagi manusia, membuat syariat atau undang-undang dengan selain undang-undang Allah Azza wa Jalla.

Oleh karena itu wajib bagi kita untuk mencintai Allah Azza wa Jalla dari lubuk hati kita dan dari setiap kecintaan dan kesukaan kita. Barangsiapa yang Allah adalah sebagai pelilndungnya maka Dia menjadi penolongnya, hanya Dia saja, maka itu sudahlah cukup.

Diriwayatkan di dalam atsar bahwa Musa alaihissalam berkata: Wahai Tuhanku berikanlah aku wasiat. Allah berfirman: Aku wasiatkan engkau dengan Zat-Ku, Allah firmankan itu tiga kali. Sampai di akhir firmannya: Aku wasiatkan engkau dengan Zat-ku agar satu perkara tidak muncul kepadamu kecuali dia membekaskan kepadamu cinta kepada-Ku terhadap selainnya. Maka barangsiapa yang tidak melakukan itu maka aku tidak membelanya dan aku tidak mengasihaninya.

 

“Mifshal yang ke-3, adalah “mifshal haddiy” tidak bermanfaat baginya  apa yang lalu dan akan datang, ini ada dalam firman Allah:

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang Mu’min laki-laki dan perempuan dan Allah Mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu”

( Q.S. Muhammad: 19).

Dikatakan, manusia manapun agar tidak mengatakan sesuatu dan melakukan perbuatan apapun sebelum memiliki pengetahuan atau ilmu bahwa “tidak ada Tuhan selain Allah. Tidak ada hakim, tidak ada pembuat syariat, tidak ada penjaga, tidak ada sesembahan, tidak ada pengatur, kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada yang menghidupkan, yang mematikan, yang memberi rezeki,kecuali Allah.

Ilmu ini menuntut manusia dari segala hal dimasa lampau, dari perbuatan, pergerakan, perkataan menuju kepada perubahan berdasarkan ilmu bahwa “tidak ada Tuhan selain Allah.”

Ahli tafsir mengatakan bahwa urusan Nabi sallallahu ‘alaihi salam berdiri di atas perkara “laa ilaha illa Allah” dan demikian juga urusan para sahabat Nabi berdiri di atas perkara ini, yang merupakan generasi terbaik. Dan ini beginilah seharusnya urusan Umat Islam sampai hari kiamat. Ketahuilah bahwa “laa ilaha illa Allah”.

Karena setiap manusia yang bekerja di luar tuntunan urusan  ini maka tidaklah dia bertauhid. Siapa yang mengetahui bahwa “wali” urusannya menerapkan hukum selain yang disyariatkan oleh Allah dan dia rela dengan itu, maka telah tiada dari dirinya sifat ilmu bahwa “laa ilaha illa Allah”. Ditiadakan dari jiwa keimanan dan tauhid.

Berkata ahli tafsir, Itulah makna teguh dan kontinyu dalam urusan ini oleh karena itu Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda: zikir yang paling utama adalah “laa ilaha illa Allah”. Zikir itu ujungnya adalah penerapan Islam dan bukan hanya sekedar lafaz di lidah.

Dikatakan bahwa karena doa yang paling utama adalah istighfar. Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Sharjaz: Aku mendatangi Nabi sallallahu alaihi wasallam, dan saya makan sesuatu bersama beliau, maka saya katakan kepada baginda sebagai rasa terimakasih: semoga Allah mengaada mpunimu wahai Rasulullah, maka Nabi menjawab: dan semoga demikian juga ampunan untukmu. Ada yang bertanya: “apakah kami memohonkan ampunan untukmu wahai Rasulullah? Rasul menjawab: ya, dan untuk kalian aku memohonkan ampunan, dan beliau membacakan ayat:

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang Mu’min laki-laki dan perempuan dan Allah Mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu”

(Q.S. Muhammad: 19).

 

Mifshal yang ke-4 (terakhir), adalah penjelasan tata cara dalam menghadapi balatentara kafir dan munafiq, dan mencela keberpalingan dan meninggalkan kebenaran. Dan itu  dalam firman Allah ta’ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah ada petunjuk yang jelas bag mereka , mereka tidak akan dapat memberi kepada Allah mudharat sedikitpun. Dan kelak Allah menghapus segala amal mereka.”

(Q.S. Muhammad: 32)

Jadi ada tiga kelompok: org kafir, menghalangi dari jalan Allah, dan menyelisihi Rasul (yang mencampur perbuatan baik dengan perbuatan jelek). ….mereka tdak akan membahayakan Allah sedikitpun.

“….Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan janganlah kalian gugurkan amal kalian. Sesungguhnya orang yang kufur dan menghalangi (orang lain) dari jalan Allah lalu mereka mati dalam keadaan kafir maka Allah tidak akan mengampuni dosa mereka. Maka janganlah kalian merasa rendah, dan ajaklah kepada perdamaian dan kalian lebih tinggi dan Allah bersama kalian dan tidak akan menyia-nyiakan kalian amalan kalian.”

 (Q.S. Muhammad: 34- 35)

Allah tidak akan gugurkan perbuatan orang-orang shaleh yang taat. Oleh karenanya surah itu ditutup dengan ayat:

“Jika kalian berpaling niscahaya Allah gantikan dengan kaum selain kalian dan mereka tidaklah serupa kalian.” Dikatakan,  jika kalian berpaling dari “mufashalat” orang-orang kafir dan dari “mafashil” yang telah kita singgung di atas, maka Tuhan akan gantikan kita dengan orang lain.

Kita memohon kepada Allah agar memberikan kita manfaat dari apa-apa yang Dia ajarkan kepada kita. Dan mengajarkan kita dengan yang bermanfaat buat kita. Dan menunjukkan kita jalan-jalan yang cerdas dan benar. Ya Allah sesungguhnya saya meminta kepada-Mu keteguhan dalam urusan ini, dan tekad yang kuat di atas kebenaran. Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada-Mu bersyukur kepada nikmat-Mu dan kebaikan dalam ibadah kepada-Mu, dan shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarganya dan para sahabatnya dengan shalawat yang banyak.  (i7)

————-

Sumber: http://www.al-aqsa.org/index.php/duroos-masjid-aqsa/1682

About Kholid Abdullah

Kholid Abdullah bekerja sebagai tutor Bahasa Inggris dan Bahasa Arab di beberapa lembaga swasta. Selain mengajar, aktifitas harian yang rutin dilakukannya adalah melakukan alih bahasa dari media berbahasa Inggris dan Bahasa Arab untuk mengisi konten situs ASPAC (Asia Pacific Community for Palestine). Saat ini Kholid sedang menyusun sebuah ebook “Antologi Puisi & Nyanyian Perlawanan Palestina”. Untuk mengirim pesan kepadanya, bisa melalui email: interiorasap@gmail.com.
View all posts by Kholid Abdullah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *