Pengadilan Penjajah Terbitkan Perintah Penutupan “Bab Ar-Rahmah”


Pengadilan Magistrate di Yerusalem pada hari Ahad pagi (17/03) telah menerbitkan perintah yang memutuskan penutupan Musholla “Bab Ar-Rahmah” di halaman Masjid Al-Aqsha, dan memberikan waktu 60 hari kepada Dewan Wakaf dan Urusan Situs-situs Suci Islam di Yerusalem –  untuk menanggapi keputusan yang merekomendasikan perpanjangan perintah penutupan Musholla itu.

Hakim Dorit Feinstein, di akhir sidang menerbitkan keputusan yang mengharuskan penutupan Musholla “Bab Ar-Rahmah”, dengan dalih bahwa Dewan Wakaf telah mengubah bangunan itu menjadi Musholla tanpa mengikuti prosedur undang-undang, seperti diungkapkan oleh hakim tersebut.

Menurut sumber-sumber media ‘Israel’, sidang atas kasus tersebut telah berlangsung tertutup dan rahasia, dan itu dengan persetujuan dari pengadilan, dimana telah diizinkan penerbitan satu kalimat dari keputusannya yang berbunyi sebagai berikut: “Pengadilan telah memperpanjang perintah sementara bagi penutupan bangunan hingga sidang dengar dalam kasus utama, dan diberikan waktu 60 hari bagi Dewan wakaf untuk memberikan sanggahan.”

Penuntut Umum ‘Israel’ meminta pengadilan menerbitkan perintah pengadilan untuk menutup kembali Musholla “Bab Ar-Rahmah”. Terungkap (oleh perwakilan penjajah) dalam proses penerbitan perintah perpanjangan penangkapan warga Yerusalem yang telah ditangkap dengan latar belakang membuka Musholla, tidak adanya perintah pengadilan yang sah bagi penutupan Musholla. Ini mengingat perintah pengadilan terakhir yang diterbitkan oleh pengadilan penjajah bagi pembaharuan penutupan Musholla Bab Ar-Rahmah, telah habis masanya pada bulan Agustus lalu.

Polisi Penjajah telah menutup Musholla Bab Ar-Rahmah pada tahun 2003, setelah penutupan organisasi “Komite Warisan Islam” yang berkantor di Musholla tersebut. Dan sejak saat itu perintah penutupan diterbitkan setiap tahun, meskipun Dewan Wakaf Islam telah berulang kali meminta hal tersebut agar disudahi.

Sementara itu, Dewan Wakaf dan Urusan Situs-situs Suci Islam, menegaskan bahwa Musholla Bab Ar-Rahmah akan tetap terbuka dan ia adalah bagian yang tidak terpisah dari Masjid Al-Aqsha dan tidak ada pihak lain yang memiliki hak penguasaan terhadapnya selain dari pada Dewan Wakaf Islam.

Dia juga menegaskan kembali sikapnya bahwa bangunan Musholla Pintu Ar-Rahmah adalah bagian integral dari Masjid Al-Aqsa, dan terus terbuka bagi pelaksanaan sholat di dalamnya, dan bertanggungjawab langsung bagi kemakmuran dan rehabilitasinya dari pihak Dewan Wakaf Islam dan Dewan Kemakmuran Masjid Al-Aqsha, dengan asumsi kedua lembaga itu adalah penanggungjawab dan pemilik kewenangan dalam perkara ini tanpa adanya intervensi dari pihak otoritas penjajah dalam bentuk bagaimanapun.

Patut dicatat bahwa Musholla ini merupakan sebuah aula besar yang berada di dalam pagar tembok Al-Aqsha dekat dengan Pintu Ar-Rahmah, dengan luas 250 meter persegi, dan ketinggian 15 meter. Beratapkan kubah-kubah yang berusia lebih dari satu dekade, di atasnya ada beberapa ruangan yang sudah bertahun-tahun lamanya digunakan sebagai madrasah, yang diberi nama Madrasah Al-Ghazaliyah. Dari arah luar pintu, sekarang berada pemakaman Bab Ar-Rahmah yang merupakan pemakaman beberapa orang sahabat Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wasallam. Adapun dari bagian dalam terhubung dengan tangga-tangga yang menuju ke halaman.

Adais: Keputusan pengadilan Israel menutup pintu Ar-Rahmah adalah Ilegal dan Pasti Tertolak

 
Menteri Wakaf dan Urusan Agama, Sheikh Yusuf Adais mengatakan bahwa keputusan pengadilan penjajah ‘Israel’ untuk menutup bangunan Bab ar-Rahmah adalah keputusan yang tidak sah dan ilegal, dan sejajar dengan ambisi polisi penjajah, yang telah bekerja keras untuk menutup Musholla Bab ar-Rahmah sejak dibuka beberapa pekan lalu oleh umat Muslim warga asli Yerusalem dan para petugas dari Dewan Wakaf Islam.

Syekh Adais menegaskan bahwa kedaulatan Masjid Al-Aqsha sebagai wakaf Islam secara keseluruhan meliputi lebih dari 144 dunum yang didalamnya terdapat beberapa masjid, halaman-halaman, pintu-pintu, dan bangunan-bangunan, dan ini semua adalah miliki kaum Muslimin saja dan pihak manapun tidak berhak untuk mengeluarkan ketetapan yang menyelisihi hal ini, apalagi jika dikeluarkan oleh pihak yang tidak memiliki kewenangan seperti halnya lembaga pengadilan penjajah.

Syekh Adais mengatakan bahwa keputusan pengadilan ini akan mengarah kepada gelombang baru penyerbuan oleh para pemukim (Yahudi) supaya tujuan mereka tercapai dengan dialihkannya Musholla tersebut menjadi sinagog Yahudi dimana di dalamnya berlangsung ritual Talmud yang merupakan perencanaan yang sekarang sudah menjadi jelas dengan membagi Al-Aqsha secara spasial, satu hal yang akan mengarah pada terus bertambahnya berbagai pelanggaran terhadap jamaah sholat dari Umat Islam.

Syekh Adais meminta negara-negara Arab dan Islam untuk bangkit memikul tanggung jawab mereka  terhadap Masjid Al-Aqsa, yang merupakan simbol keagama dan sejarah yang tinggi bagi seluruh umat Islam, bukan hanya untuk rakyat Palestina saja. Sebagaimana beliau menyerukan masyarakat internasional untuk bekerja dengan menetapkan batas terhadap berbagai pelanggaran penjajah ‘Israel’ dengan berbagai institusinya yang berbeda-beda dari militer, dinas keamanan dan lembaga peradilan dan politik, agar seluruh kawasan ini tidak terseret ke dalam perang agama yang akibatnya akan ditanggung oleh semua bangsa di kawasan itu.  (i7).

————————–

Sumber: www.arab48.com, terbit: 17/03/2019, jam: 11: 00.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *