Pecah Konfrontasi Saat Pembuatan Jalan Pemukiman Yahudi - Salah Satu Proyek Pemukiman Paling Berbahaya di Tepi Barat


Nablus – Senin pagi (06/07) tadi pecah konfrontasi antara warga Palestina dan pasukan penjajah, di lokasi dimana aksi buldoser dan pemotongan penebangan pepohonan telah berlangsung sejak dua bulan berturut-turut, demi membuka jalan bagi pemukiman yahudi di Nablus selatan. yang berada di bagian utara Tepi Barat yang dijajah.


Pasukan penjajah membuldoser tanah lahan milik warga Hawara, untuk membuka jalan bagi pemukiman Yahudi bernama “Al-Tafafi Hawara”, dengan panjang mencapai sekitar 7 km. dan melintasi areal seluas 406 dunum yang akan direbut oleh Penjajah Zionis.

Ghassan Douglas, seorang penangungjawab kasus pemukiman di Tepi Barat utara, menjelaskan bahwa pada pagi hari Penjajah Zionis kembali membolduser tanah di selatan Hawara dan menembakkan bom dan gas ke arah warga, yang mencoba untuk menghalanginya.

Operasi buldozer itu diselingi juga dengan pencabutan dan pemotongan pohon-pohon Zaitun, dan membuldozer lahan-lahan warga yang dekat dengan kamp Hawara, untuk membangun jalan yang telah ditetapkan oleh Otoritas Penjajah tahun 2014, dari sekian banyak jalan-jalan pemukiman lainnya di Tepi Barat.

Pada tahun 2019, Otoritas Penjajah telah menyita 406 dunum tanah warga Palestina untuk kepentingan perencanaan mereka yang terletak di tujuh lokasi antara lain: Hawara, Beita, Burin, Awarta, Yatma, Al-Sawiya, dan Yassouf, dan akan mengarah pada penebangan lebih dari 3 ribu pohon yang terdapat di lokasi tersebut.

Proyek Berbahaya

Jalan ini dianggap sebagai salah satu proyek pemukiman yang paling berbahaya karena tabiatnya yang mengkonsolidasikan permukiman Yahudi. Dia akan mengubah pemukiman Yahudi terisolir yang berada di selatan Nablus itu menjadi perkotaan di dalam Tepi Barat dan akan menggagalkan berdirinya negara Palestina yang menyatu (tidak terpisah-pisah) secara geografis.

Sementara itu, Kamal Audah, wakil kepala Dewan Kota Hawara dan salah satu pemilik tanah yang terancam diambil alih untuk kepentingan jalan pemukiman, menjelaskan bahwa, segera setelah Penjajah Zionis memulai operasi demarkasi jalan mereka langsung menuju ke arah daerah-daerah Palestina tertentu, dan mengepung tanah-tanah yang dibidiknya.

Audah memberikan gambaran bahwa jalan tersebut disamping merusak lahan pertanian dan menimbulkan kerugian produksi, juga akan mempengaruhi perekonomian di kota Howara, karena keberadaan jalan pintas itu akan menghantam perekonomiannya hingga 30%.

Audah menjelaskan bahwa mereka telah berupaya menempuh jalur hukum , tetapi tanpa membawa hasil apa-apa, dan menyadari bahwa hak itu tidak akan pernah kembali tanpa adanya kekuatan, dan tanpa turunnya warga ke tanah-tanah milik mereka dan mencegah Penjajah Zionis untuk menyempurnakan proyeknya, karena jalur politik dan hukum telah mengalami kegagalan.

Patut dicatat bahwa Otoritas Penjajah telah menerbitkan klip video pada bulan April 2019 yang berisikan desain utama pembangunan jalan, dan kantornya yang telah ada selama bertahun-tahun, dan itu berkembang dibawah proyek bernama “rencana bertahap” yang mencakup 44 denah gambar yang sebagiannya sudah terlaksana.

——–

Sumber: www.palinfo.com, terbit: Senin, 6 Juli 2020, pukul 12:41 siang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *