Palestina, Sebelum dan Setelah Munculnya Zionisme

Spirit of Aqsa (SoA) mengadakan “Daurah Palestina & SoA Camp Ke 3”. Dalam salah satu rangkaian acaranya, pada Ahad, 19 November 2017 bertempat di Tebet, Jakarta Selatan. Hadir sebagai nara sumber, Dr. Saiful Bahri, M.A, ketua Asia Pacific Community for Palestine. Tema yang disampaikan adalah kondisi Palestina Sebelum dan Setelah Adanya Zionisme.

Zionisme berawal dari ide seorang wartawan Yahudi, Herzl yang prihatin melihat kondisi masyarakat Yahudi dunia yang mendapat perlakuan diskriminatif di berbagai negara di Eropa. Ideologi ini mengerucut pada bangkitnya kekuatan Yahudi dunia. Dengan segala potensi pada akhirnya mereka mampu menguasai jalur-jalur penting dunia, seperti perbankan, media massa, dan politik. Karena itu, mereka dapat membentuk opini dunia tentang penindasan yang dialami Yahudi dalam Perang Dunia. Yang terbesar adalah klaim sepihak atas tanah Palestina sebagai milik Yahudi yang diwarisi dari nenek moyang mereka sebagai janji Tuhan.

Kapan mulai adanya peta Palestina dengan gambaran yang dikenal saat ini? Tentunya sangat berbeda ketika wilayah tersebut lebih dikenal dengan sebutan Syam yang terintegrasi dalam wilayah territorial Negara Ottoman.

Saiful juga menjelaskan bahwa Deklarasi Balfour merupakan salah satu rangkaian Gerakan Zionisme Internasional yang diwakili salah satu taipan terkemuka Rotchild. Kemudian berdampak pada penjajahan sistematis Inggris kepada Palestina yang kemudian “dihadiahkan” kepada Zionis. Hingga lahirlah resolusi Majelis Umum PBB pada tanggal 29 November 1947 yang membagi wilayah Palestina menjadi dua: 54,7% untuk Israel (14.400 km2) dan 44,8% untuk Palestina (11.780 km2) dan 0,5 % Jerussalem/Al-Quds wilayah internasional di bawah pengawasan PBB. Putusan ini ditindaklanjuti oleh kedua pihak. Israel segera mendeklarasikan diri pada 14 Mei 1948. Dan Palestina serta negara-negara Arab meresponnya dengan keras karena Israel sedang merancang pendudukan yg lebih luas. Perundingan buntu dan meletuslah Perang Arab-Israel 1. Dan Israel meraih kemenangan dan berhasil menduduki 77% wilayah Palestina. Perang 1948 meninggalkan prahara kelam. 58% penduduk Palestina terusir dari tanah air mereka. (1.190.000 orang terusir keluar dari rumah mereka) 30.000 orang terombang-ambing di dalam wilayah pendudukan Israel. 478 desa dihancurkan, terjadi pembantaian besar-besaran, yang terkenal adalah pembantaian Dir Yasin, 09.04.1949, semua penduduk desa yang berjumlah 354 orang laki-laki dan perempuan dibantai.

Dalam presentasinya Saiful memperlihatkan beberapa peta dan gambar yang mendiskripsikan pendudukan ilegal dan penjajahan yang menggurita sehingga mencaplok sedikit demi sedikit yang masih tersisa dari negeri Palestina.

Di akhir sesi narasumber menekankan bahwa tidaklah benar kajian-kajian seperti ini dimaksudkan untuk membenci Yahudi atau suatu ideologi tertentu.  Namun, yang menjadi target adalah melawan Zionisme yang rasis dan penjajahan yang zhalim terhadap hak bangsa Palestina dan Umat Islam. Di antara jalan meraih kembali tanah suci dari penjajahan tersebut adalah kembali kepada al-Quran, membaca dan mengajarkannya serta mengamalkan isinya, kemudian bersatu dan menjauhi perpecahan.

, ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *