Palestina Kecam Pembukaan “Jalan Raya Rasis” 4370

 

Otoritas Palestina mengutuk pembukaan jalan raya – baru-baru ini oleh otoritas penjajah ‘Israel’- yang terbelah dua oleh tembok pemisah di timur Yerusalem yang dijajah dengan jarak sepanjang 3 kilometer.

Kementerian Luar Negeri Palestina menyatakan bahwa “jalan raya pemisah rasis apartheid adalah bagian integral dari infrastruktur rezim rasis di Palestina yang dijajah,” sambil memberikan catatan bahwa jalan raya “4370” yang terpisah dua di sepanjang jalannya, dengan ketinggiannya mencapai hingga delapan meter untuk memisahkan warga Palestina dan pemukim ‘Israel’.

Dalam sebuah pernyataan yang salinannya diterima oleh al-Jazeera Net, dijelaskan bahwa tembok yang dibangun di tengah-tengah jalan raya itu dimaksudkan untuk mencegah orang Palestina untuk bisa sampai ke Kota Suci, sambil dipertegas bahwa tembok itu dibangun di atas bumi Palestina yang dijajah.

Dijelaskan bahwa jalan baru di timur Yerusalem itu dianggap sebagai salah satu langkah untuk mengimplementasikan proyek pemukiman yang dikenal sebagai proyek E1, yang memisahkan bagian tengah dan utara Tepi Barat dari daerah selatannya dan mengarah kepada tujuan perluasan pemukiman Yahudi dan menghubungkan beberapa pemukiman  Yahudi dengan  Yerusalem Timur yang terjajah.

Kemenlu Palestina mengungkapkan keterkejutannya atas “kebisuan bagai di pekuburan” internasional terhadap manifestasi apartheid di Palestina yang dijajah, sambil menegaskan bahwa otoritas penjajah terus melemahkan setiap peluang untuk mencapai solusi politik dalam pertempuran ini. Institusi ini menganggap penerapan sistem rasis (apartheid) di Palestina yang dijajah ini sebagai sistem terintegrasi yang telah dimulai dengan perampokan bersenjata dan pencurian terhadap tanah-tanah warga Palestina.

Kantor koordinasi otoritas penajah di Tepi Barat telah mempromosikan jalan raya yang membentang ke timur Yerusalem dari persimpangan kota Anata ke utara hingga ke kota Al-Zaim di selatan, yang dianggapnya sebagai pencapaian yang menghubungkan utara dan selatan Tepi Barat dan mengurangi kemacetan lalu lintas di beberapa daerah.

Sementara itu Ahmed Majdalani, anggota Komite Eksekutif PLO meminta komunitas internasional – terutama Uni Eropa, Rusia, Cina dan negara-negara yang tidak bersekutu – agar membentuk koalisi internasional untuk memerangi rasisme dan fasisme baru Israel dan untuk memenuhi kewajiban internasional terhadap rakyat yang masih berada di bawah penjajahan.

Di bawah “transformasi mendalam di tubuh masyarakat ‘Israel’, tren ke arah rasisme dan fasisme dan pengadopsian undang-undang dan langkah-langkah yang diambil pemerintah Netanyahu bersifat fasis dan rasis,” Majdalani meminta dunia untuk “menghentikan standar ganda dan kebijakan yang berwajah dua yang memberikan kepada penjajah kesempatan untuk meningkatkan ekstremisme .” (i7)

——————–

Sumber: www.aljazeera.net/alquds, terbit: 10/01/2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *