Palestina dan Cucu Keturunan Raja Abdul Aziz

Keterangan foto: Faisal bin Abdulaziz Al Saud Raja Arab Saudi dari 1964 – 1975 [Knudsen, Robert L. / Wikipedia]

Oleh: Dr Mohammed Saleh Al-Misfer

Beberapa pangeran Saudi, syeikh-syeikh Abu Dhabi dan para penguasa di Bahrain saling berlomba menuju “Israel”. Mereka menganggap negara Penjajah Zionis itu  sebagai gerbang untuk memperoleh legitimasi atas kekuasaan mereka terhadap rakyatnya. Mereka juga meyakini bahwa “Israel” dapat membawa mereka lebih dekat ke Gedung Putih di Washington, yang mereka yakini dapat membantu menundukkan rakyat mereka menuju ketaatan dan penghambaan kepada mereka.

Mereka juga mengandalkan Washington dan para pendukungnya untuk membantu mereka mencapai proyek perluasan geografis dengan mengorbankan kedaulatan orang lain. Mereka masing-masing melakukan upaya ekstrem untuk mendekatkan diri dengan “Israel” dan memberikan konsesi yang menguntungkan Penjajah Zionis dan eksploitasi Amerika.

Di Pihak Saudi, ketika Raja Abdulaziz Al Saud – semoga Allah merahmatinya – mendirikan negara Arab ketiga dengan bantuan Inggris dan yang lainnya, dia sangat berhati-hati untuk tidak mengakui Palestina atau menyetujui migrasi Yahudi dari negara-negara Barat ke sana. Raja Abdulaziz mengatakan kepada Presiden AS Roosevelt dalam pertemuan mereka di Great Bitter Lake tentang pertemuannya dengan Churchill, Perdana Menteri Inggris kala itu. Dia berkata: “Churchill mulai dengan mengatakan Inggris telah mendukung saya di masa-masa sulit dan ini mengharuskan saya untuk membantu mereka terkait dengan masalah Palestina.

Dia mengatakan bahwa Inggris percaya saya harus membuktikan kemampuan saya sebagai pemimpin Arab yang kuat dan mencegah faksi-faksi Arab memberontak terhadap rencana Zionis di Israel. Churchill mengatakan kepada saya bahwa saya harus mengarahkan kelompok Arab Moderat untuk berkompromi dengan Zionis. Dan bahwa Churchill mengharapkan saya agar bisa membantu mempersiapkan opini publik Arab agar menerima konsesi terhadap orang-orang Yahudi. “(Tuwaijri, Li Surat al lail Hatafa al Sabah, p591).

Sang Raja mengatakan dia menjawab Churchill dengan mengatakan: “Saya tidak menyangkal persahabatan saya dengan Inggris dan saya telah menawarkan mereka semua yang saya bisa dalam peperangan melawan musuh mereka. Namun, apa yang Anda usulkan bukanlah untuk membantu Inggris atau sekutu-sekutunya; Saya melihatnya sebagai tindakan pengkhianatan terhadap Nabi (Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam) dan semua umat Islam di dunia.  Jika saya melakukan apa yang Anda minta tersebut, maka saya akan kehilangan kehormatan dan menghancurkan diri saya. Saya sendiri tidak yakin dapat memberikan konsesi kepada Zionis, dan tidak juga bisa untuk meyakinkan orang lain. “(Tuwaijri, Li Surat al Lail Hatafa al Sabah, p591).

Raja Abdul Aziz mengatakan kepada para pejabat Misi Amerika yang mengunjungi Arab Saudi pada saat itu dan bertemu dengannya untuk membahas ancaman yang dihadapi orang-orang Arab, diantara yang terpenting baginya adalah tekanan Yahudi terhadap Palestina, “Amerika dan Inggris bebas untuk memilih antara sebuah dunia Arab yang tenang dan damai dan sebuah negara Yahudi yang berlumuran dalam darah. “(Tuwaijri, Li Surat al Lail Hatafa al Sabah, p589).

Dalam suratnya kepada Roosevelt, ia berkata: “Bahaya Zionisme di Palestina bukanlah satu ancaman bagi bangsa Palestina saja, tetapi sebuah bahaya yang mengancam semua negara Arab.” Saya tidak ingin menjelaskan lebih lanjut dalam hal ini. Saya akan berbicara tentang posisi raja-raja Saudi (Saud, Faisal, Khalid, Fahd dan Abdullah) tentang perjuangan Palestina dan dukungan mereka terhadapnya. Raja Faisal adalah korban dari komitmennya kepada tabiat bangsa Arab terkait Yerusalem dan Palestina secara umum.

Raja Salman Al Saud, yang memiliki sejarah panjang mendukung perjuangan Palestina sebelum menjadi raja, menyerukan KTT Arab yang dilangsungkan bulan lalu di Dhahran, sebagai KTT Yerusalem. Dia juga mengumumkan akan menyumbang $ 150 juta untuk Palestina. Namun, apa yang kita lihat dan dari pernyataan yang kita dengar dibuat oleh beberapa pejabat dan elit Saudi bertentangan dengan apa yang telah dibangun oleh pimpinan pendiri Raja Abdul Aziz mengenai masalah Palestina.

Semua orang tahu bahwa Penjajah Zionis menolak semua prakarsa perdamaian yang diajukan oleh Arab Saudi. Inisiatif pertama yang diusulkan oleh Raja Fahd dalam KTT Fez pada tahun 1982, dan inisiatif kedua diusulkan oleh Raja Abdullah Al Saud dalam KTT Beirut tahun 2002. “Israel” tidak menanggapi semua inisiatif itu, dan malah mengintensifkan penggunaan kekerasan terhadap rakyat Palestina dan melakukan perluasan jajahan di Tepi Barat. Penjajah Zionis ini, belakangan malah diberikan lebih banyak ruang untuk melakukan ekspansi oleh Pemerintahan Amerika saat ini, yaitu Pemerintahan Trump, yang memutuskan untuk memindahkan kedutaan Amerika ke Yerusalem dan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota abadi Israel.

Selama masa Pemerintahan Raja Salman Al-Saud, kami melihat perubahan cepat yang tidak beralasan terkait isu Israel. Pangeran Mohammed Bin Salman, putra mahkota Arab Saudi, mengatakan bahwa masalah Palestina tidak lagi menjadi prioritas Arab Saudi. Ini amat mengecewakan bagi bangsa Arab dan Muslim secara umum, terutama bahwa ini datang dari Pimpinan Saudi.

Media melaporkan bahwa Pihak Kerajaan telah mengakui hak “Israel” untuk membangun negara mereka di tanah bersejarah mereka. Dia juga mengatakan bahwa ada kepentingan bersama antara “Israel” dan Arab Saudi. Lebih jauh, dia menyatakan bahwa Palestina harus menerima apa yang ditawarkan kepada mereka (kesepakatan abad ini) atau “diam”.

Selain itu, telah terjadi kunjungan publik dan kunjungan rahasia dari pejabat senior Saudi ke “Israel”, seperti Mayor Jenderal Anwar Eshki, dan pertemuan antara beberapa tokoh agama dan para pemimpin Zionis ekstrimis. Salah satu syekh kita yang turut serta dalam pertemuan semacam itu, mengutuk pertemuan Syeikh Sudais, Imam Masjidil Haram Mekkah, dan beberapa syeikh lainnya dari kerajaan itu.

Pertanyaan yang muncul di sini adalah apakah Monarki Saudi perlu melamar dan bergerak ke arah Penjajah Zionis, meskipun, terkait “Israel”, pendiri negara Saudi ketiga, almarhum Raja Abdul Aziz mengatakan: “Bahaya Zionisme di Palestina bukanlah ancaman bagi Israel saja. Tetapi dia adalah bahaya yang mengancam semua negara Arab. Yang pasti adalah bahaya ini masih hidup dan korban pertamanya adalah Kerajaan Saudi (generasi) ketiga. Yang menjadi kepastian masalah adalah bahwa Kerajaan Saudi tidak perlu menyenangkan kekuatan lain di dunia selain dari pada rakyat Arab Saudi sendiri.

Satu-satunya jaminan dari pemerintah yang masih berkuasa di negara Arab manapun adalah rakyat, dan tidak ada orang lain. Rakyat membutuhkan kemerdekaan asasi, yudisial yang independen dan adil, partisipasi dalam pengambilan keputusan politik, reformasi ekonomi, distribusi yang adil dari kekayaan nasional, pemisahan antara negara dan perdagangan, dan perlindungan dari monopoli kekayaan nasional.

Saya akan mengakhiri dengan mengusulkan pencabutan blokade di Qatar dan belajar dari apa yang terjadi dengan Korea untuk menghindarkan kita dari penindasan Sayap Kanan yang terus tumbuh di Eropa dan Amerika dan menyelamatkan kita dari terkurasnya kekayaan finansial dan sumber daya alam kita (i7).

 

Artikel ini pertama kali muncul dalam bahasa Arab di Al-Sharq pada 4 Mei 2018

Opini yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak selalu mencerminkan kebijakan editorial Middle East Monitor.

————-

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit 04/05 2018,  jam 18:08.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *