Otoritas Palestina Tak Mampu Hentikan Kekacauan di Tepi Barat Jajahan

Oleh: Dr Adnan Abu Amer



Berulang kali terjadi insiden penembakan tokoh masyarakat Palestina di Tepi Barat, termasuk seorang anggota Dewan Legislatif Palestina, beberapa orang dokter dan beberapa pejabat Otoritas Palestina, yang berbarengan dengan meningkatnya penggunaan senjata untuk menyelesaikan perselisihan pribadi. Kami juga menyaksikan meningkatkannya konflik keluarga dan keterlibatan agen keamanan dalam kekacauan dan ketidakstabilan yang terjadi saat ini.

Mengapa kasus penembakan di Tepi Barat meningkat, dan siapakah yang berada  di belakangnya? Sampai sejauh mana perdagangan senjata meningkat? Apakah senjata ini digunakan untuk kejahatan dan pertikaian antar keluarga atau kelompok bersenjata, dan apakah kehadiran kelompok-kelompok bersenjata ini merupakan bagian dari persiapan bagi kepergian Presiden Mahmoud Abbas dari panggung politik, di saat mana senjata milik kelompok-kelompok perlawanan disita?

Situasi keamanan di Tepi Barat dalam beberapa bulan terakhir telah menjadi sumber keprihatinan. Banyak orang yang memilih menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan perselisihan keluarga, yang mengakibatkan bentrokan bersenjata antara anggota pasukan keamanan Palestina dan pemuda bersenjata. Ini memposisikan Otoritas Palestina sebagai pihak dalam konflik internal memperebutkan kekuasaan dan pengaruh di tingkat lokal.

Pasukan keamanan Otoritas Palestina – terdiri dari 70.000 personel lebih – tampaknya tidak dapat menghentikan pembusukan situasi keamanan dalam negeri. Tembakan telah dibidikkan ke rumah seorang anggota badan legislative Palestina, Azzam Salhab; dan seorang hakim Palestina, Muntasser Rawajba juga menjadi sasaran; Ali Al-Adra, misalnya, terbunuh dalam pertikaian di kota Yatta, dimana senjata otomatis dipergunakan. Banyak warga Palestina terluka dalam bentrokan yang belum berakhir sebelum bentrokan yang lainnya muncul lagi.

Tak satu pun upaya dari pihak keamanan Otoritas Palestina yang berhasil meredakan ketegangan ini. Mereka telah gagal menyita senjata yang digunakan dalam insiden ini, yang menimbulkan sejumlah kecurigaan tentang niat dari Ototritas Palestina,  dan kemampuannya, untuk menegakkan hukum dan mengakhiri situasi keamanan yang kacau.

Mungkin ada sejumlah alasan atas ketegangan yang terjadi di Tepi Barat ini, diantaranya kondisi sosial dan ekonomi yang buruk yang disebabkan oleh tingkat kemiskinan dan pengangguran yang tinggi di kamp-kamp pengungsi. Jika Otoritas Palestina tidak bertindak cepat untuk memulihkan situasi, wilayah yang berada di bawah jajahan ini akan terjerembab masuk ke dalam jurang. Tingkat keparahan situasi saat ini membutuhkan keputusan tegas dari tingkat tertinggi dalam kepemimpinan Otoritas Palestina bagi mendorong penegakan hukum.

Namun, ada beberapa menuduh sejumlah tokoh penting Palestina di Tepi Barat menjadi penyebab permasalahan keamanan ini dan meracuni hubungan dalam negeri dikarenakan perselisihan mereka yang mendalam dan keinginan untuk terus mempertahankan pengaruh di satu kota atau yang lain. Lengsernya Abbas dari panggung kekuasaan yang relatif segera akan terjadi menjadi salah satu dari sekian alasan dalam hal ini.

Organisasi-organisasi HAM Palestina telah mengimbau kepada Otoritas Palestina untuk memberikan kepada rakyat perlindungan yang memadai, yang akan membutuhkan kerja kepolisian secara baik, penyitaan senjata-senjata ilegal dan menghentikan kelompok-kelompok yang memasok mereka. Himbauan semacam itu sama sekali tidak mendapatkan perhatian, dan tidak memiliki respon positif dari Otoritas Palestina meski beberapa pejabat senior telah turut bergabung dalam seruan untuk mengakhiri kekacauan ini.

Saya telah mendapati para pejabat Fatah mengirim pesan kepada Presiden Abbas memintanya untuk campur tangan karena orang-orang ketakutan. Suara tembakan, jalan-jalan yang ditutup, ban-ban yang terbakar, mengakhiri perselisihan dengan cara saling mengalahkan sesame para pejabatan Otoritas Palestina semua telah menjadi rahasia yang dipertontonkan di muka umum. Tokoh-tokoh berpengaruh di dalam tubuh otoritas Palestina , nampaknya memperoleh manfaat dari kekacauan yang berkepanjangan ini.

Warga Palestina yang tinggal di Tepi Barat tahu bahwa Otoritas Palestinalah yang bertanggung jawab atas kekacauan keamanan yang terjadi karena agen-agen keamanan Otoritas Palestina melepaskan tembakan di jalan-jalan dan menutup mata atas berbagai aksi yang melanggar hukum.

Situasi di kamp-kamp pengungsi Tepi Barat bisa dikatakan lebih serius karena mereka terabaikan dari sisi standar layanan perkotaan dan tidak mendapatkan perhatian yang seharusnya dari Otoritas Palestina. Dan secara alamiah ini menimbulkan rasa frustasi masyarakat jadi semakin meningkat.

Insiden keamanan di Tepi Barat juga muncul dari pasar gelap persenjataan, obat-obatan dan mobil, meskipun adanya tindakan keras oleh pihak keamanan pasca tunjuk jari. Kampanye semacam itu cenderung tidak berhasil. Otoritas Palestina nampak tidak mampu mengendalikan situasi.

Perlu dicatat bahwa beberapa warga Palestina tidak percaya bahwa solusi keamanan adalah cara terbaik untuk menghadapi meningkatnya aktivitas melanggar hukum,  paling tidak dikarenakan terjadinya peningkatan penggunaan senjata dan kekacauan yang dipicu oleh pertikaian politik. Ini menjadi sangat jelas khususnya saat permasalahan difokuskan pada siapa yang akan menjadi penerus Mahmoud Abbas, yang mengangkat persaingan sengit ke permukaan.

Satu hal yang harus dibenahi adalah fakta bahwa ‘Israel’ lah yang mempersenjatai agen-agen keamanan Palestina karena ‘Israel’ yakin bahwa senjata-senjata ini tidak akan ditodongkan kepada personel militer dan keamanan ‘Isreal’. Agen-agen keamanan Otoritas Palestina telah diperintahkan untuk mundur kapan saja IDF (militer ‘Israel’) datang ke tempat kejadian, dan orang-orang bersenjata dapat dengan bebas berkeliaran di jalan-jalan dengan senjata mereka, tanpa pasukan ‘Israel’ menangkap mereka. Sebaliknya, Sementara itu Otoritas Palestina telah berhasil menyita senjata dari kelompok-kelompok perlawanan, yang membidikkan senjatanya kepada penjajah ‘Israel’, bahkan disaat yang amat menghawatirkan dan mencurigakan – mereka tidak mampu berbuat apa-apa tehadap senjata ilegal yang berada di balik kekacauan di Tepi Barat.

Pada saat Abbas lengser, dia harus meninggalkan dibelakangnya pengaturan keamanan dan politik yang merupakan kesepakatan bersama dengan rekan-rekan senior Fatah-nya. Jika tidak, maka kita harus bersiap dengan munculnya beberapa kantong keamanan yang memiliki pengaruh sendiri-sendiri di wilayah Palestina yang terjajah itu. Tanpa solusi ajaib atas fenomena instabilitas yang terjadi ini, kita dapat menduga distabilitas ini akan terus berlanjut. Sementara itu,  ‘Israel’, akan memantau situasi ini untuk mendapatkan jalan terbaik bagi mempertahankan polarisasi di dalam tubuh bangsa Palestina.

Semua ini akan berkontribusi pada terus berlanjutnya kelemahan dan kerapuhan Otoritas Palestina,  yang bertepatan dengan pembahasan yang semakin memanas tentang penerus Abbas dan keinginan masing-masing kelompok Fatah untuk menguasai lebih banyak jabatan dalam sebuah perebutan kekuasaan yang tak terkendali. Kita juga sudah melihat nama-nama yang mulai bermunculan dalam pencalonan sebagai Presiden Palestina, yang semuanya adalah para pejabat Fatah dengan berbagai perbedaan pandangan dan kepentingan masing-masing. Situasi ini nampaknya tidak akan membaik.(i7)

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak selalu mencerminkan kebijakan Middle East Monitor.

——————-

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit: 29/04/2019, jam: 08:02 malam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *