OKI Serukan Dukungan Bagi Hak Kepulangan Rakyat Palestina

Kaum hawa ikut dalam aksi demonstrasi, diadakan untuk menandai perayaan Nakba ke-70, juga dikenal sebagai Hari Malapetaka pada tahun 1948, dan melawan kekerasan Penjajah Zionis di Gaza pada 18 Mei 2018, di Times Square di New York, Amerika Serikat( Mohammed Elshamy – Anadolu Agency )

Organisasi Kerjasama Islam (OKI) pada hari Jumat (15/05) meminta komunitas internasional agar mendukung hak para pengungsi Palestina untuk pulang ke tanah air mereka dimana mereka diusir darinya pada tahun 1948, demikian seperti dilansir oleh kantor berita Anadolu.

Hal ini diungkapkan dalam sebuah pernyataan OKI, pada kesempatan peringatan ke-72 Hari Nakba Palestina yang diperingati pada tanggal 15 Mei setiap tahunnya.

OKI menegaskan perjuangan Palestina adalah permasalahan inti, sambil kembali memberikan “dukungan tegas dan absolutnya bagi rakyat Palestina dalam perjuangan mereka yang adil untuk mendapatkan kembali dan menggunakan hak-hak nasional mereka yang tidak dapat dicabut.”

OKI menyerukan komunitas internasional untuk terus memberikan dukungan penuh kepada rakyat Palestina untuk mendapatkan kembali hak-hak mereka, termasuk hak untuk kembali pulang.

Mengutip berbagai resolusi legitimasi internasional, organisasi itu menegaskan perlunya “solusi dua negara dan pembentukan negara Palestina dengan Alquds atau Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.”

Rakyat Palestina menggunakan istilah Nakba, yang berarti “malapetaka”, untuk merujuk pada pengusiran pada tahun 1948 oleh gerombolan Zionis di Palestina bersejarah.

Konflik Palestina- Penjajah Zionis dimulai pada tahun 1917 ketika pemerintah Inggris, dalam yang sekarang dikenal sebagai Deklarasi Balfour, menyerukan “pendirian rumah nasional bagi orang-orang Yahudi di Palestina.”

Pada tahun 1948, negara baru Penjajah Zionis dideklarasikan di atas tanah air sebagian besar Palestina bersejarah, setelah rakyat Palestina diusir dari rumah mereka ke Tepi Barat, Jalur Gaza, dan negara-negara Arab tetangga.

Sekitar 15.000 rakyat Palestina dibunuh, sekitar 800.000 orang diusir, dan 531 desa-desa  Arab dihancurkan dalam serangan oleh kelompok-kelompok Yahudi bersenjata pada saat itu.

——-

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit: 15 Mei 2020 jam 9:45 malam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *