OKI: Refleksi Sebuah Kesatuan dalam Perjuangan Pembebasan

Apakah dengan adanya nasionalisme dan batas negara membatasi daya gerak seorang muslim yang dibagi atas warna kulit, budaya dan letak wilayah? Apakah dengan adanya nasionalisme dan batas negara telah membuat sekat-sekat ideologi imajiner yang membatasi kita dalam mengerahkan daya upaya membantu saudara muslim kita di belahan bumi lain?

Jika apa yang dipersepsikan oleh masyarakat mengenai apa yang dinamakan dengan nasionalisme adalah cinta tanah air, pembelaan kepada negara, dan kerinduan yang menggebu terhadapnya, maka hal inilah yang secara fitrah tertanam dalam diri manusia.  Jika benar apa yang dinamakan nasionalisme adalah keharusan berjuang membebaskan negara ini dari cengkeraman imperialisme, menanamkan kehormatan dan kebebasan dalam jiwa penopang bangsa ini maka secara fitrah pun hal ini yang tertanam.

Lalu, jika yang dinamakan nasionalisme adalah adanya keterpautan nilai kekeluargaan dalam anggota masyarakat dan memanfaatkan ikatan tersebut untuk kepentingan bersama maka hal ini pula yang tertanam dalam diri manusia. Namun, apabila yang dinamakan dengan nasionalisme adalah usaha memilah ummat menjadi kelompok-kelompok yang saling bermusuhan, berseteru, dan memenuhi hasrat ambisi pribadi sehingga umat tidak bisa menikmati buah persatuan dan kerjasama maka ini bukanlah sebuah esensi nasionalisme!

Realitas nasionalisme inilah yang kemudian ditunjukkan oleh mereka yang terlebih dahulu sudah merasakan riak-riak kedaulatan. Sejumlah negara yang pada tahun 1971, tepatnya bulan Mei di Jeddah, Arab Saudi dalam Konferensi Tingkat Tinggi para Menteri Luar Negeri setelah adanya KTT negara-negara Islam pertama di Maroko sepakat mendirikan Organisasi Konferensi Islam (OKI).

OKI yang juga dikenal dengan Munazzamat al-Mu’tamar al-Islami atau The Organization of the Islamic Conference merupakan perserikatan negara-negara Islam ataupun negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Negara yang turut menjadi pendiri OKI pada masa tersebut adalah Maroko, Malaysia, Pakistan, Arab Saudi, Somalia, dan Nigeria.

Realitas sejarah yang tidak bisa dilepaskan dari OKI adalah bagaimana dia terbentuk. Ada kondisi masalah keummatan yang membuat sejumlah negara sepakat diperlukannya OKI. Berdirinya organisasi ini tidak bisa lepas dari adanya aksi pembakaran Masjid Al-Aqsha oleh Israel pada 21 Agustus 1969. Pembakaran ini jelas melukai hati umat Islam dan dia tidak berdiri tunggal karena masih lekat dengan sejarah bagaimana tonggak-tonggak sejarah dalam penjajahan Israel ke tanah berdaulat Palestina.

   Tahun ini sudah 34 tahun OKI berdiri,yang menjadikan OKI semakin signifikan bagi kita, Indonesia, adalah dengan keberadaan Indonesia sebagai penduduk muslim terbesar di dunia dan telah mengiringi sebagai anggota OKI sejak berdirinya organisasi tersebut.

OKI hari ini telah beranggotakan 57 negara. Dalam Konferensi OKI ke VI di Kampala Uganda dilahirkan keputusan penting diantaranya adalah semua negara anggota berupaya memperkuat pelurusan pandangan tentang Islam, juga usaha bersama Muslim dan Kristiani untuk melindungi Masjid Al-Aqsha.

Kesepakatan ini adalah komitmen. komitmen bersatu telah ada tapi dirasa belum sampai kepada titik keinginan mengorganisasi diri. Inilah sebuah ide yang membangkitkan dan mengakomodasi semangat mereka yang punya rasa nasionalisme untuk merapatkan barisan.

Kedua kordinasi. Sebentuk kekuatan yang kemudian menjadi sebuah energi potensial yang mampu bergerak. Bergerak baik secara pro-aktif maupun responsif. Letupan-letupan ide yang ada kemudian menjadi satu kumpulan yang terbentuk dalam sebuah kulminasi kekuatan penentu.

Dan Ketiga mobilisasi, dimana ini adalah bentuk gerak bersama yang dilakukan secara cerdas tercermin bagaimana ide yang ada kemudian memunculkan letupan yang dikumpulkan menjadi satu kulminasi ide yang dijewantahkan dalam gerak yang nyata.

Pekerjaan ini yang harus selaras dengan ide dibentuknya OKI di awal. Ketika tugas yang ada dalam pembentukan OKI itu belum terbentuk maka ada sebuah beban sejarah yang menjadi tanggungan bagi para negara-negara yang menjadi anggota di dalamnya. Tugas tersebut adalah keterkaitan komitmen bersama negara anggota untuk bersama mempertahankan Al-Quds.Dalam hal ini setiap negara anggota OKI sejatinya memberikan dukungan mutlak yang diperlukan Palestina untuk menjadi negara merdeka.Umat harus menyingkirkan segala jenis hambatan sektarian untuk membantu sesama Muslim mendapatkan hak-haknya, khususnya kota suci Al-Quds.  Al-Quds yang disana berdiri Masjidil Aqsa adalah hak Muslim dunia bukan hanya bicara mengenai hak Palestina.

 

Ardi Kushardian

Tim Kajian Aspac for Palestine

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *