Netanyahu: Pembunuhan 300 Demontran Gaza adalah keputusan yang ‘Bijaksana’

Pasukan Israel menyerang demonstran dalam aksi "the Great March of Return" pada 11 Januari 2019 [Mohammed Asad / Middle East Monitor]


Pasukan Israel menyerang demonstran dalam aksi “the Great March of Return” pada 11 Januari 2019 [Mohammed Asad / Middle East Monitor]


Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa ‘Israel’ telah menggunakan kekuatannya “dengan bijak” di Jalur Gaza, saat tentara ‘Israel’ membunuh “lebih dari 300” warga Palestina di dekat pagar timur kantong yang dikepung itu.

Dalam sebuah wawancara dengan ‘Israel’ Hayom, Netanyahu mengatakan: “Lebih dari 300 warga Palestina telah dibunuh di dekat perbatasan ketika mereka mencoba menembus pagar dan menculik tentara kami. Kami telah menggunakan kekuatan dengan bijak, dan kuat. “

Netanyahu juga mengatakan bahwa kebijakan pemerintahnya telah membuat Hamas, penguasa Jalur yang dikepung itu, menderita krisis ekonomi terparah. “Mereka (warga Gaza) berada dalam kesulitan ekonomi yang amat besar, dan Hamas coba kendalikan situasi dan menginginkan perdamaian agar dapat tetap berdiri menghadapi tekanan besar di Gaza,” katanya.

Dia menambahkan: “Tekanan ekonomi adalah masalahnya sendiri, tetapi tekanan kemanusiaan adalah masalah kita. Masalah dengan sanitasi, penyakit, hal-hal yang bisa membuka jalan mereka kepada kita. Jadi kami katakan: Mencegah terjadinya masalah dan melakukan pencegahan. Tujuannya adalah pencegahan, tetapi juga (termasuk) mencegah masalah lingkungan dan kemanusiaan yang dapat membahayakan Israel. “

Ditanya bagaimana “menangani” Gaza, Netanyahu menjawab: “Pilihan sebenarnya adalah menjajah dan mengatur Gaza. Anda tidak memiliki siapa-siapa untuk diserahkan kepadanya. Saya tidak akan memberikannya kepada Abu Mazen [Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas].

“Hubungan antara Gaza dan (Tepi Barat yang dijajah) telah terputus. Mereka adalah dua entitas yang terpisah, dan saya pikir dalam jangka panjang, itu bukanlah sesuatu yang buruk bagi Israel, “tambahnya.

“Abu Mazen sendiri yang menyebabkan hal buruk ini terjadi. Dia memotong masuknya dana Otoritas Palestina (ke Gaza). Dia berpikir bahwa dengan melakukan itu, dia dapat menjadikan Gaza terbakar. Kami akan membayar bagi penjajahan Gaza dengan kehilangan banyak nyawa, dan di atas beban yang dipikulkan kepada ‘Israel’ dia (Abbas) akan mendapatkan Gaza di atas piring perak. Itu tidak akan pernah terjadi. “

Dia melanjutkan: “Uang yang dia potong adalah uang Palestina. Bukan ‘Israel’ yang membayar. Uang itu ditganti oleh Qatar dan ini menghentikan rencana Abu Mazen membuahkan hasil, serta memutuskan Gaza dari (Tepi Barat). “

“Jika ada yang mengira akan ada negara Palestina yang akan mengapit kami di kedua sisi. Itu adalah hal yang tidak akan terjadi.”

Mengenai hubungan ‘Israel’ dengan Presiden AS Donald Trump dan apa yang disebutnya “Kesepakatan Abad Ini”, dia mengatakan: “Saya tidak berkoordinasi dengannya. Saya menetapkan tiga prinsip dasar baginya dan dan bagi rakyatnya. Saya sangat berharap tiga hal ini dituangkan di dalam rencana tersebut: 1) Kami tidak akan mengevakuasi satu orangpun  pemukim (Yahudi). Bukan hanya satu pemukiman (Yahudi), tapi tidak untuk satu pemukim (yahudi) pun; 2) Kami akan mempertahankan kendali atas semua wilayah di barat Sungai Yordan. Kami akan memiliki kehadiran yang permanen. Itulah otoritas berdaulat yang utama yang akan kami pertahankan dalam situasi apa pun; dan 3) Kami tidak akan berbagi Yerusalem. “

Netanyahu juga mengungkap apa yang terjadi saat dia mempresentasikan ketiga prinsip tersebut dihadapan para pejabat AS. “Ketika saya mempresentasikan prinsip-prinsip ini kepada

[mantan]

Wakil Presiden [Joe] Biden ketika dia di sini, dia mengatakan kepada saya, itu bukanlah sebuah negara. Saya berkata, ‘Joe, Definisikan itu sesuka Anda, ini adalah persyaratan saya dan saya tidak akan mundur dari itu.’ Itulah yang saya katakan kepada Trump dan perwakilannya [Jared] Kushner dan [Jason] Greenblatt. ”

Dia juga berjanji bahwa dia tidak akan menghapus pemukim ilegal dari Tepi Barat yang dijajah: “Saya tidak mau mencerabut Yahudi manapun. Termasuk pemukiman (yahudi) yang ada di luar blok-blok besar.”

Ketika ditanya apakah dia akan mencaplok wilayah C di Tepi Barat yang dijajah, yang berjumlah sekitar 60 persen dari wilayah itu, dia menjawab: “Saya janji kepada Anda akan ada beberapa kejutan. Saya tidak bisa memberi tahu Anda apa pun tentang rencana itu, tetapi Presiden Trump adalah teman yang baik, dan saya ragu apakah kita akan memiliki yang lebih baik di masa mendatang.” (i7)

——————

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit: 06/04/2019, jam: 11:15 pagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *