Netanyahu di Oman: Memelihara Hubungan Keamanan


Rakyat ‘Israel’ dikejutkan pada Jumat pagi (26/10) saat diberitakan bahwa PM ‘Israel’, Benyamin Netanyahu melakukan kunjungan resminya selama dua hari ke Oman, yang tidak diumumkan sebelumnya.  Meskipun ini bukan kunjungan pertama pejabat ‘Israel’ ke Muscat, dimana kunjungan mantan Perdana Menteri, Yitzhak Rabin, pernah dilakukan pada tahun 1994, dan penggantinya, Shimon Peres, pada tahun 1996. Namun tetap waktu kunjungan Netanyahu ini mengundang tanda tanya tentang tujuannya dan apakah ini telah mencapai sasaran yang dimaksudkan.

Yossi Melman, seorang analis untuk urusan keamanan di surat kabar Maariv, dan Zvi Bar’el, analis urusan Arab di surat kabar Haaretz, memberikan komentar bahwa kunjungan Netanyahu ke Oman tidak jelas. Namun, mereka menjelaskan bahwa kunjungan Netanyahu ini dilakukan beberapa hari setelah kunjungan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas ke Kesultanan itu. Namun para analis ini mengesampingkan bahwa Netanyahu ingin melanjutkan negosiasi dengan Palestina, mengingat perkembangan seperti itu bertentangan dengan kebijakannya dan kebijakan pemerintahnya, terutama mengingat pemilihan umum di Israel semakin mendekat.

Di sisi lain, hubungan baik antara Kesultanan Oman dan Iran bukanlah hal yang rahasia, dan Amerika Serikat telah melangsungkan beberapa kali perundingan dengan Iran di Kesultanan Oman. Seperti malam penandatanganan kesepakatan nuklir dengan Iran, pada tahun 2015, dan pertemuan dengan mantan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, dengan para pejabat Iran di Muscat kala itu.

Melman memandang bahwa Sultan Oman, Qaboos ben Said, dan Netanyahu “tanpa diragukan” membahas masalah Iran,  namun dia menegaskan “pengambilan kesimpulan bahwa Oman akan mencoba untuk menengahi atau mendekatkan Iran ke ‘Israel’ adalah bagaikan jauhnya timur dengan Barat” dalam kata lain bahwa kemungkinan akan hal ini tidak realistis.

Perlu dicatat bahwa saat kunjungan Peres ke Muscat pada tahun 1996, ‘Israel’ membuka kantor perwakilannya di Kesultanan, yang dikunjungi oleh perwakilan dari Kementerian Luar Negeri ‘Israel’, tetapi misi ini ditutup setelah pecahnya Intifada Kedua, pada tahun 2000. Tujuan dari kunjungan Rabin ke Kesultanan, mengemas perjanjian Oslo dengan Palestina dan kesepakatan damai dengan Yordania, dengan dukungan multilateral dari dunia Arab dan Islam, menurut Melman. Di saat yang  sama berlangsung pembahasan rencana pembangunan regional dan permasalahan bersama seperti isu kelangkaan air, sumber energi dan pembangunan pertanian.

Melman menambahkan bahwa meskipun perwakilan ‘Israel’ telah ditutup di Amman, namun hubungan antara kedua belah pihak terus berlanjut. Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni, telah berjumpa dengan rekan kerja Omannya, Yusuf bin Alawi, di Qatar pada 2008.

Hubungan Keamanan Sejak Tahun 1970-an

Hubungan antara Israel dan Oman dimulai pada 1970-an. Menurut Melman,  “Mossad yang telah mengatur hubungan rahasia ini”.  Dan prakteknya, semua pimpinan Mossad sejak saat itu hingga hari ini telah mengunjungi Oman dan berjumpa dengan para pejabat tinggi Oman termasuk di dalamnya Sultan. Sebagaimana pimpinan Mossad sekarang, Yossi Cohen menemani Netanyahu pada kunjungannya, mantan pimpinan Mossad Shabtai Shavit, dan wakilnya Ephraim Halevy, Rabin, dan mantan pimpinan Mossad, Danny Yatumen menemani Perez. ”

Hubungan ini bermula dengan latar belakang peristiwa yang terjadi di perbatasan Oman – Yaman selatan, yang kemudian setia kepada Uni Soviet dan menjadi tuan rumah organisasi-organisasi Palestina di wilayahnya. Menurut Melman, Oman meminta bantuan militer dari Inggris, dan ” ‘Israel’ telah mengirimkan beberapa penasihat untuk membantu pelatihan dan bimbingan tentara Oman. Selama bertahun-tahun sudah ada orientasi Oman lainnya terhadap Israel untuk mendapatkan bantuan keamanan dan teknologi, tapi bukan dalam volume yang besar. Urgensi terbesarnya adalah terletak pada eksistensi hubungan yang terus berlanjut meski terjadi krisis.”

Sementara itu, Bar’el menulis bahwa pendampingan pimpinan Mossad terhadap Netanyahu bukanlah hal yang aneh, dan bahwa “Mossad telah memberikan kontribusi signifikan bukan atas pengaturan kunjungan ini, tapi kepada bantuan pemerintahan Ben Said. Bin Said dalam masa tahun-tahun berkuasanya bergantung kepada intelejen Inggris.”

Pada gilirannya, analis urusan Arab di koran “Yisrael Hayoum,” Oded Granot, menjelaskan bahwa “ada tanda jelas yang menutup semua keraguan, bahwa pengumuman tentang hubungan yang terbuka dengan semata-mata undangan Netanyahu ke sebuah kunjungan resmi, yang parallel dengan kunjungan Menteri Kebudayaan dan olahraga ‘Israel’, Miri Regev, ke UEA , membuktikan bahwa dalam pandangan negara-negara blok Arab yang moderat, membicarakan dengan ‘Israel’ terkait urusan Iran dan kawasan ini (Timur Tengah) lebih penting dan mendesak daripada menyelesaikan konflik Israel-Palestina. “

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *