Misteri Dibunuhnya Insinyur Kimia Iman Al-Razza, Adakah Keterlibatan Israel?

Meskipun berlalu hampir satu bulan setengah atas terbunuhnya Iman Husam Al-Razza. Gadis penduduk Nablus ini dibunuh di dalam apartemennya di Kota Al-Bireh, Provinsi Ramallah di pusat Tepi Barat yang terjajah.  Kabut ketidakpastian masih menggelayuti situasi di seputar kematiannya, sementara Jaksa Penuntut Umum Palestina terus melakukan penyelidikan tanpa hasil.

 

Banyak pertanyaan seputar masalah ini, yang meskipun sejauh ini satu periode masa telah berlalu, namun masih terus menjadi buah bibir di jalan-jalan Palestina di Tepi Barat, terutama setelah kasus pembunuhan ilmuwan Palestina, Fadi al-Batsh di ibukota Malaysia, Kuala Lumpur.

 

Lalu siapakan yang mungkin berada di belakang pembunuhan gadis yang tidak diketahui tentang dirinya kecuali dedikasinya dalam bekerja dan prestasi di bidangnya. Dan siapakah yang memiliki kepentingan untuk melenyapkan gadis di usia mudanya masih terus menimbulkan pertanyaan bagaimana hal ini bisa terjadi? Tanpa satu pun adanya bukti selain tubuh yang digantung dengan tali!

 

Sejak detik-detik pertama, keluarga Reza tidak memiliki keraguan tentang anak perempuan mereka yang telah menjadi sasaran pembunuhan.  Meskipun secara lahir yang terlihat nampak seperti kasus bunuh diri.

 

Awal Mula Kejadian

Pada Ahad malam, 25 Maret 2018, polisi di Ramallah mengumumkan bahwa mayat gadis itu ditemukan tergantung di tali di apartemennya di Al-Bireh dalam keadaan misterius.

Bukti fisik tidak mengarahkan pada  penyebab kematian. Mayat dipindahkan ke Kompleks Medis di Ramallah. Jaksa Penuntut Umum kemudian memutuskan untuk menahannya dan merujuknya ke Institut Kedokteran Forensik untuk penyelidikan.

Pihak keluarga menjelaskan bagaimana putri mereka ditemukan tewas: Pada hari itu, ibu dari Iman dan saudara laki-lakinya, Mohsen, pergi ke tempat tinggal putri mereka di Al-Bireh setelah curiga atas penolakannya terhadap panggilan telepon dan juga tidak pula melakukan panggilan telepon kepada mereka, seperti biasa yang dilakukannya.

 

Ibunya mengatakan bahwa ketika mereka tiba di apartemen, mereka mengetuk pintu tetapi tidak ada jawaban. Muhsin memeriksa ke jendela hanya untuk dikejutkan saat melihat adiknya sudah tergantung di tali. Maka dia mulai berteriak histeris.

Muhsin membuka jendela dan menemukan kunci apartemen berada di tepinya. Maka dia mencoba membuka pintu tetapi tidak mau terbuka. Maka dia mengulurkan tangannya dari jendela dekat  pintu dan membukanya dari dalam.Ibunya mengatakan: “Iman tergeletak di atas kursi plastik, dan kepalanya diikat oleh tambang jemuran yang ditambatkan ke dinding.”

Sementara itu, polisi dan detektif tiba, dan mulai memeriksa tempat dan melakukan penyelidikan awal. Mereka menahan saudara laki-lakinya, Mohsen, untuk proses penyelidikan, sebagaimana biasanya dalam kasus-kasus seperti itu.

 

 

Kasus Pembunuhan Sebelumnya!

 

Iman (27 tahun), gadis ini dinamakan dengan nama itu mengikuti nama pamannya Ayman, yang dibunuh oleh Penjajah Zionis karena perannya dalam mendirikan sayap militer “Elang Merah” dari  Front Kerakyatan pada era Intifadah yang pertama. Gadis ini juga bukan tidak mungkin telah menjadi incaran penjajah Zionis.

Keluarga Al-Raza adalah salah satu keluarga yang dikenal atas perjuangannya. Ayahnya Hossam sudah ditangkap sebanyak 32 kali dan menghabiskan lebih dari 16 tahun di penjara Israel. Ketika mata gadis ini baru melek dan melihat cahaya mentari, kala itu ayahnya sedang berada di dalam tahanan.

Kakaknya, Badr, masih berada dalam tahanan. Tahun lalu dia melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk  penolakan atas penahanan administratifnya.

Ayahnya, Hossam Al-Raza, seorang pemimpin dalam Front Kerakyatan, sekarang masih mendekam di penjara Penjajah Zionis. Dan tidak lama sebelum penangkapannya, dia menolak kemungkinan motif bunuh diri dalam kasus kematian putrinya. Dia menjelaskan akan adanya pihak intelejen berada di belakang aksi kriminal itu, karena itu dilakukan dengan profesionalisme yang tinggi, dan tidak meninggalkan jejak yang mengarahkan kepada pelakunya.

 

Ada beberapa bukti bahwa ini merupakan kasus pembunuhan yang disengaja. Diantaranya, CCTV yang dipasang mengarah ke rumah itu dalam kondisi tidak aktif; Kunci pintu luar apartemen berada di dalam ruangan dan pintu tidak bisa dibuka dari luar; Ada memar-memar di bagian belakang dan beberapa tanda di bagian samping tubuhnya, yang kemungkinanannya adalah putrinya telah mengalami interogasi dan penyiksaan sebelum dibunuh.

 

Beberapa Petunjuk

 

Dalam wawancara sebelumnya dengan media sebelum penangkapannya pada tanggal 17 bulan lalu, ayahnya menegaskan bahwa Iman tidak memiliki latar belakang atau motif yang mengarahkan untuk sampai pada tingkat pembunuhan.

Dia menjelaskan bahwa putrinya, adalah seorang insinyur kimia yang sukses dalam pekerjaannya. Memiliki kepribadian yang kuat, dan tidak menderita masalah mental atau fisik. Hidupnya penuh dengan kebahagiaan dan setiap tahun selalu pergi keluar negeri untuk berwisata. Dia berencana untuk menyelesaikan studinya di sebuah universitas di Italia untuk mengambil gelas master dan doktor.

 

Dia menambahkan bahwa putrinya biasa bekerja lebih banyak dari tugas yang diberikan kepadanya. Pada hari dia dibunuh, dia seharusnya pergi ke Jericho untuk mendapatkan pekerjaan di Kotamadya itu.

Dan menegaskan bahwa dia tidak memiliki permusuhan dengan siapa pun kecuali Penjajah dan kacung-kacungnya. Dia mengisyaratkan kemungkinan keterlibatan Penjajah dalam kejahatan ini, berdasarkan beberapa bukti, termasuk bahwa intelijen Penjajah pernah mengancamnya terhadap putrinya tahun lalu.

“Selama interogasi, perwira intelijen itu mengatakan kepada saya: Kami telah menangkap anda 32 kali dalam hidup Anda, Dan tidak akan pernah terjadi penangkapan untuk ke-33 kalinya, dalam sebuah isyarat yang membidik jenazah saya (kematian),” katanya.

 

Dia menjelaskan bahwa Iman telah mengajukan izin untuk memasuki Yerusalem yang dijajah dalam rangka bekerja di sebuah pabrik kimia di sana. Otoritas Penjajah menolaknya dengan alasan bahwa dia memiliki keahlian di bidang tehnik kimia, dan keluarganya masuk dalam daftar perlawanan.

 

Diperkirakan bahwa keunggulan ilmiah putrinya, dan penelitian yang dilakukannya pada beberapa bahan untuk mengukur kemungkinan terbakar, untuk keperluan industri, kemungkinan yang memicu ketakutan penjajah bahwa hasil penelitiannya itu akan diterapkan untuk tujuan perlawanan. Khususnya lagi karena adik kandungnya, Badar dipenjara karena membuat perangkat alat peledak.

Dan yang semakin memperkuat asumsi kasus ini sebagai pembunuhan, adalah waktunya yang singkron dengan pembunuhan Ilmuwan Palestina Fadi Al-Batsh di Malaysia, yang dituduh oleh Penjajah Zionis menggunakan pengetahuannya di bidang teknik listrik, untuk meningkatkan kapabilitas roket perlawanan Palestina.

Apa yang memperkuat kecurigaan ini juga adalah fakta bahwa Penjajah melakukan penangkapan terhadap ayahnya di hari saat dia menerbitkan sebuah publikasi di halaman Facebook-nya, dimana dia memberi isyaratakan  kemungkinan keterlibatan Penjajah.

 

Ayahnya mengungkapkan dalam status di halamannya bahwa intelijen Israel mengingatkan pada malam kematian Iman, kepada saudara laki-lakinya Badr dari dalam penjara Jilboa, untuk menundukkannya dalam proses interogasi, sebagai upaya intelejen untuk mematahkan semangatnya.

Penjajah Zionis mengatur penangkapan sang ayah dan menjadikan status penahananadministratif untuknya dengan tanpa alasan dan masa 6 bulan. Ini semua di tengah kesibukannya menindaklanjuti kasus putrinya, menjadi sebuah pukulan bagi upaya keluarganya untuk mengungkap kebenaran dari kasus kematian itu. Pada waktu yang sama ini menjadi isyarat tambahan akan keterlibatan Penjajah Zionis dalam aksi kriminal ini.

 

 

Keterkaitan Berbagai Kejadian

 

Dalam sebuah pernyataan setelah penangkapannya, keluarga Al-Razza mengaitkan secara sempurna antara penangkapannya dan pembunuhan putrinya. Keluarga itu menganggap bahwa penangkapan itu sebagai bentuk halangan terhadap penyelidikan. Karena sang ayahlah sosok yang mendalami kasus itu secara menyeluruh. Keluarga itu menegaskan bahwa penangkapan sang ayah tidak akan pernah menghentikannya dari melakukan tuntutan terhadap tangan-tangan yang terlibat dalam kasus ini.

 

Keluarga Al-Razza meminta Presiden Otoritas Mahmoud Abbas untuk menindaklanjuti kasus kematian Iman secara khusus. Dijelaskan bahwa hingga saat ini keluarga itu belum menerima pemberitahuan resmi atau tidak resmi terkait proses penyelidikan. Ditegaskan bahwa kasus Iman ini tidak akan pernah ditutup kecuali dengan ditutupnya kuburan orang-orang yang terbukti memiliki keterlibatan dalam kasus ini.

 

Yang menimbulkan kekhawatiran keluarga ini adalah ada beberapa upaya yang dilakukan oleh pihak-pihak Otoritas Palestina untuk menutup kasus ini dengan dalih bahwa ini adalah kasus bunuh diri. Tapi keluarga menolak untuk menerima hal itu, dan terus melakukan pendalaman secara aktif, hingga memaksa pihak penyelidik untuk menindaklanjuti penyelidikan dan penelitian atas berbagai kemungkinannya.

 

Ini membuka asumsi kedua, yang mengarahkan asumsi pihak pelaku berada di dalam tubuh Otoritas yang terlilbat atau melaksanakan operasi pembunuhan terhadap putri Al-Razza demi meraih kepentingan bersama Penjajah. Atau sebagai upaya menutupi kasus-kasus yang lain, sebagaimana yang terjadi dengan gadis bernama Navin Awawda dari Hebron, dimana jasadnya ditemukan di dekat apartemennya di Birzeit. Juga kasus Raed Al-Gharouf dari Jericho yang jasadnya ditemukan di halaman Hotel Milenium di Ramallah.

 

Dalam kedua kasus tersebut, pembahasan awalnya berkisar pada asumsi bunuh diri. Tapi “kecelakaan” itu memaksa pihak yang berwenang untuk mengubah proses penyelidikan, yang memperjelas adanya orang berpengaruh dalam kedua kasus tersebut.  Dimana mereka ingin menutupi isu-isu kasus korupsi keuangan dan moral yang dilakukan oleh beberapa pemimpin Otoritas dan perangkat keamanannya (i7).

 

———
Sumber: www.palinfo.com, terbit 01/05/2018, jam 02:53:44 siang.

, , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *