Meskipun Corona Merebak: Pemukim Zionis Terus Serbu Al-Aqsha


Puluhan pemukim Yahudi menyerbu halaman Masjid Al-Aqsha melalui Gerbang Mughrabi dengan pengawalan ketat polisi penjajah, yang tiada hentinya mengasingkan sejumlah warga kota Al-Quds dari Masjid Al-Aqsha dan Kota Tua karena telah membagi-bagikan selebaran pencegahan terhadap virus Corona.

Menurut Departemen Wakaf, puluhan pemukim Yahudi menyerbu masjid Al-Aqsha dan mengorganisir tur provokatif di halaman masjid dan memberikan penjelasan terkait keyakinan “Haikal” hayalan, sambil melakukan ritual Talmud dengan perlindungan dari pasukan penjajah yang bertebaran di tempat itu.

Penyerbuan ini terjadi di tengah berbagai peringatan yang disampaikan oleh para aktivis kota Al-Quds akan pemanfaatan situasi oleh penjajah di tengah keadaan darurat kesehatan yang diumumkan di Masjid Al-Aqsha,  untuk mencegah penyebaran epidemi Corona di antara para jamaah, dan keputusan Departemen Wakaf Islam untuk menutup tempat-tempat shalat yang beratap.

Para aktivis meminta semua warga untuk berbaris menuju Masjid Al-Aqsa, melaksanakan shalat di halamannya dan tidak membiarkan penjajah mengosongkannya secara bertahap.

Pada hari Ahad kemarin, sebagian besar pintu-pintu Masjid Al-Aqsha ditutup dengan dalih “pencegahan dari virus Corona”, kecuali beberapa pintu saja yaitu Hatta, Majlis dan Silsilah.

Selain itu, polisi penjajah mengasingkan empat warga kota Baitul Maqdis dari Al-Aqsha dan Kota Tua untuk masa dua pekan, dengan alasan “melanggar kedaulatan negara Zionis di kota Al-Quds dengan cara membagi-bagikan selebaran terkait virus Corona.”

Polisi juga menangkap Wakil Dirjen Departemen Wakaf, Najeh Bakirat, setelah menyerbu rumahnya di kota Tyre Baher, selatan kota Al-Quds, dan menginterogasinya sebelum membebaskannya tanpa syarat.

Pusat Informasi Wadi Hilweh menyatakan bahwa otoritas penjajah telah mengejar dan melarang Organisasi Bantuan Medis Palestina untuk membagi-bagikan selebaran tentang “metode pencegahan virus Corona dan menghadapinya dengan karantina rumah.”

Dia menambahkan bahwa polis penjajah telah menangkap tiga sukarelawan organisasi bantuan itu saat mereka membagikan poster di Jalan Al-Wadi di kota Al-Quds Tua. Nasser Jamjoum, koordinator kegiatan bantuan medis itu, dipanggil untuk diinterogasi, dan dibebaskan dengan syarat diasingkan dari kota Al-Quds Tua selama 14 hari.

Jamjoum menjelaskan bahwa polisi penjajah mengklaim bahwa membagi-bagikan selebaran untuk meningkatkan kesadaran itu sebagai “pelanggaran kedaulatan negara Zionis di kota Al-Quds “, terutama dikarenakan selebaran itu memuat lambang bendera Palestina.

Dia menegaskan bahwa selebaran-selebaran itu adalah upaya untuk meningkatkan kesadaran warga kota Al-Quds tentang virus Corona dan lambang yang terdapat di dalamnya merupakan lambang organisasi bantuan medis nasional Palestina yang berkantor di Ramallah.”

—————-

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit: 03/16/2020 – 10:41.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *