Mengapa Hamas Berkabung atas Qassem Soleimani?


Warga Palestina turut berkabung atas wafatnya Soleimani di kota Gaza pada tanggal 4 Januari 2020 [Kantor berita Anadolu]

Oleh: Motasem A. Dalloul

Begitu pembunuhan Letjen Qassem Soleimani dikonfirmasi oleh Pentagon, Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) menjadi salah satu dari yang berduka dan menyalahkan AS karena telah menyebabkan kekacauan di kawasan ini melalui pelanggaran terhadap “poros perlawanan” di Timur Tengah, serta “dukungan buta” terhadap negara Penjajah Zionis.

“Kami berduka atas kematian Soleimani dan komandan Iran lainnya yang tewas dalam serangan udara oleh AS,” kata gerakan itu. “Pada kesempatan yang menyedihkan ini, Hamas mengutuk penindasan AS yang telah menimbulkan perselisihan dan pergolakan di kawasan, hanya untuk melayani kepentingan Penjajah Zionis.”

Ini memicu gelombang kritik media sosial di dunia Arab, terutama dari dalam Arab Saudi dan UEA. Hamas dituduh berpihak pada rezim Iran, yang digambarkan sebagai “bertanggung jawab atas pertumpahan darah di Irak dan Suriah, serta ketidakstabilan di Libanon.”

Salah satu kritik dari Saudi yang dan beredar luas di WhatsApp mengatakan, “Hamas seharusnya melemparkan dirinya ke dalam pelukan Arab Saudi, pelindung proyek Sunni di kawasan ini … Soleimani, yang merupakan tangan Iran di Irak dan Suriah, tidak akan pernah memerdekakan Palestina jika dia masih hidup. “

Mengapa Hamas mengambil posisi demikian? Ini adalah gerakan perlawanan Palestina yang meyakini untuk mengakhiri penjajahan Zionis dan mendirikan negara Palestina yang berdaulat. Selama ada penjajahan Zionis, ditegaskannya, maka perlawanan akan tetap ada. Ini adalah hak sah yang dijamin oleh hukum dan konvensi internasional, dan diakui oleh PBB.

Gerakan ini juga meyakini bahwa perjuangan Palestina harus menjadi isu sentral negara-negara dan rakyat Arab. Inilah yang diklaim oleh semua orang Arab untuk diyakini. Namun, hampir semua orang sekarang tahu bahwa ini tidaklah demikian. Saat ini, masalah utama bagi negara-negara Arab adalah legitimasi negara Penjajah Zionis dengan menjalin ikatan komersial, diplomatik dan bahkan sosial dan budaya, yang disebut “normalisasi” hubungan.

Rezim otoriter di dunia Arab masih terus bekerja untuk melemahkan perlawanan Palestina dengan membidik Hamas dan faksi-faksi lainnya. Beberapa rezim ini, seperti Arab Saudi, UEA dan Mesir, saat ini bekerja secara terbuka demi mencapai tujuan ini.

Mesir , misalnya, telah menerapkan pengepungan ketat yang dipimpin negara Penjajah Zionis terhadap Palestina di Jalur Gaza sejak pertengahan 2007. Mesir telah memberlakukan semua jenis kesulitan kepada rakyat Palestina yang melakukan perjalanan melalui gerbang perbatasan Rafah saat dibuka; Pada dasarnya ini adalah satu-satunya gerbang bagi banyak orang untuk masuk dan meninggalkan Gaza. Pemerintah Mesir biasa menahan orang-orang Palestina, dan menghalangi arus barang dan pergerakan bebas, bahkan terhadap orang-orang yang membutuhkan perawatan medis yang mendesak.

Orang-orang Palestina yang ingin melewati Rafah sering harus membayar suap kepada para petugas Mesir, dengan sepengetahuan dan persetujuan negara. Pos-pos pemeriksaan militer dan keamanan di jalan menuju Kairo dari perbatasan semakin memakan banyak waktu – kadang-kadang bahkan bisa berhari-hari – dari waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan perjalanan.

Pada November 2018, saya tidak diizinkan melewati gerbang perbatasan Rafah setelah saya menolak membayar suap. Petugas keamanan Mesir mengatakan kepada saya bahwa saya harus pulang dan ketika saya bertanya mengapa, dia mengatakan bahwa saya “harus kembali keesokan harinya.” Saya tidak mengerti, tetapi dia menjelaskan bahwa saya perlu membayar suap dalam dolar Amerika. Musafir Palestina harus membayar antara $ 500 hingga $ 1.500, dan kadang-kadang bahkan lebih, untuk mendapatkan izin melintas, tidak peduli apapun tujuan perjalanannya.

Hamas juga meyakini bahwa perjuangan Palestina harus menjadi isu sentral negara-negara dan rakyat Arab. Inilah yang diklaim oleh semua orang Arab untuk diyakini. Namun, hampir semua orang sekarang tahu bahwa hal ini tidak terjadi. Saat ini, masalah utama bagi negara-negara Arab adalah legitimasi negara Penjajah Zionis dengan menjalin ikatan komersial, diplomatik dan bahkan sosial dan budaya, yang disebut “normalisasi” hubungan.

Arab Saudi dan para pendukungnya mengklaim bahwa dia adalah pelindung Muslim Sunni, termasuk Hamas dan Palestina. Ada banyak pandangan tentang ini, tetapi saya akan fokus pada pemenjaraan warga Palestina di negara yang merupakan rumah bagi dua tempat paling suci bagi umat Islam: Mekah dan Madinah.

Ketika Arab Saudi, Bahrain, UEA dan Mesir mengumumkan pengepungan mereka atas Qatar pada tahun 2017, mereka mengatakan itu karena pemerintah di Doha menjadi tuan rumah “organisasi teroris” seperti Hamas dan “pemimpin teroris” seperti Shaikh Yousef Al-Qaradawi. Bagaimanakah Hamas bisa meminta bantuan kepada negara yang menghasut orang banyak terhadap gerakan ini dan salah satu syekh Sunni yang paling dihormati di dunia?

Tahun lalu, kelompok hak asasi manusia mengungkapkan bahwa lebih dari 60 warga Palestina ditahan di penjara Arab Saudi. Keluarga mereka tidak tahu apa-apa tentang keberadaan mereka atau kondisi di mana mereka ditahan, meskipun beberapa diketahui tidak mendapatkan perawatan medis. Dua dari tahanan tersebut adalah perwakilan dari Hamas di Arab Saudi, Dr Mohammed Al-Khodari, seorang berusia udzur sudah 80 tahun dan sedang menderita sakit, dan putranya. Bagaimana orang bisa percaya bahwa Arab Saudi siap mendukung Hamas dan Palestina disaat perlakuan tidak manusiawi seperti itu dilakukan oleh para pejabat Saudi?

Hubungan Hamas dengan Iran bukanlah rahasia; Hamas dalam berbagai kesempatan telah menyatakan bahwa mereka menerima dukungan militer dan keuangan dari Iran, yang merupakan negara Syiah. Palestina tahu betul bahwa Iran adalah antagonis terhadap negara-negara Sunni dan bertanggung jawab, bersama dengan AS dan pemerintah Barat lainnya, dan Rusia, atas pertumpahan darah yang terjadi di Irak dan Suriah. Hamas juga tahu bahwa Iran mendukung Houthi di Yaman, tempat Arab Saudi, UEA dan negara-negara Arab Sunni lainnya melakukan kejahatan perang dan membantu menciptakan “krisis kemanusiaan terburuk” di dunia.

Dalam pernyataannya tentang pembunuhan Soleimani, Hamas menjelaskan bahwa Letjen Iran tersebut “memainkan peran utama dan penting dalam mendukung gerakan perlawanan Palestina di semua tingkatan.” Gerakan ini tidak pada tingkatan di mana dia dapat menolak segala bentuk bantuan dari negara mana saja. Ini juga berlaku bagi negara yang memiliki hubungan dengan negara penjajah Zionis seperti Qatar, yang telah menjadi tuan rumah kantor perdagangan Penjajah Zionis sejak 1995 tetapi juga mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.

Sejauh yang menyangkut Hamas, setiap dan semua jenis bantuan yang diterimanya harus tanpa syarat. Dia tidak siap untuk menawar prinsip-prinsipnya sendiri atau prinsip Palestina. Ketika revolusi Suriah pecah pada tahun 2011, misalnya, dia siap mengorbankan dukungan dari Damaskus dan Teheran ketika menolak untuk mengeluarkan satu saja pernyataan untuk mendukung rezim Assad, atau setidaknya mengutuk revolusi rakyat. Karena itulah dia terpaksa meninggalkan Suriah, dan Iran menghentikan dukungannya untuk sementara waktu.

Selama tahun-tahun pengepungan Penjajah Zionis, Hamas telah menindak kelompok Syiah di Gaza – Al-Sabereen – yang memiliki dedikasi untuk menyebarkan kepercayaan Syiah di kalangan Muslim Palestina, yang 100 persen Sunni. Hamas tidak mempertimbangkan dukungan Iran ketika menolak permintaan untuk mengizinkan pemimpin Al-Sabereen agar diberikan gerakan bebas, atau ketika menolak menerima dana untuk sekolah baru karena ditawarkan dengan syarat bahwa sekolah itu akan dinamai dengan nama pemimpin Iran.

Pada tahap ini, Hamas tidak memperhatikan konflik Sunni-Syiah dan tidak ingin menjadi bagian darinya karena mereka membawa Arab Saudi dan negara-negara lain lebih dekat ke negara Penjajah Zionis ke titik kemungkinan membentuk aliansi dengan negara Penjajah Zionis. Sebaliknya, gerakan ini memperhatikan bagaimana mengakhiri penjajahan Zionis, yang tetap menjadi penyebab utama penderitaan rakyat Palestina.

Bagi negara-negara dan orang-orang yang mengkritik Hamas karena hubungannya dengan Iran, ketahuilah bahwa Hamas tidak menginginkan pelatihan persenjataan atau militer dari anda, selain dukungan korporasi dan keuangan. Hamas juga membutuhkan perlindungan politik dan diplomatik bagi perlawanan Palestina yang sah melawan penjajahan dan membutuhkan rakyat dan negara-negara Arab untuk mendorong masalah Palestina melintasi arena internasional. Jika Hamas dapat bergantung sepenuhnya kepada negara-negara tetangga Arab terdekatnya untuk mendapatkan dukungan, maka dia tidak perlu lagi mencari bantuan dari Iran atau dari mana pun (i7).

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak selalu merefleksikan kebijakan editorial Middle East Monitor.

———————-

Sumber www.middleeastmonitor.com, terbit: 6 January 2020 jam: 10:57 pagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *