Membaca Arah Politik Luar Negeri Zionis Israel

Sumber berita Zionis Israel, Haaretz menyebutkan, adanya pembatalan KTT negara di Benua Afrika dengan Israel, yang semula akan diadakan di Togo (23-27 Oktober 2017) berdasarkan permintaan presiden Togo, Faure Gnasingbe. Pembatalan konferensi ini tidak lepas dari adanya tekanan beberapa negara Afrika bagian timur dan juga negara Arab. Belum ada kepastian hingga kapan KTT ini akan diundur.

 

Semula, penjajah Israel akan memanfaatkan KTT itu untuk memberikan bantuan dana sebesar 1 trilyun dolar kepada negara-negara Afrika. Tentu tidak ada yang gratis, sebagai imbalannya mereka meminta pengakuan dan normalisasi hubungan Israel. Seperti diketahui sebelumnya, pada tanggal 4 Juni 2017 dalam acara ECOWAS Afrika-Israel Summit di Liberia, Netanyahu datang dan menjanjikan pemberian bantuan tersebut. Rencananya, dana itu untuk membangun “proyek – proyek hijau” yg dikembangkan oleh negara-negara Afrika Barat yang tergabung dalam ECOWAS (The Economic Community of West African States).

 

Yang menjadi pertanyaan, dari mana Zionis Israel memiliki dana sebesar itu? Disinyalir ini adalah dana dari Amerika dan Uni Eropa. Sudan, yang dikenal keras terhadap Barat kini menjadi target tawaran menarik ini, sehingga negara Arab yang dipimpin oleh Umar Bashir itu dibujuk untuk ikut dalam konferensi di Togo, dengan dimingi bantuan pelunasan hutang negara dan bantuan dana dalam jumlah besar. Tentu dengan syarat mutlak, yaitu membuka hubungan bilateral dengan Israel.

 

Bukan hanya di benua Afrika saja, Israel juga bergerilya ke kawasan Amerika Selatan. Untuk pertama kalinya setelah 29 tahun, Benjamin Netanyahu atas nama Israel melakukan kunjungan ke beberapa negara Amerika Latin, diantaranya adalah Meksiko, Argentina dan Kolombia. Kunjungan ini berbungkus penguatan hubungan diplomatik antar pemerintah dan komunitas Yahudi yang ada di sana.

 

Faktanya, kunjungan ini dilakukan karena semakin lemahnya pengaruh Israel di kawasan itu. Indikasi itu bisa kita lihat dalam empat hal, pertama, adanya negara-negara yang berani mengakui Palestina sebagai sebuah negara, diantaranya pengakuan dari Brasil pada musim panas 2014 lalu, yang mengakui kedaulatan Palestina berdasarkan wilayah sebelum 1967.

 

Bukan hanya Brasil yang mengakui kedaulatan Palestina ini, tapi ada negara Cile, Ekuador, El Salvador dan juga Peru. Mereka bahkan memanggil pulang duta besar mereka dari Tel Aviv sebagai wujud protes terhadap agresi militer Israel di Gaza di tahun 2014 itu.

 

Kedua, pada bulan Februari 2016 lalu, Otoritas Palestina membuka misi kedutaan dan diplomatiknya yang pertama di Brasil. Pada saat yang sama, Brasil menolak untuk menerima calon dubes Israel untuk negara Amerika Selatan. Calon dubes itu bernama Dani Dayang, mantan dari pemimpin gerakan permukiman illegal Israel.

 

Ketiga, Israel menghadapi tantangan diplomatik di Venezuela, karena duta besarnya, Shlomo Cohen, diusir pada tahun 2009, di tengah memanasnya hubungan Israel dengan Venezuela dan Palestina.

 

Keempat, Israel juga mengalami pertikaian diplomatik dengan Meksiko di awal tahun 2017 ini, ketika Netanyahu mendukung pernyataan Donald Trump untuk membangun dinding pemisah di perbatasan Meksiko.

 

Apa yang dilakukan Israel melalui politik luar negerinya di Afrika dan Amerika Selatan ini merupakan upaya mengatasi berkurangnya dukungan dari negara-negara di kedua benua tersebut. Hal ini tentu semakin mengucilkan keberadaan Israel dalam dunia internasional. Jangankan untuk mewujudkan Israel Raya yang terbentang dari Laut Merah hingga sungai Eufrad, untuk menjaga eksistensi keberadaan “negara Israel” saja mereka terbukti gagal. (Iskandar Samaullah)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *