Malam Idul Fitri: Gaza Hadapi Kepungan Penjajah dan Sanksi Otoritas Dengan Senjata Sukacita

Oleh: Basil Maghribi

Meskipun rasa sakit dan penderitaan yang amat pedih; Gaza dan warganya berupaya mencari-cari sejumput kebahagiaan, yang oleh penjajah berusaha dibunuh sebelum warga Palestina menemukannya.

Seperti dapat disaksikan di pasar-pasar Gaza, tidak seperti yang disangka; sambutan yang demikian luas di berbagai bidang perdagangan, meski kondisi yang buruk dari segi perekonomian dan sosial, yang disebabkan oleh pengepungan yang dilakukan oleh Penjajah Zionis terhadap Gaza di tahun yang kedua belasnya secara berturut-turut.

Ini telah mengharamkan penduduknya, tidak peduli itu dari kalangan anak-anak juga, hak kehidupan yang paling dasar dan paling penting, seperti kemerdekaan untuk bergerak, hingga hidup dengan bermartabat dan aman sentosa. Karena anak-anak Gaza tidak menyaksikan dalam kehidupan mereka selain dari perang dan kehancuran dan ketidak berdayaan.

Oleh karena itu mereka sedang mengintai momen-momen kebahagiaan ini, yang mereka rasakan kehadirannya dari celah-celah kecil dan sederhana, seperti membeli baju baru, atau pulang ke rumah dan kampung halaman dengan damai.

Hari raya kali ini tiba di Gaza, di bawah bayang-bayang penjara besar yang diterapkan penjajah terhadapnya, dengan cara mengepung penduduknya, membunuhi mereka, mengusir mereka, menebarkan kelaparan, yang semuanya menyelisihi norma-norma dan dokumen-dokumen internasional.

Ini masih ditambah lagi dengan hukuman yang diterapkan oleh Otoritas Nasional Palestina, yang diwakili oleh presiden, Mahmoud Abbas. Dia tidak hanya gagal untuk mendengarkan suara rakyatnya yang menyerukan pencabutan sanksi terhadap Gaza, tapi bahkan menantangnya, dan menindas dan menekan semua tuntutan untuk menghapus pengepungan itu. Permusuhan pihak keamanan Otoritas Palestina terhadap warganya sendiri yang melakukan demonstrasi di Ramallah kemaren, merupakan contoh nyata akan hal ini.

 

Sukacita dan Tanda Kebahagiaan

Meskipun suasana sedih yang menggelayuti masyarakat di Gaza, tapi suasana sukacita teredam dengan kedatangan hari raya, menarik mata orang-orang yang berkeliling di pasar-pasar Gaza. Mereka dibuat terkesima dengan beragam bentuk hiasan yang berupa-rupa, yang menambah keindahan suasana penyambutan hari raya Idul Fithri.

Titik-titik lokasi penting di Gaza berhias diri yang menambah kecantikannya dan keeleganannya. Bukan saja karena titik-titik lokasi penting itu merupakan lambang besar, juga karena sebagiannya termasuk peninggalan bersejarah, dan sebagian lainnya mencerminkan persaudaraan keagamaan, di mana sebagian terkait erat dengan peninggalan sejarah Umat Muslim dan juga Kristen.

Pasar “Al-Zawiyah” dianggap sebagai salah satu pasar yang paling terkenal di kota itu, sehingga wajar dia terlihat paling cantik dalam suasana perayaan semacam ini. Dapat anda saksikan stand-stand pedagang di depan pertokoan mereka, dengan beragam kue-kuean, terutama yang dibuat sebagai bentuk perayaan hari ied, seperti “Al-Ma’moul” yang dianggap sebagai sesuatu yang menandai hadirnya hari raya.

Yang mencerminkan hidupnya keindahan Gaza dan keaslian warganya, para pedagang, memberikan diskon harga, untuk berbagai jenis barang, dengan maksud untuk mengurangi beban penderitaan yang dialami oleh warga. Meskipun buruknya kondisi perdagangan secara umum, namun sebagian besar pedagang Gaza memilih untuk melakukan iklan dagangan dan menurunkan harga barang mereka, agar supaya masyarakat mampu, hingga kalangan miskin sekalipun, untuk membeli sesuatu yang mereka butuhkan. Dan agar mereka tidak dibiarkan terlantar dikarenakan buruknya kondisi perekonomian yang memukul semua dan dilakukan oleh si tangan sang penindas Zionis.

Maher Shurafa, salah seorang pemilik toko yang menjual pakaian di daerah “Al-Balad” di Kota Gaza, menggambarkan sukacita masyarakat dengan kedatangan hari raya Idul Fitri, katanya: “Kami tidak menyangka sambutan yang demikian besar dari masyarakat, karena melihat kondisi sulit yang dialami oleh Gaza. Namun kondisinya jauh lebih baik dari yang telah kami perkirakan, meski dalam semua kesulitan ini, masyarakat berusaha membawa pulang kebahagian ke dalam hati anak-anak mereka.

Orang-orang berlomba untuk membeli ikan “Al-Fasikh” atau Herring, yang tersebar luas di Jalur Gaza dan merupakan hidangan di waktu sarapan pagi.

Pada hari Idul Fitri, seperti yang selalu terjadi, sebagai hari pertama Idul Fitri dimulai dengan makan “Al-Fasikh”  setelah berpuasa sebulan penuh.

Dalam sebuah wawancara dengan “Arab48” Mohamed Chouikh, berusia 23 tahun, salah seorang pedagang Ikan Herring mengatakan: “Ikan Herring ada musimnya, dan masyarakat biasa membelinya pada saat Hari Raya. Hari demi hari dagangan kami semakin membaik, dan penjualan ikan ini terus meningkat dari sejak hari pertama.”

Abu Ihab Dalloul, warga berusia 55 tahun, memiliki enam anak, mengatakan: “Meskipun situasi sulit yang kami hadapi, tetap kami harus menyelinapkan rasa bahagia ke dalam rumah-rumah kami dan ke dalam hati anak-anak kami.” Dia menambahkan: “Saya tidak mampu membelikan baju baru untuk semua anak-anak, tapi saya akan merasa cukup dengan membelikan untuk Ahmad dan Ali, karena mereka yang paling kecil.

Seorang dermawan sempat memberikan bantuan kepada Abu Ihab dan keluarganya, dimana anak-anaknya diberikan baju yang dipilihkan oleh istrinya, agar anak-anak mereka berdua dapat bahagia sebagaimana layaknya anak-anak lainnya di hari raya.

Di Mata Anak-anak Mereka Sukacita Hari Raya adalah Kebutuhan Darurat

Isma’il al-Tawil memiliki enam anak, namun dia tebaring di rumah sakit Shifa di kota Gaza karena ditembak oleh penjajah di betisnya saat mengikuti Pawai Kepulangan Akbar. Dia berdagang mainan anak-anak di stand, namun karena kondisi kesehatannya yang memburuk dan kondisi perekonomian yang menghimpit, dia tidak mampu membelikan pakaian untuk anak-anaknya. Dia mengatakan: “Tidak ada hari raya bagi saya dan keluarga karena situasi yang dialaminya, dan sebab hilangnya kemampuan dirinya untuk membelikan baju baru untuk hari raya bagi anak-anaknya.”

Di bawah situasi yang kian buruk yang diderita oleh Gaza, ketiadaan lapangan pekerjaan, Shima, seorang mahasiswi universitas menemukan cara non-tradisional untuk memasarkan kue yang dibuatnya. Gadis berusia tidak lebih dari 20 tahun ini, mengandalkan penjualan online, dimana dia membuat halaman fanpage di facebook untuk memasarkan kue. Dia mengatakan: “Saya mulai membuat kue tahun lalu, sebelum Idul Fitri, dan menjadi sumber penghasilan dan pekerjaan musiman bagi saya, didorong oleh kondisi yang sulit, dan sungguh saya benar-benar mulai menjual kue.”

Shaima dibantu teman-teman dan kerabatnya memproduksi kue selama hari-hari terakhir Ramadan. Katanya: “Kegembiraan Idul Fitri tidaklah lengkap kecuali dengan aroma dan rasa kue Idul Fitri, tangis haru, reuni keluarga, dan teman-teman.”


Sukacita yang M
enyedihkan

Hari raya di Gaza merupakan momen kebahagiaan dan kesedihan di satu waktu. Bahagia dengan tibanya hari raya dan tangis haru keluarga teman dan tetangga. Dan Kesedihan yang menyeruak dari situasi yang sulit yang hadir tengah masyarakat, di bawah bayang-bayang pengepungan, yang diterapkan oleh Penjajah Zionis, yang telah menyebabkan syahid dan luka-lukanya ribuan orang. Namun Gaza, meski meskipun semua deraan dan kegetiran ini, tetap melawan Penjajah dan pengepungannya, melawan sanksi yang diterapkan Otoritas Pemerintah setempat, dan melawan kesedihan dan kematian, dan kehancuran, dan pengabaian, dengan sukacita dan kebahagiaan.

Sumber: www.arab48.com, terbit: 14/06/2018 – 22:54.

, , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *