Kunafa & Katayef: Hubungan Sejarah dengan Ramadhan


Kunafa dan Kataef merupakan sebagian jenis makanan Ramadhan yang memiliki ikatan amat erat dengan bulan mulia ini. Keduanya adalah jenis hidangan utama yang disajikan hampir setiap hari pada bulan puasa. Rahasia eratnya ikatan kue-kue ini dengan bulan Ramadhan terletak di dalam awal mula kala dibuatnya dulu. Juga sebab mengapa kue-kue ini menjadi hidangan bagi orang yang berpuasa, adalah karena banyaknya faerah gizi yang dikandungnya, untuk menggantikan kebutuhan basic tubuh yang hilang saat puasa dalam bentuk gula dan kalori. Kataef juga mengandung bahan yang kompleks yang membantu tubuh mencerna makanan saat berbuka. Ini adalah sebab utama yang mendorong masyarakat negeri Syam membuat Kunafa dan Kataef.

Kue-kue manis ini mewakili sejarah panjang yang mengisahkan asal usul dan warisan Umat, mampu mengakar di masyarakat Arab, terutama Mesir dan negeri Syam. Dulu Kunafa dan Katayef merupakan dekorasi meja hidangan para raja dan pangeran. Pada permulaannya dikenal dengan “Kunafa Mu’awiyah”, dibuat khususnya untuk makan sahur bagi mencegah rasa lapar yang dirasakan saat berpuasa.

Sejarawan mengaitkan asal-usul nama “Qatayef” karena kemiripan teksturnya dengan tekstur kain “mewah,” lalu disandarkan nama tersebut kepada kue ini. Dalam riwayat lainnya, penamaan ini diambil kala acara hidangan momen sore kerajaan, dengan kue semacam pancake yang diberikan lapisan dan taburan, bagi para tamu untuk “meng-kataf” atau memetiknya maka disebutlah kue ini dengan “Kataf” lalu nama itu berubah dalam perjalanannya masuk ke dalam masyarakat menjadi “katayef”.

Beberapa jalur periwayatan menjelaskan bahwa Katayef lebih dulu dibuat dan dikenal daripada Kunafa. Sejarahnya bermula di akhir era Daulah Umawiyah dan awal Abasiah. Riwayat lain menyebutkan permulaannya di era Daulah Fathimiyah, dan sebagian mengatakan permulaanya para era “Al-Mamluk”, dimana para pembuat kue ini berlomba untuk menyajikan yang terbaik saat bulan Ramadhan. Maka salah seorang menciptakan kue berlapis dan bertaburan kacang-kacangan, dan disajikan dalam bentuk yang indah dan berhias cantik di piring besar agar para tamu “meng-kataf” atau memetiknya.

Sementara Kunafa telah memiliki kedudukan di antara sekian banyak jenis kue yang dibuat oleh masyarakat Daulah Fatimiyah. Siapa saja yang tidak memakannya sepanjang tahun, maka dia berusaha untuk bisa menikmatinya selama bulan Ramadhan. Hingga jadilah dia salah satu adat kebiasaan dan hidangan yang terkait erat dengan bulan puasa pada era Mamluk dan era Daulah Utmaniyah. Bahkan hingga ke era modern dan era kita saat ini dimana kue-kue manis ini telah menjadi hidangan bagi si miskin dan kaya yang dianggap memiliki karakter warisan budaya kerakyatan.


Pada awalnya, ada satu saja jenis Kunafa, yaitu “Kunafa Yadawi” atau “Kunafa Baladi”, yang mengandalkan cara tradisional di dalam satu wadah yang berlubang-lubang. Berbarengan dengan penyebarannya, muncul jenis kedua yang disebut “sya’r’ atau rambut, itu dikarenakan bentuk benang-benang Kunafa yang menyerupai bentuk rambut. Dan ada lagi jenis ketiga muncul di era modern ini, disebut “Kunafa Makinah” atau Kunafa mesin, yang menggunakan peralatan dan mesin dalam proses pembuatannya.

Peran Kunafa tidak terbatas pada keberadaannya sebagai kue-kue pembangkit selera dan adat istiadat bulan Ramadhan. Karena jejaknya juga meluas kepada warisan atau peninggalan para penyair yang menuliskan banyak puisi dan syair tentangnya. Misalnya penyair Sa’d bin Al-‘Arabiy mengatakan:

“Dan Katayef yang ditemani oleh Kunafa”
Diatasnya dilumuri lelehan gula
Gadis aktifis memukulkan irama yang menakjubkan saya
Dan selebaran ini sungguh membuat saya terkagum-kagum dengannya”

Adapun seorang penyair dari Mesir, Al-Jazzar menulis:

“Jikalau hujanku mereda dari bumi Kunafa sesungguhnya itu karena,
Sungguh kuharapkan setitik awan kebaikan dirimu darinya
Maka bersegeralah tunaikan ia karena bagiku tiada keperluan..
Selain tumbuhan itu yang berbuah pujian dan syukran”

Meskipun teknologi telah mengendalikan industri perkuean, termasuk Kunafa dan Katayef, namun masih ada sejumlah pengrajin yang menjalankannya sebagai profesi di bulan Ramadhan, dan membuat Kunafa dan Katayef dengan tehnik tradisional menggunakan tangan.

Mohammed Hamid, pembuat kue Kunafa dan Katayef mengatakan bahwa masyarakat memandang Kunafa dan Katayef sebagai salah satu manifestasi lahiriah Ramadan yang membawa mereka ke dalam suasana ruhani dan warisan sejarah bulan Ramadhan yang mulia. Dia mengisyaratkan bahwa meski Kunafa bisa ditemukan sepanjang tahun, namun semua orang menerima untuk menikmatinya di bulan Ramadhan. Sehingga ini menjadikannya keanggunan dan citarasa istimewa yang menjadi sampul warisan. Dia menekankan bahwa perkembangan teknologi dan industri tidak akan pernah memberikan pengaruh pada eksistensi Kunafa dan Katayef sebagai menu utama di atas meja-meja hidangan bulan Ramadhan yang mulia. (i7)
———–
Sumber: www.arab48.com, terbit:04/06/2018 – 12:00

Bagi anda pencinta kuliner khususnya kaum ibu, yang ingin menonton video dan membaca resep tehnik pembuatan Kunafa, tersedia halaman membahas hal itu dari Middle East Monitor, situs berbahasa Inggris, silahkan klik linknya disini

, , ,

About Kholid Abdullah

Kholid Abdullah bekerja sebagai tutor Bahasa Inggris dan Bahasa Arab di beberapa lembaga swasta. Selain mengajar, aktifitas harian yang rutin dilakukannya adalah melakukan alih bahasa dari media berbahasa Inggris dan Bahasa Arab untuk mengisi konten situs ASPAC (Asia Pacific Community for Palestine). Saat ini Kholid sedang menyusun sebuah ebook “Antologi Puisi & Nyanyian Perlawanan Palestina”. Untuk mengirim pesan kepadanya, bisa melalui email: interiorasap@gmail.com.
View all posts by Kholid Abdullah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *