Konferensi Gaza Serukan Dukungan Untuk Al-Quds

Dr. Ismail Ridhwan, Menteri Wakaf Palestina di Gaza mengingatkan, Masjidil Aqsha dan Al-Quds dalam bahaya besar, hampir setiap hari menjadi target serangan penjajah, karena itu sangat penting adanya pergerakan serius untuk melindunginya dari kejahatan penjajah zionis.

Konferensi pembelaan untuk Al-Quds yang digelar kementerian wakaf, Selasa (4/6) dengan tema “Labbaika Ya Quds” di hotel Komodor di lepas pantai Gaza, dihadiri Menteri Wakaf, Penasehat Politik PM Palestina, Dr. Yusuf Rizqah, tokoh Jihad Islami, Dr. Muhammad Hindi. Ketua Ikatan Ulama Palestina, Dr. Salim Salamah. Dan sejumlah ulama, dai, para dosen universitas, anggota parlemen dan sejumlah menteri Palestina.

Ridhwan menyatakan, kita bertemu hari ini untuk mendukung dan membela Al-Quds yang terus menjadi target yahudisasi terencana, penghapusan symbol-simbol sejarah dan nilai-nilai Islam, serta upaya penghapusan Al-Quds dari memori dan pemutarbalikan fakta dan pemalsuan sejarah.

Ridhwan menambahkan, pada peringatan Naksa ke 46 dan penjajahan Al-Quds dan Al-Aqsha, serta hilangnya Palestina dan penjajahan sebagian besar wilayah Arab, adalah prahara besar, tidak ada prahara yang lebih besar dari hilangnya Palestina dan hilangnya Al-Aqsha, kehilangan kehormatan Arab, di tengah minimnya dukungan regional dan internasional terhadap kejahatan ini.

Al-Aqsha senantiasa menjadi target serangan terencana secara resmi dari pihak zionis dan pemukimnya, seperti ritual Talmud dan keagamaan, pentas seni zionis dan acara lainnya untuk mengubah realitas dan membagi waktu dan tempat untuk beribadah, hal ini dilakukan dengan menutup sejumlah tempat dan halaman Al-Aqsha dan larangan shalat di sana.

Ridhwan menjelaskan, penjajah zionis terus mengupayakan pembangunan 100 kuil yahudi di sekitar Masjidil Aqsha, dan rencana pembangunan menara seluas 35 meter dengan 10 lantai untuk menutupi halaman dan symbol Masjidil Aqsha, serta rencana untuk menguasai tempat-tempat umat Islam dan mengusir warga Palestina.

Ridhwan menyerukan kepada Otoritas Tepi Barat untuk menghentikan penangkapan pejuang pembela Al-Aqsha, dan menolak normalisasi dengan kembali kepada perundingan sia-sia, serta kembali kepada pilihan perlawanan dan konstitusi Palestina.

Sementara itu Rizqah, penasehat PM Palestina menegaskan, acara ini sebagai peringatan Naksa di dalam maupun luar Palestina untuk mengokohkan ingatan bahwa ada kesempatan bagi umat ini untuk mengembalikan kemuliaannya, dengan membebaskan Palestina, seperti yang pernah terjadi pada masa Sholahuddin Al-Ayyubi.

Rizqah menyerukan pentingnya menyadarkan umat untuk membebaskan Palestina.

Dalam konteks yang sama, Khatib Masjidil Aqsha, Syeikh Ikrimah Shabri menyatakan, Allah berkehendak bahwa Palestina menjadi target ketamakan zionis dan rakyat Palestina menjadi target ujian sulit. Shabri menyebutkan, Naksa 67 bukan yang pertama dan bukan pula yang terakhir.  

Shabri memaparkan fase yang dialami persoalan Palestina mulai dari konferensi zionis di Swiss tahun 1897 menyerukan untuk mendirikan negara yahudi di Palestina, dan berakhirnya pemerintahan Usmani di Turki, serta terbitnya kesepakatan Sykes Picot dan kemudian perjanjian Balfour, juga terbitnya mandat Inggris, di samping Nakba tahun 67, yahudisasi Al-Quds dan mentarget  Masjidil Aqsha.

Khatib Masjidil Aqsha menyerukan untuk saling mendukung dan bersatu. Agama kita menyerukan persatuan, saling membantu dan menanggung, membela yang  terzalimi. Dan menyerukan kepada kebahagiaan bagi manusia, keamanan dan perdamaian yang adil, serta berjuang menghadapi musuh. (infopalestina)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *