“Konferensi Bahrain” Bagi Yordania: Bukan Solusi dan Layani “Kesepakatan Abad Ini”

Rakyat Yordania mengungkapkan keprihatinan mereka terkait Konferensi Ekonomi Bahrain, yang dijadwalkan berlangsung di Manama pada akhir bulan ini, dalam sebuah langkah yang mereka anggap sebagai pembukaan jalan menuju ke ‘Kesepakatan Abad Ini’.

Koresponden kantor berita Anadol berkeliling ke provinsi Irbin di utara negara itu dan mengeksplorasi pandangan banyak warga di sana terkait konferensi tersebut dan sejauh mana hubungan dan perannya dalam mengimplementasikan kesepakatan Amerika dalam menyelesaikan konflik penjajah Zionis dengan Palestina.

Dalam sebuah pernyataan bersama, Amerika Serikat dan Bahrain mengumumkan diadakannya Konferensi Ekonomi di Manama pada 25-26 Juni untuk membahas cara-cara menarik berinvestasi ke Tepi Barat, Jalur Gaza, dan negara-negara di kawasan untuk mencapai perjanjian perdamaian antara dua pihak Palestina dan penjajah Zionis.

Keikutsertaan dari Ketiadaan

Ahmad Shatiyat menjelaskan bahwa “keikutsertaan Yordania dan Palestina dalam Konferensi Bahrain dapat dinilai negatif sebagai bentuk kesepakatan terhadap proyek (Kesepakatan Abad Ini). Sementara jika tidak turut serta akan membuat mereka tidak diperhitungkan, khususnya jika konferensi itu diikuti oleh banyak negara peserta.”

“Menengok latar belakang hubungan Yordania – Palestina, maka kami mengamati permasalahan ini dengan sangat serius,” katanya.

Dia mencatat bahwa “masyarakat Yordania menghadapi kebingungan, terutama mengingat kurangnya penjelasan detail terkait konferensi tersebut, dan keragu-raguan sikap Yordania untuk mengumumkan keikutsertaannya yang tercermin di tengah-tengah masyarakat, termasuk juga pasca konferensi dan implikasinya dan ketidak-ikutannya.”

Sikap Yordania Belum Jelas

Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi mengatakan Kamis (20/06) lalu  bahwa negaranya masih belum mengumumkan sikapnya terkait Konferensi Bahrain yang direncanakan berlangsung akhir bulan ini, tetapi akan menyampaikannya “dengan jelas dan percaya diri.”

Safadi menambahkan dalam keterangannya kepada TV negarta ‘Al-Mamlakah’ bahwa keputusan Yordania terkait Konferensi Bahrain akan diumumkan dengan tegas dan penuh percaya diri, dengan berdasarkan kepada kesepakatan yang tegas dan jelas yang diketahui oleh semua pihak.”

Dua hari sebelum pernyataan Safadi, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa Mesir, Yordania dan Maroko telah menyampaikan tentang keikutsertaan mereka dalam Konferensi Bahrain, menurut laporan media AS. Sementara itu, tidak satu pun selain dari tiga negara tersebut yang secara resmi mengumumkan keikutsertaannya hingga Kamis.

Tetapi Safadi menjelaskan bahwa “kami belum mengumumkan secara resmi sikap kami terkait konferensi Bahrain, karena kami menggunakan hak kami untuk mengevaluasi, berkonsultasi dan bermusyawarah bersama saudara-saudara dan sahabat kami. Ketika kami membuat keputusan, kami akan mengumumkannya dengan jelas.”

Nashr Ta’amunah, seorang warga Yordania lainnya menyatakan “rakyat Yordania tidak mengetahui rincian apa yang ada di dalam konferensi Bahrain, ada yang mengatakan bahwa ini adalah sisi ekonomi dari apa yang mereka sebut sebagai Kesepakatan Abad Ini.”

Sikap Nasional dan Resmi Terpadu

Dia melanjutkan bahwa “sikap kami jelas bersama sikap pimpinan menolak ‘Kesepakatan Abad Ini’ secara keseluruhan, apapun yang keluar dari konferensi itu. Jika tidak menyambut aspirasi rakyat Palestina, maka kami menolak sepenuhnya.”

Dia menambahkan “kami menginginkan hadirnya perdamaian di kawasan ini. Ada warisan sejarah, warisan Islam dan hubungan geografis dan demografis dengan rakyat Palestina. Ini menuntut tanggung jawab sosial, keislaman, dan historis untuk menolak ‘Kesepakatan Abad Ini’ …”

Bersama Aspirasi Rakyat Palestina


Mohammed al-Badour, menegaskan sikap sebelumnya, yang mengungkapkan penolak terhadap ide apa saja yang tidak mengindahkan aspirasi rakyat Palestina, dan “rakyat Yordania memiliki ikatan persaudaraan, sejarah, dengan saudara-saudaranya bangsa Palestina.”

Konferensi Bahrain Bukanlah Solusi

Hana Abu Lubdah menegaskan bahwa “ tidak ada hal yang jelas tentang Konferensi Bahrain, tidak ada keterangan yang jelas dan dia memiliki sisi ekonomi. Saya tidak menganggapnya sebagai solusi yang mengakar, tidak adil, dan tidak pula mendukung permasalahan Palestina. Dia tidak akan menjadi solusi dan kami menolak konferensi ini dan ‘Kesepakatan Abad Ini’ dari asal mulanya.”

Sementara itu, Hassan Arshidat mengatakan bahwa “menjadi maslahat bagi Yordania untuk tidak ikut serta pada pelaksanaan konferensi yang akan mendiskusikan sisi ekonomi dari ‘Kesepakatan Abad Ini’,  dan ini akan menambahkan karakter, ciri, dan keberkahan kepadanya.”

Sikap Yang Kukuh

Omar Al-Aaraj menekankan bahwa “apa pun yang ditelurkan dari Konferensi Bahrain dan apapun peran yang dimainkan untuk mendukung ‘Kesepakatan Abad Ini’, Yordania tidak akan menyerah dari sikapnya yang kukuh terhadap Baitul Maqdis (Yerusalem) dan situs-situs suci Islam.”

Dia mencatat dalam konteks yang sama bahwa “kami terikat dengan Baitul Maqdis (Yerusalem) secara historis dan keagamaan yang mengharuskan kami menolak konferensi mana saja dan perjanjian apa saja. Ikatan sejarah dan hubungan keagamaan dengan Baitul Maqdis (Yerusalem) mewajibkan kami menolak konferensi apa pun dan kesepakatan apa pun yang mempengaruhinya.”

Keikutsertaan Darurat

Walid al-Ta’ani menganggap bahwa keikutsertaan Yordania di dalam konferensi ini adalah ‘darurat’, karena ikatan permasalahan Palestina dengan kerajaan (Yordania), hingga kita bisa melihat apa yang dihasilkan darinya agar kita bisa memutuskan apa yang akan kita perbuat setelah keluar dari konferensi tersebut.”

Otoritas Palestina dan berbagai faksi Palestina telah sepakat untuk memboikot Konferensi Bahrain, karena ini merupakan salah satu perangkat dari ‘Kesepakatan Abad Ini’, yang berdiri di atas pemaksaan terhadap rakyat Palestina, dengan keikutsertaan negara-negara Arab, untuk membuat konsesi yang tidak adil demi kepentingan penjajah Zionis.

Disamping Amerika Serikat dan Bahrain, beberapa negara lain seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengumumkan maksud mereka untuk ikut serta dalam Konferensi di Manama yang dihadiri pejabat tingkat menteri keuangan dan pengusaha. Sementara itu, Irak, Libanon, Palestina, bergabung dalam penolakan mereka ikut serta secara aktif dalam acara tersebut.

—————-

Sumber: www.mugtama.com, terbit: 21 Juni 2019, pukul 15: 46.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *