Kita dan Pemilu Legislatif di ‘Israel’

Pemilu legislative ‘Israel’ telah digelar. Hasil akhirnya diperkirakan akan didominasi oleh kelompok kiri dari partai Likud, Jewish Home, partai Shas dan lainnya.

Warga ‘Israel’ yang berhak memilih sebanyak 5.656.705 yakni yang berusia 18 tahun lebih. Jumlah ini meningkat dibanding pemilih di pemilu sebelumnya. Di antara ‘Israel’ yang berhak memilih 22% nya adalah warga Arab asli yang tinggal di wilayah 1948 yang kemungkinan besar akan memilih Faksi Arab Bersatu.

Pemilu ‘Israel’ saat ini berbeda karena sedang di kepung oleh Arab Spring. Disamping itu, adanya perubahan perubahan peta kepartaian internal ‘Israel’ yang lebih memenangkan kelompok ekstrim kanan. Sementara partai poros tengah mengalami kemunduran juga partai kiri zionis.

Namun demikian tidak ada yang bisa dipastikan dalam pembentukan pemerintahan di ‘Israel’. Sebab arena politik ‘Israel’ selalu memberikan kejutan soal koalisi politiknya antar partai.

Partai Likud yang beraliran kanan ideologis kebangsaan merasa yakin bisa membangun koalisi dengan partai Israel Betenu yang dipimpin oleh yahudi ekstrim Avigdor Lieberman. Karena itu Benjamen Netanyahu, ketua Likud rela memberikan janji kursi cabinet kepada koleganya meski dengan suap.

Sementara itu partai Buruh dan partai berhaluan kiri tengah akan berada di urutan kedua. Kelompok ini juga diperkirakan juga akan memungkinkan berkoalisi dengan pemerintah Netenyahu.

Kita dan Pemilu ‘Israel’

Yang menjadi perhatian kita adalah suara Fraksi Arab dan peran warga Arab asli dalam pemilu legislative di ‘Israel’ yang bisa berjuang dalam menghadapi politik ‘israelisasi’ yang akan melunturkan identitas kebangsaan Palestina di wilayah jajahan 1948.

Selama ini warga Arab di Israel berhasil melakukan keseimbangan dengan zionis ‘Israel’ yang berusaha mengisraelkan mereka selama decade-dekade lalu pasca tahun 1948. Mereka mampu menahan laju RUU kejam. Termasuk Undang-undang Kewarganegaraan yang rasis sebagai wujud pembangunan ideologi dalam negara, undang-undang deklarasi kemerdekaan dan undang-undang hak kembali yahudi di tahun 1950 yang menegaskan kepada setiap yahudi ke Palestina.

Warga Palestina di wilayah 1948 membuktikan ketegaran mereka menghadapi Israel melarang hak keterlibatan politik warga Arab dan hak bersuara dan mencalonkan diri di Knesset. Sayangnya selama ini suara Arab selalu terpecah dan warga Arab di Israel yang melakukan boikot pemilu cukup tinggi. Mereka sudah tidak percaya kepada lembaga legislative Israel.

Namun sebenarnya suara warga Arab dalam pemilu Israel sangatlah penting untuk melakukan perjuangan melawan proyek zionis dan israelisasi. Suara Arab di Kneseet juga menjadi podium perlawanan menghadapi diskriminasi Israel. (infopalestina.com)

Ali Badwan – Al Wathan Qatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *