Kiblat Pertama yang Dizalimi

Terhitung sejak pekan kedua bulan Juli, sudah dua kali waktu Jumat Masjidil Aqsha dikosongkan dari jama’ah. Tentara Zionis Israel memasang electronic gates sebagai syarat masuk bagi umat Islam yang ingin sholat di masjidil Aqsha. Tindakan ini bukan saja sebagai bentuk penghinaan, tetapi juga sebuah kezaliman terbesar dengan menghalangi umat beribadah di dalam masjid.

Sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam Al-Quran, surat Al-Baqarah ayat 114 yang artinya: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.”

Di saat bersamaan, para pemukim ilegal Yahudi diberikan keleluasaan untuk menistai Al-Aqsha. Mereka mendapatkan pengawalan aparat Israel untuk melakukan ritual Yahudi di dalam masjid. Zionis benar-benar memanfaatkan momen perseteruan ini untuk menguasai kiblat pertama umat Islam, dan melakukan tindakan apapun di dalamnya sesuka hati mereka.

Sikap jama’ah Al-Aqsha menolak melewati electronic gate merupakan sebuah bentuk perlawanan, menolak permintaan penjajah yang ingin menghinakan umat Islam. Mereka lebih memilih sholat di luar masjid, dengan jama’ah yang jumlahnya ribuan. Kumpulan massa seperti ini tentu membuat ciut nyali penjajah, untuk menghapuskan rasa cemas, aparat Israel membubarkan jama’ah secara brutal. Tindakan ini menyebabkan beberapa orang jama’ah gugur dan ratusan lainnya terluka, termasuk Imam dan Khatib Masjidil Aqsha, Syaikh Ikrimah Shabri.

Kondisi buruk di Al-Aqsha saat ini paling tidak memberikan tiga pelajaran. Pertama, rakyat Palestina semakin berani menghadapi penjajah Israel, jiwa mereka dikorbankan demi membela masjidil Aqsha yang hakekatnya adalah masjid muslim sedunia. Kedua, apa yang dilakukan oleh penjajah Israel dengan melarang orang sholat di dalam masjid, melarang azan berkumandangan serta pengepungan terhadap Al-Aqsha, hanyalah bagian dari agenda utama mereka selama ini, yaitu merobohkan masjidil Aqsha dan menggantinya dengan Kuil Sulaiman.

Umat Islam harusnya sadar akan kondisi seperti ini, sehingga dapat melakukan pencegahan sedini mungkin terhadap agenda perobohan tersebut. Bukan rahasia lagi pihak penjajah telah membuat banyak terowongan di bawah tanah Al-Aqsha, saat ini mereka sedang menunggu detik-detik pondasi masjid mulia itu rapuh, sehingga roboh dengan sendirinya.

Ketiga, dunia Islam kembali diuji tentang komitmen mereka memperjuangkan kemerdekaan Palestina khusunya membebaskan masjidil Aqsha dari penjajahan Israel. Naifnya, beberapa negara di Teluk justru disibukkan urusan politik mereka, sibuk memojokkan tetangganya, Qatar, bahkan melakukan pemboikotan. Apalagi syarat normalisasi hubungan yang disodorkan adalah meminta Qatar putus hubungan dengan faksi pejuang Palestina, sehingga mengundang tanda tanya besar, kemanakah keberpihakan para pemboikot itu dalam permasalahan Palestina?

Dari kondisi ini bisa kita simpulkan, tidak ada solusi terbaik terhadap permasalahan Al-Aqsha melainkan bersatunya umat Islam dalam satu barisan. Pijakan ideologis sudah seharusnya menjadi bara kebangkitan umat, mengesampingkan berbagai bentuk perbedaan. Setiap individu muslim harus mengambil peran di bidangnya masing-masing dengan satu tujuan yang sama, yaitu kembalinya tempat isra-nya nabi itu ke pangkuan umat Islam. (Muhammad Syarief)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *