Ketahanan Pangan di Negeri Para Nabi yang Terjajah

Tak lama setelah Hamas memenangkan pemilu legislatif palestina dan memegang kendali di jalur Gaza tujuh setengah tahun yang lalu, seorang pejabat israel bernama Dov Weisglass, yang merupakan penasihat perdana menteri saat itu Ehud Olmert, membocorkan rencana reaksi mereka menanggapi kejadian ini;  “Idenya adalah dengan menempatkan (atau memaksa warga) Palestina berdiet, tetapi bukan untuk membuat mereka mati kelaparan.”

Penjajahan di tanah Palestina, telah membuat wilayah tersebut amat tergantung dengan kebijakan penjajahnya, Israel, terkait keluar masuknya bahan makanan. Seperti yang dilansir sebuah artikel yang diterbitkan The National di Abu Dhabi berjudul “Israel Formula’s for a Starvation Diet″ (Formula Israel untuk Pola Malam Kelaparan-terj) yang ditulis Jonathan Cook, seorang jurnalis di kota Nazareth, memaparkan sejumlah bukti kuat bahwa ide membuat rakyat Palestina ‘berdiet’ benar-benar jadi kebijakan Zionis ‘Israel’.

Cook yang juga penulis buku yang berjudul Disappearing Palestine: Israel’s Experiments in Human Despair (Upaya penghilangan Palestina: Eksperimen Israel mengenai Keputusasaan Manusia-terj) penerbit Zed Books menyebutkan, para pejabat kesehatan telah menghitung jumlah kalori minimum yang dibutuhkan oleh 1,5 juta warga Gaza untuk, setidaknya, menghindari bencana kekurangan Gizi. Angka-angka itu kemudian diterjemahkan pada jumlah truk-truk pengangkut makanan dari Zionis Israel yang seharusnya masuk ke Gaza setiap harinya.

Warga Gaza rata-rata membutuhkan 2.279 kalori per hari untuk menghindari kekurangan gizi. Artinya dibutuhkan minimal 170 truk pembawa makanan setiap harinya. Pihak militer Zionis Israel secara sistematis mengurangi jumlah kebutuhan kalori. Saat ini, hanya ada 67 truk pembawa makanan yang masuk ke Gaza setiap harinya. Jumlah itu tidak sampai setengah dari seharusnya. Dahulu, sebelum Hamas menguasai Jalur Gaza, rata-rata 400 truk makanan masuk setiap harinya.

Selain mengurangi jumlah masuknya truk makanan, aparat Zionis Israel di perbatasan juga secara sengaja menunda masuknya truk-truk tertentu yang berakibat terlalu lamanya berton-ton bahan makanan terpapar sinar matahari hingga akhirnya membusuk.

Laporan Cook yang mengutip dokumen yang disebut “dokumen Garis Merah” juga mengungkapkan, bahwa truk-truk makanan yang mengandung nutrisi dua kali lebih rendah dibiarkan masuk jauh lebih banyak daripada truk-truk pembawa susu, buah-buahan, dan sayuran.

Robert Turner, Direktur UNRWA (badan PBB untuk urusan pengungsi Palestina) di Jalur Gaza menuturkan impor pangan di Gaza telah berada di bawah “garis merah”. Yang pada akhirnya, bahkan tidak dibutuhkan seorang ahli gizi untuk membuktikan kebijakan diet Zionis Israel ini berdampak pada kekurangan gizi terutama di kalangan anak-anak karena hal ini sudah sangat terang terjadi.

Masih menurut Cook, tujuan utama strategi melaparkan rakyat Gaza ini dimaksudkan untuk mendorong terjadinya keresahan di kalangan rakyat Gaza, sehingga kemudian memberontak terhadap pemerintahan Hamas yang dipimpin oleh Perdana Menteri Ismail Haniyah.

Swasembada pangan merupakan hal yang hampir mustahil terjadi di Palestina. Sejak dimulainya pengusiran warga asli palestina pada hari nakba 15 mei 1948 (kemerdekaan israel), lebih dari 85 % wilayah Palestina atau setara dengan 20.770 km2 telah dikuasai Israel, menyisakan dua wilayah palestina yang terpisah yakni Tepi barat 5.878 km2dan Jalur Gaza 363 km2 (Badan Statistik palestina, Mei 2012). Wilayah yang diambil ini meliputi sumber daya alam yang terdiri atas ribuan hektar ladang kurma, zaitun, anggur, delima, tin dan berbagai tanaman lain.

Dalam keterbatasan mereka sebagai bangsa yang dijajah, warga Palestina tetap berjuang untuk menggiatkan potensi pangan mereka dengan berladang di tanah mereka yang tersisa. Salah satu komoditas yang paling istimewa adalah: Zaitun. Pohon Zaitun merupakan salah satu faktor ketahanan pangan Palestina dan juga salah satu bahan konsumsi terpenting bagi warga Palestina. Dalam sejarah penjajahan Yahudi atas bumi Palestina, penghancuran lahan-lahan kebun Zaitun di Tepi Barat dan Jalur Gaza, memiliki fokus penting dalam target serangan militer negara Zionis ini. Karena Zaitun merupakan salah satu simbol terpenting bagi perjuangan dan pengakaran sejarah di tanah Palestina. Kementrian Pertanian lokal memperingatkan bahwa sejumlah besar rudal Israel mengandung bahan peledak dan zat beracun dapat merusak tanah pertanian dan lapisan air dalam tanah.

Pemukiman Yahudi juga memberikan dampak buruk yang besar pada pertanian palestina. Bulan Juli 2013 lalu, seperti yang disebutkan Harian Republika, seluas 100.000 m2 lahan pertanian milik warga Palestina di Tepi Barat,dibanjiri air limbah oleh pemukim Yahudi dari bagian barat Bethlehem di atas tanah desa Hausan, menghancurkan lahan-lahan pertanian Lembah Fukim dan Nahalin. Tercatat pula pada pada Oktober 2010 dan April 2011, dilaporkan bahwa para pemukim Yahudi di permukiman dekat Etzion, Jerusalem Selatan, telah sengaja membuka gerbang kolam pembuangan air limbah di permukiman mereka pada malam hari, yang akhirnya membanjiri perkebunan anggur warga Palestina di utara Beit Ummar, Tepi Barat.

Tembok pemisah israel sepanjang 435 mil yang dibangun sebagian besar di dalam wilayah Tepi Barat, menjadi bangunan mengerikan yang melambangkan satu-satunya sistem apartheid  yang masih diterapkan di zaman modern. Selain untuk memisahkan penduduk Yahudi dengan penduduk palestina, tembok ini tercatat menjadi penyebabnya tenggelamnya kota Qalqiliya beserta lahan pertaniannya akibat banjir pada Januari 2013, memusnahkan infrastuktur kota, pohon-pohon dan tanaman. Hal ini ironis, karena pada tahun 2004, Mahkamah Internasional memutuskan bahwa tembok pemisah itu ilegal dan, tentu saja, arogansi pihak Zionisme telah mengabaikannya.

Perikanan laut pun tak bisa menjadi harapan dalam menyokong ketahanan pangan di Palestina. Para nelayan termasuk lapisan warga yang paling berat menjalani hidup akibat penjajahan di Palestina, khusunya Jalur Gaza. Pada perjanjian Oslo, Zionis menyetujui bahwa zona perikanan Palestina adalah 20 mil dari lepas pantai Gaza. Tetapi nyatanya, mereka hanya memberlakukan batas 3 mil selama beberapa tahun, dan menembaki nelayan Palestina yang mereka klaim telah melanggarnya. Batas 3 mil ini, bukanlah sebuah wilayah yang kaya akan ikan laut. Zionisme telah menguasai perairan Gaza sejak pendudukan wilayah tersebut pada tahun 1967. Dan telah menempatkan beberapa kapal perang lengkap dengan senjata yang diarahkan ke perahu nelayan di lepas pantai itu sejak tahun 2008 hingga sekarang.

Mengutip Ma’an News Agency, Seorang Pejabat Komite Kerja Agraria Palestina, Abu Zakariya Baker mengatakan, Israel telah menyiksa, menembak, dan menewaskan para nelayan Palestina sejak blokade tersebut diperketat. Israel telah mempraktekkan segala macam penghinaan psikologis terhadap para nelayan Palestina yang seringkali mencopot pakaian mereka saat proses penangkapannya. Bahkan pada saat musim dingin yang ekstrim.

Menurut Biro Pusat Statistik Palestina, sekarang ini 10,7% anak-anak Gaza berusiadi bawah lima tahun pertumbuhannya terhambat karena kekurangan gizi kronis. Program Pangan Dunia memperingatkan, bahwa pada November 2008 kurang dari setengah dari kebutuhan makanan impor Gaza belum dipenuhi. Kebutuhan pangan dasar, termasuk diantaranya biji-bijian gandum, minyak sayur, produk susu dan susu bayi telah berada dalam kuantitas yang mengkhawatirkan. Beberapa keluarga sudah tidak mampu lagi membeli daging. Tingkat anemia meroket hampir 80 persen dibanding tahun sebelumnya. UNRWA dicatat pada sekitar waktu yang sama bahwa pertumbuhan anak-anak belia (remaja) telah melambat, karena jatah pangan mereka hanya tercukupi 61 persen dari apa yang seharusnya mereka lengkapi.

Satu masalah utama di Jalur Gaza adalah bahwa wilayah yang dikurung ini memiliki keterbatasan sumber daya alam yang cukup untuk memproduksi makanan. Penduduk di sana tidak dapat menanam berbagai buah-buahan dan sayuran yang dibutuhkan untuk penduduk dan anak-anaknya. Wilayah ini tidak pernah memiliki program diet yang seimbang dikarenakan kesewenangan Zionisme Israel. Pendapatan yang sangat rendah, langka dan mahalnya biaya makanan telah memberikan kontribusi penting terhadap kerawanan pangan yang tinggi di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Namun tanpa perubahan dalam situasi kependudukan israel atas palestina saat ini, satu-satunya solusi tetap adalah bantuan darurat kemanusiaan dari luar wilayah Palestina dan terus bertahan. 

 

Ardi Kushardian Muhammad

Tim Kajian Aspac for Palestine

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *