Kepergian Avitar: Kemenangan Palestina atas Pemukiman

Seperti zaman dahulu kala Jabal Subaih kembali lengang.

Pohon zaitun Romawi tua tegak sendirian di tempat yang tinggi.

Angin menarik-narik ranting-rantingnya yang lebat ke kiri dan ke kanan.

Seolah bahagia dengan kepergian “awan hitam” yang bertengger di atasnya selama berhari-hari,

lalu pergi di tengah kegelapan malam.

 

Nablus, 20-02-2018. Saat fajar pada hari Selasa, pasukan pendudukan Israel menghancurkan sebuah pos penjagaan pemukiman yang dibangun oleh pemukim Israel di tanah Palestina awal bulan ini.

Subuh Selasa ini bukan seperti hari-hari sebelumnya yang telah dilalui oleh penduduk di desa-desa Selatan Nablus yang terletak di Utara Tepi Barat, setelah Penjajah Israel mencabut Pos Penjagaan (Avitar) yang mereka bangun secara paksa di atas lahan pribadi warga Palestina awal bulan ini.

Sebagaimana bagi Haji Muhammad Khubaisha (Abu Mustafa) ini bukanlah hari seperti biasanya setelah dicabutnya pos itu atau yang dinamakannya “mimpi buruk”. Dia amat gembira saat menelpon kami pagi ini, setelah hilang kesedihan yang menemaninya di hari-hari kemaren. Dia membimbing kami ke tanah perkampungannya yang terus dirayapi pemukiman (Yahudi).

Sejak pendirian Avitar, warga desa di Palestina tidak pernah merasakan ketenangan, yang mereka ekspresikan dalam bentuk protes kemarahan hingga bentrok dengan tentara Israel. Puluhan warga terluka ditembak timah panas. Dan Perkampungan mereka ditutup dengan sitar dari tanah, namun ini tidak membuat mereka bosan dengan pertarungan tersebut, maka digunakanlah cara-cara legal dan kerakyatan untuk mengusir para pemukim.

 

Evakuasi

Seperti api di alam liar, berita tentang kepergian para pemukim menyebar dari desa itu. Abu Mustafa yang dikuasai oleh rasa “kemenangan”, sebagaimana warga lainnya, bersegera untuk melihat dengan mata sendiri proses evakuasi yang ditentang para pemukim (Yahudi). Pemukim itu menyerang warga Palestina dengan senjata mereka meski para tentara membongkar pos penjagaannya.

Situasi yang sama dialami oleh Abu Mustafa sekitar dua dekade yang lalu, ketika dia diserang oleh sekelompok tentara dan berusaha mengusirnya dari tanah miliknya dan mengklaim bahwa itu adalah “zona militer,” tapi dia menolak. Mereka menahannya beberapa jam sebelum seorang perwira datang dan mengatakan kepadanya dalam bahasa Arab yang kacau”tidak ada yang bisa mengusir Anda dari tanah Anda.” Pria itu berkata.

Abu Mustafa tidak memerlukan kesaksian dari seorang perwira Israel untuk mengakui haknya atas tanahnya sendiri, namun kejadian itu semakin memperkuat keyakinannya yang mutlak untuk selalu mempertahankannya dan menolak rencana Penjajah dan para pemukimnya (Yahudi) untuk mengambil kendalinya. Kadang-kadang Israel menjadikan lahan miliknya sebagai landasan turunnya helikopter dan kadang mengalihkannya jadi titik militer bagi tentara, dan terakhir dibangun pos penjagaan pemukiman Yahudi di atas tanah miliknya tersebut.

Dia menunjuk ke tanah miliknya dengan tongkat kayunya. Dia katakan bahwa proyeknya untuk menyuburkan tanahnya belum berhenti dan akan dimulai hari ini. Dia masih mengingat dengan jelas tanaman yang ditanamnya bersama ayahnya pepohonan Zaitun dan pembangunan rangkaian bebatuan. Dia tidak akan pernah meninggalkan tanahnya itu sejengkalpun meski harus dibayar dengan nyawanya.

Seperti Abu Mustafa, kakek yang sudah uzur bernama Abu Ayesh, juga ingin pergi melihat tanah miliknya, tapi kondisi kesehatannya membuat hal itu tidak memungkinkan lagi. Sementara para pemuda desa tersebut mendaki jalan-jalan yang kasar dan pegunungan untuk bisa sampai ke tanah mereka ” yang tidak terjajah.”

 

Tidak Dijual

Haji Atsumanini Abu Ayesh menafikan dirinya atau warga lainnya untuk menjual walau sejengkal dari tanah mereka. Dan dia mengatakan bahwa mereka memiliki surat-surat resmi yang membuktikan kepemilikan mereka atas tanah tersebut.

Namun, dokumen-dokumen ini perlu dilegalisasi di kantor-kantor resmi Palestina (At-Thobu), terutama karena lahan mereka ini menjadi sasaran penataan Penjajah Israel di wilayah (C) yang tunduk dibawah kekuasaan militer. Dan inilah yang menghalangi registrasinya, ditambah lagi tiadanya kekuatan finansial untk menjalankan proyek perbaikan dan penyuburan di sana.

Warga dan Walikota Bayt, Fu’ad Maal, percaya bahwa kepemilikan mereka atas tanah tersebut dan tiadanya pengalihan kepada pihak lain walaupun sejengkal menguatkan posisi kasus mereka dan melemahkan posisi pemukim (Yahudi) yang biasanya merayu warga Palestina untuk menjual tanah milik mereka.

Menurut walikota, upaya legal an formal akan fokus pada penyelesaian tanah di Jabal Subeih sebelum lahan lainnya di desa tersebut, untuk memperkuat perluasan tata kota dan fasilitas (jalan) yang bisa menjangkaunya. Sebagaimana Badan-badan yang menyokong pembangunan jalan dan perbaikan tanah agar bergerak langsung “karena bahaya pemukiman (Yahudi) masih terus mengancam.”

 

Senjata Warga

Ancaman ini dikonfirmasi oleh pakar permukiman Palestina Khalil al-Tafkaji, yang mengungkapkan kepada Aljazeera tentang rencana Israel yang membayangi seluruh lokasi tersebut, kendati sdh dilakukan evakuasi pos pemukiman tersebut. Tafkji menjanjikan “kepemilikan pribadi” akan senjata ke tangan para pemilik tanah untuk mempertahankan hak mereka dan “even yang lebih besar” untuk menentang upaya Yahudisasi Israel daerah itu.

Namun, dia memperingatkan warga agar tidak melakukan sesuatu yang membuat Penjajah Israel punya alasan menerapkan hukum Inggris tahun 1943 yang memungkinkannya melakukan penyitaan properti pribadi demi kepentingan umum atau alasan zona militer tertutup dan tidak menerbitkan kepemilikannya dengan dalih milik negara, dan ini memerlukan kerja berlipat di tingkat legal dan nasional.

Karena alasan ini, Abu Mustafa dan warga desa akan terus bepacu dengan waktu untuk mengambil kembali tanah hak milik mereka, mengambil kesempatan dari setiap langkah yang akan membawa mereka ke jalan kemenangan secara penuh. Bahkan jika ini memerlukan pengambilan tanah pemukim (Yahudi) – terlebih lagi warga asing – sebagai bagian dari tanah bumi warga Palestina dan pelestariannya (Aljazeera/i7).

———-

Keterangan Foto: Bagian pos penjagaan Avitar sebelum dihancurkan (Aljazeera)

 
 

About Kholid Abdullah

Kholid Abdullah bekerja sebagai tutor Bahasa Inggris dan Bahasa Arab di beberapa lembaga swasta. Selain mengajar, aktifitas harian yang rutin dilakukannya adalah melakukan alih bahasa dari media berbahasa Inggris dan Bahasa Arab untuk mengisi konten situs ASPAC (Asia Pacific Community for Palestine). Saat ini Kholid sedang menyusun sebuah ebook “Antologi Puisi & Nyanyian Perlawanan Palestina”. Untuk mengirim pesan kepadanya, bisa melalui email: interiorasap@gmail.com.
View all posts by Kholid Abdullah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *