Keluarga Tokoh Jamal Natasyah 20 Tahun Hari Raya Ied Tanpa Kehadirannya

Setiap kali hadir hari raya ied, keluarga merasakan kehilangan sang suami, ayah maupun anak yang berada dalam tawanan penjajah zionis, mereka merupakan pejuang bangsa yang tidak mendapatkan perlakuan manusiawi dari penjajah.

Hari raya yang seharusnya mereka bersuka cita dalam kegembiraan, namun ketidakhadiran sang ayah, hati mereka merasakan kesedihan mendalam.

Ustadzah Ahlam Sya’rawi “Ummu Humam” isteri dari tokoh Muhammad Jamal Natasyah, aleg asal Hamas di parlemen kota Hebron, menegaskan, kebahagiaan idul adha hilang dari rumah mereka sejak beberapa tahun lalu.

Penjajah zionis dan aparat keamanan Palestina menawan Abu Humam sejak 15 tahun lalu di dalam sel penjara, namun semangat perjuangan diri dan keluarganya tidak pernah luntur.

Kepada koresponden Pusat Informasi Palestina, Ummu Humam menyebutkan, sejak beberapa tahun ini keluarga kami kehilangan rasa gembira, sejak saat pasukan penjajah zionis menangkap suaminya dan beberapa kali ditawan di pusat interogasi.

Penangkapan yang sulit hilang bayangannya dari benak kami terjadi pada tahun 2001 lalu, dengan vonis 9 tahun yang beliau hadapi dalam kondisi sangat sulit, 6 tahun setengah berada dalam penjara isolasi.

Menurut Ummu Humam, setiap kali suaminya dibebaskan, segera menjadi sasaran penangkapan kembali dan divonis sebagai tahanan administratif tanpa dakwaan dan tanpa vonis. Lebih dari 20 hari raya kami lewati dengan perasaan rindu mendalam, namun pihak penjajah tidak mengijinkan kami untuk menikmati kebahagiaan.

Hari-hari tersulit yang kami lalui saat puteri kami (wala) menikah, sementara ayahnya mendekam di penjara, dimana ia pergi menuju rumah suaminya tanpa kehadiran ayahnya, dan tahun demi tahun sang ayah belum pernah mengunjunginya.

Kemudian putera-puteranya menikah di tengah ketidakhadiran ayahnya, demikian kondisi kami di tengah berlangsungnya penjajahan.

Meski semua penderitaan tersebut, Ummu Humam menyatakan, suaminya Abu Humam tetap semangat berjuang, beliau adalah pemimpin dan dai, sekaligus politisi yang memperjuangkan kepentingan bangsa dan tanah air, untuk tujuan mulia inilah masa mudanya dihabiskan.

Ummu Humam menyebutkan, suaminya merupakan orang yang sangat menyayangi anak-anak dan keluarganya, tetapi ia lebih mencintai agamanya, karena itulah ia rela berkorban dalam melayani umat, bangsa dan agamanya. Dan dengan penuh keyakinan Ummu Humam menyatakan, waktu pembebasan sudah dekat.  (infopalestina)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *