Kekhilafahan Terakhir di Baitul Maqdis

عَنْ ابْنِ زُغْبٍ الْإِيَادِي قَالَ نَزَلَ عَلَيَّ عَبْدُ اللهِ بْنُ حَوَالَةَ الْأَزْدِي فَقَالَ لِي بَعَثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لِنَغْنَمَ عَلَى اَقْدَامِنَا فَرَجَعْنَا فَلَمْ نَغْنَمْ شَيْئًا وَعَرَفَ الْجَهْدَ فِي وُجُوْهِنَا فَقَامَ فِيْنَا فَقَالَ اللَّهُمَّ لاَ تَكِلْهُمْ إِلَيَّ فَأَضْعُفَ عَنْهُمْ وَلاَ تَكِلْهُمْ إِلَى أَنْفُسِهِمْ فَيَعْجِزوا عَنْهَا وَلاَ تَكِلْهُمْ إَلَى النَّاسِ فَيَسْتَأْثِرُوْا عَلَيْهِمْ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِي أَوْ قَالَ عَلَى هَامَّتِي ثُمَّ قَالَ يَا ابْنَ حَوَالَةَ إِذَا رَأَيْتَ الْخِلَافَةَ قَدْ نَزَلَتْ أَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ فَقَدْ دَنَتِ الزَّلاَزِلُ وَالْبَلاَبِلُ وَالْأمُوْرُ الْعِظَامُ وَالسَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنَ النَّاسِ مِنْ يَدِيْ هَذِهِ مِنْ رَأْسِكَ.

Dari Ibnu Zughbin Al-Iyadi berkata, Abdullah bin Hawalah Al-Azdi singgah ke kami dan berkata, Rasulullah saw. mengutus kepada kami untuk mengambil harta rampasan perang dengan berjalan kaki, namun kami pulang tidak membawa apapun. Kemudian beliau melihat kelelahan ada di wajah-wajah kami dan beliau berdiri di antara kami seraya berdoa, “Ya Allah janganlah Engkau serahkan mereka kepada diriku karena aku lemah, jangan serahkan mereka kepada diri mereka sendiri sehingga mereka pun melemah, dan jangan pula Engkau serahkan mereka kepada orang lain karena mereka akan mementingkan diri mereka sendiri daripada mementingkan mereka.” Kemudian beliau meletakkan tangannya ke kepalaku, atau di atas ubun-ubunku lalu beliau berkata, “Hai Ibnu Hawalah, apabila kamu menyaksikan kekhalifahan turun di bumi yang disucikan, sungguh saat itu telah dekat gempa bumi dan berbagai kegundahan serta urusan-urusan besar lainnya. Dan pada saat itulah hari Kiamat lebih dekat kepada orang-orang daripada tanganku ini ke kapalaku.”

Hadits ini dikeluarkan Abu dawud di Sunan Abu Dawud (2535), Albani di Shahih Sunan Abi Dawud (2535), Ahmad bin Hanbal, Albani di Shahih Al-Musnad (22548) Al-Hakim di Al-Mustadrak vol IV hal. 471 (8309). Ia berkata, hadits ini sanadnya shahih sesuai dengan pendapat Adz-Dzahabi dalam At-Takhlish (shahih).

Hadits ini termasuk nubu’at (prediksi kenabian) Nabi, dan pasti terjadi karena beliau tidak menyampaikan sesuatu kecuali itu adalah petunjuk dan wahyu Allah. Beliau mengabarkan kepada ummatnya tentang apa yang akan terjadi di akhir zaman sebelum terjadinya hari Kiamat. Yang berupa kembalinya kejayaan Islam berupa kekhilafahan. Tentu saja yang dimaksud kekhalifahan di sini selain kekhilafahan yang terjadi di zaman Bani Umayyah dimana kekuasaan mereka berpusat di negeri Syam. Sebab kekhilafahan yang dimaksud di hadits ini ditengarai oleh dekatnya hari Kiamat dengan terjadinya rentetan bencana, termasuk gempa bumi dan peristiawa besar lainnya.

Bagi kaum Muslimin yang beriman kepada Rasulullah saw., khususnya kaum Muslimin yang berada di kawasan negeri Syam, terlebih lagi yang berada di bumi yang disucikan, kota Al-Quds dimana disana terdapat Masjidil Aqsha, penderitaan yang mereka alami di zaman ini akibat penjajahan kaum Zionis pastilah berakhir. Perjuangan yang mereka lakukan dalam rangka membebaskan Bumi yang disucikan dari tangan-tangan kotor kaum imperialis pada akhirnya akan meraih kemenangan. Betapapun lama perjuangan mereka dan betapapun lemah kondisi mereka saat ini secara militer dan kekuatan materi serta financial bila dibandingkan dengan kekuatan musuh. Juga betapapun hancur negeri mereka dan terusir mereka dari negeri mereka saat ini, niscaya kemenangan itu akan datang, cepat atau lambat, suka atau tidak suka musuh-musuh agama ini. Allah pasti memilih diantara hamba-hamba-Nya sekelompok kaum yang berjuang membela agama-Nya, mereka yang lurus perjuangan mereka dan tak pernah goyah oleh hinaan para penghina dan celaan para pencela.

Hadits ini juga mengabarkan kepada kita tentang tanda-tanda hari Kiamat, yaitu dengan banyaknya terjadi gempa dan bencana-bencana alam besar. Sebagamana hal ini dikuatkan oleh hadits-hadits lain seputar tanda-tanda hari Kiamat.

Pelajaran dari Hadits

1.            Diantara konsekuensi keimanan kepada Rasulullah saw adalah membenarkan berita yang beliau sampaikan

2.            Tidak putus asa terhadap pertolongan Allah kendatipun kondisi kaum Muslimin berada pada titik kelemahan dan ketertindasan. Sebab pasti Allah akan memenangkan agama-Nya

3.            Harapan kemenangan para akhir perjuangan bangsa Palestina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *