Kartu Biru atau Kartu Merah

Kartu Biru atau Kartu Merah

 

Sepanjang tahun 1967-1994 Pemerintah Israel telah mencabut 12 ribu lebih kartu identitas penduduk kota al-Quds (Jerusalem). Akhir tahun 2012, terdapat setidaknya 20 ribu anak-anak di kota ini yang tidak bisa dimasukkan ke dalam Kartu Keluarga orang tuanya.

Terdapat dua jenis kartu bagi penduduk kota al-Quds. Kartu berwarna biru menjelaskan identitas kependudukan asli yang dikeluarkan oleh Departemen Dalam Negeri Israel. Belakangan kartu manual mulai diarahkan untuk diganti dengan e-ktp yang berbasis biometrik. Dalam beberapa rilis berita dikabarkan bahwa kartu tersebut bukanlah kartu identitas permanen, tetapi hanya merupakan kartu izin tinggal selama sepuluh tahun dan harus diperpanjang setelahnya setelah mendapatkan izin dari kementerian. Saat ini hanya terdapat 35 ribu saja penduduk Palestina di al-Quds yang memiliki jenis kartu seperti ini. Satu lagi jenis kartu berwarna hijau, yang dikeluarkan oleh otoritas Palestina. Inibelum beberapa jenis kartu lainnya yang mengatur secara khusus dan detil bagi penduduk kota al-Quds secara ketat. Saat ini terdapat sekitar 315 ribu penduduk al-Quds yang memiliki kartu hijau ini.

Lalu, apa makna klaim sepihak 6 Desember lalu dari Gedung Putih yang mendeklarasikan Jerusalem sebagai Ibukota bagi Israel?

1.       Resolusi internasional yang dikeluarkan PBB terkait situs-situs suci bagi Umat Islam dan kaum Nasrani di Jerusalem menjadi tidak berlaku, karena Israel mempunyai kendali penuh terhadap ibukotanya dan bisa melakukan apa saja.

2.       Israel akan membangun pangkalan militernya di “ibukota” rampasannya. Selain itu kantor kementerian dan kemudian gedung-gedung pemerintahan serta pusat-pusat strategis negara. Kemudian akan memaksa -sedikit demi sedikit- pemindahan kedutaan negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Tentu hal ini memerlukan wilayah fisik yang luas.

3.       Pemerintah Israel akan semakin leluasa membangun pemukiman dan bangunan-bangunan fisik lainnya di dalam kota al-Quds.

4.       Membatasi kunjungan umat Islam atau siapa saja yang hendak berkunjung ke al-Quds, bahkan bisa melarang siapa saja tanpa alasan yang definitif.

5.       Lebih dari 315 ribu penduduk asli Palestina di kota al-Quds terancam pengusiran dan aset-aset mereka bisa diambil alih kapan saja, dikarenakan mereka memiliki kartu hijau, bukan kartu identitas yang dikeluarkan pemerintah Israel.

6.       Sekitar 35 ribu penduduk Palestina di kota al-Quds hanya memiliki kartu identitas (biru) yang berarti maksimal memiliki izin tinggal hanya sepuluh tahun. Setelahnya, mereka belum tentu diizinkan tinggal kembali di kota al-Quds.

7.       Ribuan anak kecil Palestina yang namanya tidak tercantum di kartu keluarga terancam diusir. Dan tidak mungkin mereka akan keluar dari kota al-Quds sendiri. Setidaknya, salah satu dari keluarganya akan menyertainya jika suatu saat terjadi razia kependudukan.

8.       Situs utama umat Islam, Masjid al-Aqsha terancam dipunahkan dan dirampas identitasnya, secara bertahap. Jika selama ini sudah berhasil membatasi akses masuk bagi orang-orang yang hendak shalat, maka saat ini menjadi sempurna berkuasa penuh mengendalikannya. Dan jika nanti terlihat hanya sedikit saja yang shalat, dikarenakan sulitnya akses memasuki masjid,maka alasan penutupan masjid akan dibuat. Umat Islam terancam kehilangan amanah Allah untuk menjaga masjid suci ini.

Jika saat ini terjadi kemarahan global yang diakibatkan pernyataan sepihak seperti diatas. Maka sangat wajar. Karena kediktatoran sedang dipertontonkan. Sebuah kezhaliman didukung secara terbuka, tanpa rasa malu dan segan. Negara-negara muslim pun tak berkutik. Rekomendasi normatif KTT OKI –tanpa bermaksud mengecilkan- rasanya takkan mampu menghentikan penjajahan terang-terangan yang didukung oleh pihak-pihak yang selama ini mengagungkan hak asasi manusia. Orang-orang yang menganggap suci kebebasan dan kemerdekaan, telah merampas kedaulatan dan kebebasan orang-orang tak berdosa.

Jika, ada marah yang dibolehkan, inilah saatnya marah. Marah yang bermartabat. Kemarahan yang penuh maruah. Sebagaimana, Aisyah meriwayatkan sebuah hadis.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ وَلَا امْرَأَةً وَلَا خَادِمًا إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا نِيلَ مِنْهُ شَيْءٌ قَطُّ فَيَنْتَقِمَ مِنْ صَاحِبِهِ إِلَّا أَنْ يُنْتَهَكَ شَيْءٌ مِنْ مَحَارِمِ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Rasulullah SAW tak pernah sama sekali memukul sesuatu dengan tangannya, juga tidak pernah memukul wanita (istri), dan juga pembantu(nya). Kecuali saat berjihad di jalan Allah. Dan tidaklah beliau disakiti dengan sesuatu, lalu beliau membalas pelakunya, kecuali jika ada sesuatu di antara hal-hal yang diharamkan Allah dilanggar, maka beliau akan membalas dengan hukuman karena Allah”(HR Muslim no. 2328, Abu Dawud no. 4786, dan Ibnu Majah no. 1984).

Apa yang lebih buruk dari penjajahan, pengusiran, penistaan terhadap masjid suci al-Aqsha?

Sebelum mereka mengeluarkan kartu biru atau menahannya, mengusir pemegang kartu hijau dari al-Quds. Angkatlah dan berilah mereka kartu merah. WalLâhu al-Musta’ân.
 

Catatan Keberkahan 81

Jakarta, 16.12.2017

SAIFUL BAHRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *